Novel Hospital Crash-Fase 1
“DIANTARA
TEKANAN
DAN HARAPAN“
Krisis Sebagai Titik Balik
Di tengah kebekuan
atau kekacauan dalam rumah sakit, ada kesempatan untuk refleksi, perbaikan, dan
pertumbuhan. "Crash" dapat menjadi simbol dari kegagalan sistem yang
memunculkan pelajaran berharga.
“Brak!” Dokter Vito menghempaskan
tubuhnya ke sofa usang di pojok ruang jaga IGD, seraya menghela napas panjang
yang penuh dengan rasa frustrasi.
Ruangan sempit, tak lebih dari 3x3 meter, terasa menyesakkan, dengan tembok
kusam yang seolah merekam ribuan kisah lelah dan tangis. Pendingin ruangan tua
di sudut terus berderik tak sabar, disertai tetesan air yang jatuh satu per
satu, seperti detak waktu yang mempertegas keletihan semua yang ada di sana, dokternya, peralatannya, bahkan udara di
ruangan itu.
“Hari macam apa ini,” gumam Vito sambil
memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan kejadian tadi. IGD yang awalnya
tenang dan sunyi, tiba-tiba berubah menjadi arena kekacauan menjelang adzan
dhuhur. Suasana ruangan itu mendadak riuh, seperti pasar yang tengah bergelora
di hari pembagian sembako. Orang-orang berdesakan, suara teriakan bercampur
dengan tangisan, langkah kaki terburu-buru mengisi kekosongan ruang yang sempit. Bau obat dan keringat bercampur,
menambah sesak di dada. Vito merasa seolah-olah seluruh dunia menggulung di
sekelilingnya, dan ia, sebagai pengendali di tengah badai itu, berdiri terjepit
di antara panik dan kewajiban.
Di
balik kesal yang tergurat di wajahnya, dokter Vito adalah sosok yang tak asing
bagi mereka yang bekerja di IGD itu. Seperti takdir yang sudah digariskan,
setiap kali ia bertugas, seolah langit mengguyur segala masalah. Pasien
berjejer, kadang dengan keluhan yang membingungkan, sesekali kasus darurat yang
menguji kecepatan dan ketepatan tangannya. Meskipun keluarganya adalah kalangan
berduit, Vito tidaklah sombong. Ia dikenal baik hati, dengan senyum lebar yang
seolah menjadi senjata ampuhnya. Tak jarang, ia memanjakan diri dengan sikap
sok ganteng yang membuat sebagian orang berdecak. Namun di balik pesona itu,
ada dedikasi yang besar dan keinginan untuk membuat perbedaan, meski harus
bertarung dengan segala kerumitan dan tekanan yang menunggu di setiap sudut
ruang jaga.
"Dok, pasien baru di bed lima," suara Prita, perawat IGD yang terkenal ramah sekaligus centil, memecah lamunannya. Ia berdiri di pintu dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. Vito mengangkat alis tanpa menyembunyikan rasa enggan.
“Bed
lima, pasien apa lagi?” tanyanya datar.
"Pasien
perempuan, histeris, nyeri perut,” jelas Prita.
Vito
menghela napas panjang. Kepalanya sudah penuh dengan keinginan segera kabur
dari IGD dan menikmati waktu luang. Pemandangan tumpukan berkas rekam medik di
meja yang belum semuanya terisi, seakan seaakan menambah beban berat di
pundaknya.
“Kamu
sudah tahu keluhannya lebih lanjut?” tanyanya, nada suaranya mengusung
keengganan yang sulit disembunyikan. Sebuah angin dingin menyusup melalui celah
AC yang tak sepenuhnya dingin, membuat ruangan itu terasa semakin sempit,
seakan mengintensifkan ketegangan di antara mereka.
"Belum, Dok. Kan tugasnya dokter buat periksa,"
jawab Prita dalam hati, walau mulutnya berkata, “Saya kurang paham, Dok.”
"Hah,
ya sudah. Temani aku periksa," ujar Vito akhirnya sambil bangkit dari
sofa. Prita bersemangat mengikuti, matanya berbinar, merasa ini peluang untuk
lebih dekat dengan dokter muda tampan itu.
