SEPERTI
BUIH DI LAUTAN
Pagi itu
bukan suara ombak yang ia dengar, melainkan desir panjang angin gunung yang
jernih. Elang duduk di atas batu kars pucat di puncak Gunung Merbabu. Di
hadapannya, langit terbuka tanpa dinding. Kabut tipis menggantung di
lereng-lereng jauh. Matahari yang baru terbit meneteskan cahaya keemasan di
sela awan.
Ia
menyukai gunung karena gunung tak pernah tergesa. Gunung diam, namun tidak
lemah. Sunyi, namun tidak kosong. Di ketinggian seperti ini, manusia dipaksa
jujur pada dirinya sendiri.
Elang adalah seorang dokter di
IGD.
Tempat di mana waktu tak pernah sabar.
Tempat hidup dan mati hanya dipisahkan detik.
Tempat suara monitor lebih sering terdengar daripada doa.
Semalam
ia tak pulang. Setelah jaga panjang sehari sebelumnya, tubuhnya menuntut
istirahat, tetapi jiwanya menolak diam. Ada kegelisahan yang tak bisa
diselesaikan dengan tidur. Karena itu ia mendaki Merbabu pagi ini, bukan untuk menantang ketinggian, melainkan
mencari kedalaman.
Yang ia
bawa naik bukan hanya ransel dan bekal, tetapi beban tak kasatmata. Bukan
sekadar letih fisik, melainkan kelelahan batin yang sunyi. Ada sesuatu yang lebih
berat daripada kurang tidur—rasa hampa yang ingin ia gali hingga ke titik
paling kosong dalam dirinya, tempat ia tak lagi bisa bersembunyi di balik
profesi dan kompetensi.
Semalam seorang pasien gagal ia
selamatkan.
Kalimat itu sederhana. Klinis.
Dingin.
Namun di dalam dirinya, ia menjelma gema panjang yang memantul tanpa henti.
Ia tahu
batas manusia. Ia hafal protokol, algoritma, dan guideline. Ia terlatih membaca
pola EKG secepat membaca kabar duka. Ia tahu kapan harus intubasi, kapan
melakukan resusitasi agresif, kapan menghentikan upaya yang secara klinis tak
lagi memberi harapan. Ia memahami takdir, secara ilmiah dalam kurva statistik dan
survival rate, juga secara iman bahwa setiap jiwa memiliki ajalnya.
Namun pengetahuan tak selalu
mampu membungkam hati.
Di atas
batu kars itu ia terdiam. Angin berembus, tetapi pikirannya tetap bising. Wajah
pasien itu masih jelas—pucat di bawah cahaya lampu IGD. Tatapan keluarga yang
menunggu di luar ruangan terasa seperti sepasang mata yang tak pernah
benar-benar pergi.
Ada
kalimat-kalimat yang belum selesai dalam dirinya. Penjelasan yang terasa
kurang. Doa yang terasa terlambat.
Hati dan
pikirannya bergejolak, seperti dua kubu yang saling menyerang: logika melawan
rasa bersalah, ilmu melawan nurani, takdir melawan ego.
“Seandainya aku lebih cepat.”
“Seandainya aku memilih tindakan yang berbeda.”
Kata-kata
itu berputar seperti gema di ruang sempit. Secara rasional ia tahu semua telah
dilakukan sesuai standar. Namun di ruang terdalam, standar tak pernah cukup
untuk mengobati kehilangan.
Kata seandainya
lebih tajam daripada pisau bedah. Ia tak melukai tubuh, tetapi mengiris harga
diri. Ia tak menumpahkan darah, tetapi meretakkan keyakinan perlahan. Di meja
operasi, pisau bekerja dengan presisi; di ruang batin, kata itu bekerja tanpa
anestesi.
Angin
gunung menyentuh wajahnya seperti tangan yang ingin menenang-kan. Di kejauhan, hamparan awan membentang
seperti lautan putih tanpa tepi, bergulung,
bergerak, memutih, seperti buih yang tak pernah bisa dihitung.