Mereka
tiba di sisi pasien. Seorang perempuan muda berwajah pucat terbaring dengan
tangan mencengkeram perut bagian bawah. Di sampingnya berdiri seorang pria
paruh baya, wajahnya mencerminkan kecemasan.
"Selamat
siang, saya Dokter Vito, dokter jaga IGD. Saya akan memeriksa Anda,” katanya,
mencoba terdengar ramah. Ia tersenyum, meski di dalam hati sudah merasa lelah.
Prita,
yang berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap gerakan Vito. Wajahnya merona
saat melihat senyum manis dokter itu. Hatinya berbicara sendiri, "Duh, manis banget senyumnya!"
Lamunan itu mendadak buyar saat Vito menginjak kakinya pelan untuk
membangunkan.
“Nama
siapa, Mbak?” tanya Vito kepada pasien, sambil membaca gelang identitas yang
melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan tepat identitas tidak salah
pasien.
"Dyah,
Dok," jawab pasien lemah. Dia meringis, menahan sakit. Vito mulai bertanya lebih rinci tentang gejala
yang dirasakan. Namun, jawaban Dyah yang singkat dan keluhan rasa sakitnya
membuat suasana sedikit memanas.
“Dok,
cepat obati! Jangan cuma tanya-tanya terus!” sergah Dyah tiba-tiba.
Vito
hanya tersenyum tipis, mencoba menahan rasa sebal. Tapi ia tidak menduga bentakan
dari pria di sebelah pasien. Bentakan yang menambah kaget dan menggores harga
dirinya sebagai seorang dokter, tetapi Vito tetap berusaha sabar, sebuah
pilihan walau kadang menyakitkan.
"Dok,
bisa nggak sih?! Kalau nggak bisa, saya bawa pulang saja!" suara pria itu
melengking di ruang IGD.
“Bapak
ini siapanya pasien?” tanya Vito, dalam kesabaran menahan emosi.
“Bapaknya!”
jawab pria itu dengan ketus.
Vito
menarik napas panjang. “Bapak sabar dulu, ya. Saya sedang berusaha menentukan
diagnosa supaya pengobatan tepat,” jelasnya pelan, lalu meninggalkan tempat
untuk mengisi rekam medis.
Di
meja dokter, Vito duduk dengan ekspresi serius, tatapannya tajam meneliti
catatan pasien. “Belum menikah? Masa sih
KET?” pikirnya, sejenak membayangkan kemungkinan yang tak terduga. Namun,
ia segera menggelengkan kepala, menepis angan-angan itu. Di zaman sekarang,
segala hal bisa saja terjadi—dan siapa yang tahu, mungkin hari ini pun tak ada
yang benar-benar mustahil.
“Periksa
Hb serial dan tes urin untuk kehamilan,” ucapnya, suaranya tegas, penuh
tekanan, membelah keheningan ruang sempit itu seperti guntur yang mengusir
bisu. Ruangan itu, seakan terjaga dari tidur panjangnya, menunggu tindakan yang
bisa mengubah segalanya.Di meja dokter, Vito melontarkan perintah kepada Prita.
“Periksa Hb serial dan tes urin untuk kehamilan,” katanya tegas.
Prita
sedikit terkejut mendengar perintah itu. Dalam benaknya ia berpikir, "Apa mungkin ini KET?"
Kehamilan Ektopik Terganggu—diagnosis yang mulai terlintas di kepala Vito.
Kondisi ini bisa berbahaya jika kantong kehamilan pecah, menyebabkan perdarahan
dalam dan bahkan syok pada pasien.
Prita
termenung, pikirannya terperangkap dalam bayangan pasien muda yang belum
menikah. Suasana di ruang jaga mendadak diselimuti kesunyian, hingga suara
Prita menggema dan memecah keheningan.
“Dokter,
laporan!” teriaknya dengan nada yang lebih tegas, membangunkan Vito dari
lamunannya.
Vito
mendongak, mata cokelatnya tajam menatap Prita yang berdiri dengan ekspresi
penuh tanda tanya. “Bagaimana hasilnya?” tanyanya, suaranya serius dan penuh
perhatian.
Prita
menghela napas, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. “Hb-nya turun, Dok.
Dari 12 ke 9. Dan… tes kehamilannya positif,” jawabnya, wajahnya kini
mencerminkan kebingungan yang dalam.
"Positif?"
Vito mengulang, memastikan dirinya tidak salah dengar. "Wah, benar ini KET," pikirnya. Wajahnya sedikit tegang,
memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus segera menghubungi konsultan
kandungan—dokter Tommy, yang dikenal perfeksionis sekaligus hobi marah-marah.
“Prita,
siapkan semua dokumen dan hubungi dokter Tommy sekarang,” perintahnya.
“Siap,
Dok,” jawab Prita dengan cepat. Meski situasinya serius, ia tidak bisa menahan
rasa bangga. Entah kenapa, bekerja di bawah arahan Vito membuat semuanya terasa
lebih menyenangkan.
Bayangan
kondisi menyebalkan lewat dalam benak pikirannya.
Hampir
semua dokter jaga IGD sudah pernah kena semprot dokter Tommy, konsultan
obstetri yang terkenal temperamental. Suaranya yang meledak-ledak lebih sering
mengintimidasi daripada membantu. Dokter Vito mendesah panjang, mencoba
menenangkan pikirannya. Sialnya, hari ini dia yang harus berurusan dengan
dokter itu.
"Gimana
ini?" gumamnya, lupa bahwa Prita masih berdiri di depannya.
"Gimana
apanya, Dok?" tanya Prita, terlihat bingung.
"Oh,
enggak apa-apa," jawab Vito seadanya, lalu kembali menulis di rekam medis
sambil mengumpulkan keberanian untuk menelepon dokter Tommy.
Kehamilan
Ektopik Terganggu (KET) adalah kondisi darurat medis. Kehamilan terjadi di luar
rahim dan jika pecah, ini yang bisa menyebabkan gangguan, perdarahan hebat
hingga syok atau kematian. Pasien ini, Nona Dyah, sudah menunjukkan semua tanda
klasiknya. Hb turun drastis, tes kehamilan positif, dan nyeri perut bagian
bawah yang hebat. Segera harus ada tindakan.
Dengan
perasaan enggan, dokter Vito akhirnya menekan tombol panggil.
"Selamat
siang, Dok," katanya, mencoba terdengar tenang.
"Ya,
ada apa?" suara dokter Tommy langsung terdengar dingin dan ketus.
"Izin
lapor, Dok. Pasien dengan nyeri perut bawah, pucat, Hb serial turun, tes
kehamilan positif. Curiga KET, Dok," kata Vito hati-hati.
"Laporanmu
itu enggak lengkap! Bagaimana tanda vitalnya? Ada tanda-tanda syok? Gimana sih,
dokter jaga IGD kok asal-asalan!" bentak Tommy.
Belum
sempat Vito menjawab, sambungan telepon sudah ditutup. Ia terdiam beberapa
saat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Dok,
gimana?" suara Prita memecah lamunannya.
"Sebentar,
saya coba telepon lagi," jawab Vito
Ia
tahu risikonya kalau pasien ini terlambat ditangani. Tapi menelepon dokter
Tommy lagi berarti siap menerima semburan kedua.
Di
ruang operasi, dokter Tommy masih sibuk dengan kasus perdarahan pada pasien
lain. Telepon dari IGD kembali berdering.
"Angkat
dan loudspeaker!" perintah
dokter Tommy kepada salah satu perawatnya.
"Halo,
Dok," suara Vito terdengar di ujung sana. Kali ini suaranya lebih tegas,
meski masih ada sedikit getaran.
"Dok,
pasien Dyah, Hb turun dari 12 sekarang menjadi 7, tes kehamilan positif. Saya
sangat curiga KET dan pasien sudah tampak syok kompensasi. Saya minta izin
konsul untuk pro operasi laparotomi segera, Dok," lapor Vito.
“Tadi
aku dah nanya, bagaimana tensinya, ini anak ganggu saja orang operasi, dah
siapkan laparotomi, jangan lupa informasikan kepada keluarganya dan segera
kirim IBS, parah” dokter Tommy marah dan terus melanjutkan operasinya.
Terngiang!!
ditelinga Vito apa yang disampaikan dokter Tommy, sambil memegang kepalanya
sendiri dengan pelan.
"Informasikan ke keluarga. Siapkan
operasi sekarang. Jangan buang waktu!"