Bukit-bukit
berdiri tegak dengan keberanian yang sunyi. Naik dan turun tanpa keluhan. Tegas
dalam diam. Pemandangan itu menggugah sesuatu di dalam dirinya, seolah alam berbisik bahwa jatuh dan bangkit
adalah bagian dari ketinggian itu sendiri. Bahwa badai bukan untuk dihindari,
melainkan untuk dilalui.
Namun
kepalanya tetap tertunduk. Ia menelusuri lorong-lorong sunyi dalam dirinya yang
selama ini terabaikan karena sibuk menyelamatkan orang lain.
Lalu,
seperti cahaya tipis yang menyelinap di sela kabut, ia teringat sebuah hadits
yang pernah ia dengar dalam kajian subuh:
“Barangsiapa
membaca Subhanallahi wabihamdihi seratus kali dalam sehari, dihapuskan
dosa-dosanya walau sebanyak buih di lautan.”
Walau sebanyak buih di lautan.
Kalimat
itu menggantung di udara, menyatu dengan hamparan awan di bawahnya. Ia
memandang lautan putih itu lebih lama—mencoba mengukurnya dengan mata, dengan
akal, dengan rasa bersalahnya.
“Sebanyak ini?” batinnya lirih.
Seolah ia
sedang menimbang antara banyaknya buih dan luasnya ampunan.
Di
kepalanya, dosa tidak seperti awan. Ia tidak ringan, tidak menguap. Ia terasa
padat. Menetap. Berat—seperti batu yang digantungkan di dada, menekan pelan
namun pasti.
Ia terus
berpikir. Terus kepikiran. Seolah pikirannya sendiri adalah ruang sidang tanpa
hakim yang memberi jeda. Ia mengulang kejadian, membedah ulang detik demi
detik, seperti mengaudit prosedur yang sebenarnya telah selesai dan ditutup
secara administratif—namun belum tuntas secara batin.
Dalam
pusaran itu, ia hampir lupa bahwa Dia Maha Penyayang, Maha Pengampun. Bahwa
rahmat-Nya tidak pernah sempit. Bahwa ampunan tidak pernah lelah menunggu hamba
yang kembali.
Namun
rasa bersalah sering kali lebih nyaring daripada iman yang tenang.
Ia datang tanpa diundang, mengetuk pelan, lalu menetap lama.
Kilatan-kilatan
kecil kembali berkelebat dalam ingatan. Ia pulang dengan tubuh lelah, langkah
berat, sementara Ibu menanti dalam sunyi yang hampir gelap.
Aku hanya memandang, tak sanggup
bercerita.
Merebahkan tubuh,
namun mata tetap terjaga menatap langit-langit kamar,
seolah ada yang belum selesai.
Bayang itu tak pernah benar-benar
pergi.
Ia datang tanpa suara.
Duduk seperti sahabat yang tak diharap,
lalu diam bersamanya.
Pikirannya tertinggal di ruang
IGD,
di antara monitor yang berbunyi,
di antara napas yang ditakar waktu.
Teguran
kecil yang keluar dari lisannya semalam terasa lebih keras daripada maksud hati
yang sebenarnya ingin menikmati sunyi. Waktu selalu terasa kurang—kurang untuk
benar-benar berhenti dan merenung, kurang untuk menepati janji-janji kecil yang
dulu diucapkan dengan yakin namun kini tertunda oleh kesibukan yang tak pernah
reda.
Keputusan-keputusan
medis yang telah diambil sesuai standar profesi tetap saja berputar di
kepalanya, seakan meminta pengadilan batin yang tak pernah usai. Ia tahu secara
ilmiah langkahnya tepat; indikasi dan pertimbangan klinisnya rasional. Namun
hati memiliki logika yang berbeda—ia tidak tunduk pada algoritma, tidak patuh
pada guideline.
Di sela
keberhasilan menyelamatkan satu nyawa, terselip rasa bangga yang samar—tipis,
hampir tak terasa—namun cukup kuat membuatnya bertanya dalam diam: apakah itu
wujud syukur atas amanah yang ditunaikan, atau justru benih kesombongan yang
tumbuh sangat halus, hampir tak kasatmata?
Semua itu berkumpul seperti awan
gelap yang menutup langit batinnya. Ia merasa tertutup, sesak, kehilangan
cahaya.