"Siap,
Dok," jawab Vito. Akhirnya, setidaknya instruksinya jelas sekarang.
Vito
menoleh ke Prita, yang sejak tadi memperhatikan dengan cemas.
"Prita,
tolong siapkan pasien dan panggil keluarganya ke ruang saya," katanya
cepat.
"Siap,
Dok," jawab Prita dengan sigap.
Beberapa
menit kemudian, setelah dipanggil untuk menerima informasi dan persetujuan
tindakan, ayah pasien masuk ke ruangan dokter Vito. Wajahnya penuh kecemasan,
tapi juga tersirat ketegangan.
"Silakan
duduk, Pak," ujar Vito dengan sopan, sambil berusaha mengatur pikirannya
untuk menyampaikan kabar buruk ini.
"Jadi
begini, Pak," katanya dengan suara pelan namun tegas. "Dari hasil
pemeriksaan, anak Bapak didiagnosis mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu atau
KET. Ini adalah kondisi kehamilan di luar kandungan yang sudah mengalami
gangguan, pecah, ini kondisi serius yang memerlukan operasi segera untuk
menyelamatkan nyawanya." Menyampaikan dengan hati-hati dan perasaan penuh
dengan empati.
“Apa,
Dok? Kehamilan di luar? Anak saya kan masih gadis, jangan bercanda!” Suara pria
itu bergetar, marah dan tegang, matanya memancarkan kekesalan yang mendalam.
Vito
menarik napas, mencoba meredakan ketegangan di ruangan yang semakin mencekam.
Ia menatap pria itu dengan tatapan yang penuh pengertian. “Saya paham, Pak. Ini
pasti sulit dipercaya, tetapi hasilnya positif. Kehamilan ini memang terjadi di
luar rahim, dan kami akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Mohon tenang, kami akan memastikan anak Anda mendapatkan penanganan terbaik.”
Pelan tapi pasti, raut wajah pria itu mulai melunak, dan kesadaran akan
kenyataan yang tak terhindarkan mulai menghampiri.
"Operasi?
Secepat itu, Dok? Apa enggak ada cara lain?" tanya sang ayah, suaranya
bergetar.
"Kondisi
ini darurat, Pak. Kalau tidak segera ditangani, bisa terjadi perdarahan yang
semakin hebat yang membahayakan nyawanya," Vito menjelaskan.
Sang
ayah tampak semakin tegang, tapi akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Dok.
Kalau itu yang terbaik, lakukanlah," katanya pasrah, dengan tatapan wajah
yang kosong.
Vito
menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Kami akan segera
menyiapkannya."
Ketika
keluarga pasien meninggalkan ruangan dengan wajah penuh kecemasan, Vito dengan
cepat mengirimkan instruksi ke tim IGD. Suasana di IGD dipenuhi tekanan, namun
di dalam kepalanya, dia tahu satu hal yang tak bisa dipungkiri: kecepatan dan
ketenangan adalah senjata terbaik di ruang darurat ini. Sambil menatap monitor
yang berdetak cepat, pikirannya terpusat pada satu tujuan, menyelamatkan
nyawa. Urusan lain, katanya pada dirinya
sendiri, bisa menunggu. “Tim, segera siapkan pasien untuk dikirim ke IBS.
Jangan ada yang terlambat,” perintahnya, suaranya tegas dan tak bisa ditawar..
Tiba-tiba
suara telepon berdering, dari dokter Tommy dan Vito segera mengangkatnya.
"Ya,
halo, Dokter Tommy," jawab dokter Vito dengan cepat setelah menerima
panggilan.
"Vito,
pasien KET ini kenapa belum juga dikirim? Saya sudah menunggu di ruang
operasi!" suara dokter Tommy terdengar tajam, memancarkan frustrasi.
"Maaf,
Dok. Sedang kami persiapkan. Pasien tadi sempat syok, tensi 50/30, Hb terakhir
5, dan kami sedang usaha darah. Pasien akan segera kami kirim ke IBS setelah
persetujuan tindakan dari keluarga," dokter Vito melaporkan dengan nada
setenang mungkin, meskipun situasi hatinya sedang berkecamuk.
"Dengar,
Vito. Kalau pasien sampai kolaps total sebelum masuk IBS, itu tanggung jawab
kamu. Kirim segera, saya sudah tidak mau tahu lagi!" suara dokter Tommy
terdengar lebih tegas sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak.
Dokter
Vito menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Situasi semakin mendesak,
tetapi ia tahu tidak ada waktu untuk emosi.
STABILISASI!! Kacau!!
"Ibu,
Bapak, kami akan segera membawa Dyah ke ruang operasi. Mohon doa dan kepercayaan
untuk tim medis," katanya dengan penuh empati sambil menyerahkan dokumen
persetujuan kepada ibunya.
Ibunya,
dengan tangan gemetar, menandatangani dokumen tersebut. Sang ayah, meskipun
masih menunjukkan wajah keras, tampak lebih tenang setelah mendengar kondisi
putrinya dijelaskan secara serius oleh dokter Vito.
"Prita,
segera bawa pasien ke IBS. Pastikan semua dokumen lengkap, dan informasikan
kepada tim operasi bahwa pasien dalam kondisi syok, dengan Hb rendah.
Koordinasikan juga dengan tim anestesi untuk stabilisasi awal," perintah
dokter Vito kepada Prita.
"Siap,
Dok!" Prita bergerak cepat bersama tim, mempersiapkan pasien untuk
transportasi ke IBS.
Saat
pasien dibawa ke ruang operasi, suasana IGD sedikit mereda, meskipun beban
mental masih terasa di antara staf. Dokter Vito mengambil waktu sejenak untuk
menenangkan dirinya. Hari ini benar-benar ujian untuk emosinya sebagai dokter
jaga.
Di
dalam ruang operasi, dokter Tommy bersiap menerima Dyah. "Kondisinya
bagaimana sekarang?" tanyanya dengan wajah serius saat pasien dibawa
masuk.
"Tensi
terakhir saat serah terima 60/40, Hb 5, usaha darah tiga kantong PRC sedang
berjalan. Pasien syok hipovolemik akibat perdarahan internal, di IBS sudah
resusitasi tambahan dan kini MAP 65 mmHg, siap untuk operasi, Dok," lapor
tim anestesi, bersama dr. Gun dokter anestesi yang mendampingi.
"Baik.
Kita mulai operasi sekarang juga," jawab dokter Tommy dengan nada yang
lebih terkendali.
Saat
pintu ruang operasi tertutup, pertanda operasi segera dimulai, prosedur keselamatan
pasien timeout dilaksanakan.
Di IGD, dokter Vito tahu tantangan seperti ini
akan selalu ada, dan tugasnya adalah tetap menjadi profesional dalam badai apa
pun.
Jaga
hari ini selesai!
Di
perjalanan menuju parkiran, dokter Vito mencoba mengosongkan pikirannya. Hari
ini benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena jumlah pasien yang luar biasa
banyak, tapi juga tekanan emosi dari berbagai sisi, dari dokter Tommy yang
terus-menerus marah, keluarga pasien yang penuh kekhawatiran, hingga
tatapan-tatapan menyimpan harapan dari pasien yang berharap cepat sembuh.
Setelah
memasuki mobilnya, ia duduk sejenak, tidak langsung menyalakan mesin. Dalam
keheningan mobil, dokter Vito menarik napas panjang. “Gila sih, hari ini,” gumamnya sambil memejamkan mata sejenak. Rasanya
seperti medan perang, tetapi tanpa senjata untuk melawan kecemasan dan tekanan
batin.
Namun,
bayangan Prita sempat melintas di benaknya. Tatapan malu-malu gadis itu tadi
membuatnya sedikit tersenyum. "Hah,
kok bisa-bisanya mikir itu sih," pikir Vito sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Tapi tidak bisa dipungkiri, sesuatu tentang Prita
memberinya sedikit energi positif di tengah harinya yang suram.
Tak
lama, teleponnya berbunyi. Ia mengangkatnya dengan enggan. "Halo?"
"Dokter
Vito, ini dari ruang perawatan. Pasien Dyah sudah masuk ICU, tapi keluarganya
ingin berbicara lagi dengan dokter. Apa Anda bisa kembali sebentar?" suara
dari ujung telepon terdengar tegas tapi sopan.
"Ah...
ya, saya akan kembali ke IGD dulu, sebentar lagi sampai ke ICU," jawabnya tanpa
pikir panjang. Meskipun sudah lelah, sudah di dalam mobilnya dan tinggal
bergerak pulang tetapi hati kecilnya tahu bahwa ini adalah bagian dari tanggung
jawabnya.
Naluri tenaga kesehatan! Seorang
Dokter!
Sesampainya
di ruang perawatan, dokter Vito langsung menemui keluarga pasien. Kali ini,
raut wajah Bapak-nya Dyah terlihat sedikit lebih tenang. "Dokter,
bagaimana kondisi Dyah sekarang?"
"Alhamdulillah,
Pak, operasinya berjalan lancar. Sekarang Dyah sedang dalam pemantauan di ICU.
Kami akan terus memantau kondisinya agar segera stabil. Bapak bisa sedikit
tenang sekarang," jelas dokter Vito dengan senyuman yang menenangkan.
"Terima
kasih, Dok, sudah menyelamatkan anak saya," kali ini dengan nada tulus dan mata yang
sedikit berkaca-kaca. Segala basa-basi tetap dilakukan antara dokter Vito dan
keluarga pasien, semuanya untuk mendukung harmonisasi hubungan yang baik antar
manusia.
Setelah
memastikan tidak ada lagi yang perlu ditangani mendesak, dokter Vito kembali ke
mobilnya. Di perjalanan pulang, ia merasa sedikit lebih ringan. Hari yang berat
memang, tetapi menyaksikan pasien yang tertolong selalu memberinya kepuasan
tersendiri.
Sesampainya
di rumah, dokter Vito merebahkan diri di sofa, mencoba mengusir semua
kelelahan. Namun, pesan singkat masuk di ponselnya.
Prita
"Terima kasih untuk hari ini, Dok. Senang bisa belajar dari dokter yang
sabar dan profesional."
Senyum
kembali terbit di wajah dokter Vito. Pesan itu terasa seperti penghargaan kecil
tapi berarti setelah seharian penuh tekanan. "Ah, anak itu," gumamnya sambil mengetik balasan,
"Sama-sama. Terima kasih juga sudah banyak membantu."
Malam
itu, ia merasa lebih segar saat bersiap untuk nongkrong dengan teman-temannya.
Entah kenapa, bayangan IGD yang penuh tekanan kini terasa sedikit lebih ringan.
Ada semacam harapan bahwa meskipun dunia medis keras dan penuh tantangan, masih
ada momen-momen kecil yang bisa membuat segalanya terasa layak dijalani.
"Eh,
iya, itu Adrian. Kok bisa sampai sini? Dia kan harusnya masih di RS," kata
Dita sambil memiringkan kepalanya ke arah pintu. Sosok dokter Adrian, yang
terlihat santai dengan jaket hitam dan jeans, melangkah masuk ke kafe. Matanya
menyapu ruangan hingga berhenti pada kelompok mereka.
"Eh,
bro, Adrian nongkrong juga ternyata," ujar Dimas sambil melambai ke arah
Adrian.
Adrian
tersenyum kecil dan berjalan ke meja mereka. "Wah, ngumpul-ngumpul nggak
ngajak-ngajak nih," katanya sambil menarik kursi di sebelah Dimas dan
duduk.
"Ya
ngga kali, masa kita ngajak dokter yang lagi jaga sore," canda Vito sambil
menyeruput kopi. "Jangan-jangan pasien pada kabur karena dokternya kabur
ke sini?"
Adrian
menghela napas panjang. "Nggak juga, aku nda jaga kok, digantikan dokter
Faqih. Udah aku koordinasikan sama dia dan perawat jaga”.
Dita
memandang Adrian dengan heran. "Tapi kayaknya ada yang beda deh sama kamu,
Mas. Ada apa?"
Adrian
tersenyum pahit sambil mengusap wajahnya. "Kebetulan tadi pagi pasien
terakhir jaga ruang agak berat. Pasien anak-anak, usianya baru enam tahun, baru
pindahan dari IGD, tiba-tiba gagal napas. Orang tuanya terlambat bawa ke RS
karena berpikir anaknya cuma flu biasa. Sudah kita resusitasi, tapi..." Ia
berhenti sejenak, menelan ludah. "Nggak tertolong."
Hening
sesaat menyelimuti meja mereka. Lyan, yang biasanya paling heboh, hanya diam
sambil memainkan sedotan minumannya. Dita terlihat iba, dan Vito menatap Adrian
dengan pandangan penuh pengertian.
"Kasus
kayak gitu memang bikin berat, bro," kata Dimas akhirnya. "Apalagi
pasien anak. Rasanya kayak kita gagal banget sebagai dokter, padahal kita udah
coba semua."
Adrian
mengangguk lemah. "Iya. Orang tuanya nangis nggak berhenti, terus bilang,
'Kenapa nggak dari awal kasih tahu anak kami bakal nggak selamat?' Aku cuma
bisa minta maaf, meskipun tahu itu nggak cukup."
Dita
menyentuh lengan Adrian dengan lembut. "Kamu udah melakukan yang terbaik.
Kadang nggak semua hal ada di tangan kita, Mas Adrian."
Vito
menyahut, "Betul, Dit. Kita ini dokter, bukan Tuhan. Tapi aku ngerti, rasa
itu tetap nggak hilang. Apalagi kalau kasusnya kayak anak kecil."
Adrian
tersenyum kecil, meski matanya masih tampak lelah. "Thanks, guys. Aku cuma butuh ngobrol aja. Nggak enak perasaan begini dibawapulang."
Suasana
di meja perlahan mencair lagi. Mereka mulai bercanda, meskipun sesekali
pembicaraan kembali ke topik pengalaman masing-masing di rumah sakit. Vito,
yang tadinya merasa hari itu adalah hari terburuknya, mulai merasa lebih baik
mendengar cerita teman-temannya.
"Kayaknya
hidup dokter ini penuh drama ya," canda Lyan sambil tertawa. "Kalau
nggak pasien ngamuk, keluarga pasien ngamuk. Kalau nggak, ya rasa bersalah
karena nggak bisa nyelamatin."
"Tapi
itu semua yang bikin profesi ini bermakna," tambah Dita. "Setiap hari
kita dihadapkan sama nyawa manusia. Itu bukan tanggung jawab yang kecil."
Vito
mengangguk sambil tersenyum. "Kadang aku merasa ini semua terlalu berat,
tapi di sisi lain, aku nggak bisa bayangin hidupku tanpa jadi dokter. Mungkin
aku cuma butuh lebih banyak ngopi."
"Haha,
setuju!" sahut Dimas. "Kopi adalah obat dokter jaga!" Dimas
adalah dokter di rumah sakit sebelah, karena satu alumni dengan Vito, jadi
sering ikutan berkumpul bersama, kadang kalau sedang selo juga bisa gantiin
satu dengan yang lain.
Mereka
semua tertawa, di kafe kecil itu, melupakan sejenak tekanan pekerjaan dan
mengisi ulang energi mereka. Namun, jauh di lubuk hati, mereka tahu bahwa esok
hari tantangan baru sudah menunggu. Adrian, yang biasanya serius, kali ini ikut
tertawa bersama mereka, membiarkan suasana yang hangat itu mencairkan
ketegangan di dalam ruangan. Mereka tertawa, meski dalam hati masing-masing
memahami kenyataan dunia medis di rumah sakit—penuh tekanan, improvisasi, dan
rasa saling mengandalkan.
"Ya
begitulah hidup di rumah sakit," gumam Vito pelan, cukup keras untuk
didengar semua orang. "Di satu sisi, pelayanan pasien selalu dianggap
nomor satu. Tapi di sisi lain, kadang-kadang kita sendiri seperti nggak
dihargai. Orang luar sering nggak tahu bagaimana sulitnya menjaga pelayanan
tetap berjalan tanpa celah."
Adrian
menatap Vito sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Benar juga, Vito. Tapi,
mau gimana lagi? Dunia kita ya memang begini. Ngawur tapi harus tetap
profesional."
Tawa
mereka mulai mereda, dan suasana perlahan kembali serius. Jam dinding
menunjukkan pukul 21.45, menandakan waktu untuk kembali mengisi energi untuk
hari esok. Mereka berpamitan satu per satu, meninggalkan kafe kecil itu dengan
langkah ringan, berharap malam ini membawa tidur yang nyenyak dan mimpi yang
indah.
=gn=
Komentar(0)
Tinggalkan komentar