Angin di
puncak gunung kembali berembus. Ia mengangkat wajahnya perlahan, memandang
hamparan awan putih yang menyerupai buih lautan. Teringat lagi kalimat
itu—tentang dosa yang dihapus walau sebanyak buih di laut.
Di tengah
kabut pikirannya, ia menyadari satu hal yang menyakitkan sekaligus menenangkan, ia terlalu sibuk menghitung dosanya, hingga
hampir lupa menghitung kasih sayang Tuhannya.
Barangkali
yang membuat dadanya berat bukanlah banyaknya dosa, melainkan kurangnya percaya
pada luasnya ampunan.
Barangkali yang perlu ia ulang bukan lagi detik-detik kegagalan itu, tetapi
dzikir yang meneguhkan bahwa ia hanyalah hamba—yang berikhtiar sekuat tenaga,
lalu menyerahkan hasilnya pada Yang Maha Menentukan.
Di atas
batu kars itu, untuk pertama kalinya sejak semalam, ia menarik napas lebih
panjang. Bukan karena semua pertanyaan telah terjawab,
melainkan karena ia mulai belajar berhenti menjadi hakim bagi dirinya sendiri.
Di puncak
gunung yang sepi—sepi yang bukan sekadar hening dari suara, tetapi sunyi yang
memaksa jiwa ikut menyepi—kalimat itu kembali terucap.
Ia menghela
napas panjang. Dingin gunung memenuhi paru-parunya, seperti membersihkan
ruang-ruang yang selama ini sesak oleh penyesalan.
Subhanallahi wabihamdihi…
Satu.
Kalimat
itu meluncur pelan, hampir tenggelam oleh desir angin. Tidak dramatis. Tidak
lantang. Hanya bisikan seorang hamba yang mulai lelah melawan dirinya sendiri.
Subhanallahi wabihamdihi…
Sepuluh.
Namun
pikirannya masih berlari ke ruang IGD. Alarm monitor berdenting tajam.
Instruksi saling bersahutan. Keringat mengalir di bawah lampu yang terlalu
terang. Detak jantung di layar memanjang… lalu lurus.
Garis lurus itu seperti membelah
dadanya.
Subhanallahi wabihamdihi…
Dua puluh lima.
Ia memejamkan mata.
Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya.
Jika
Allah Maha Suci, maka tak ada satu pun keputusan-Nya yang keliru. Jika segala
puji bagi-Nya, maka bahkan peristiwa yang ia sebut kegagalan tetap berada dalam
lingkaran hikmah-Nya—meski akalnya belum mampu menjangkaunya.
Subhanallahi wabihamdihi…
Empat puluh.
Napasnya
mulai teratur. Perlahan ia menyadari sesuatu yang lama ia abaikan: selama ini
ia memikul dirinya seolah-olah ia penentu akhir. Seolah hidup dan mati tunduk
pada ketepatan tangannya, pada kecepatan analisisnya.
Padahal ia hanya sebab.
Bukan sumber.
Ia hanya perantara.
Bukan penentu.
Subhanallahi wabihamdihi…
Enam puluh.
Ada yang
mencair di dadanya. Bongkahan keras yang sejak semalam ia simpan retak sedikit
demi sedikit. Ia sadar betapa ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Terlalu
sulit memaafkan diri. Terlalu jarang benar-benar menyerahkan hasil.
Ia terbiasa mengontrol.
Padahal tidak semua bisa dikontrol.
Subhanallahi wabihamdihi…
Tujuh puluh lima.
Air
matanya jatuh—hangat di tengah udara dingin. Bukan karena ia tidak profesional.
Justru karena ia manusia. Karena ia peduli. Karena ia merasa.
Ia
menyadari, diam-diam ia ingin menjadi “Tuhan kecil” di IGD—yang selalu
berhasil, selalu tepat, selalu menyelamatkan. Ia ingin tak pernah gagal. Ia
ingin tak pernah kehilangan.
Padahal ia hanya hamba yang
diberi amanah.
Amanah untuk berusaha.
Bukan untuk menentukan takdir.
Subhanallahi wabihamdihi…
Sembilan puluh.
Ia
membuka mata. Lautan awan di bawahnya bergerak perlahan—terurai, lalu menyatu
kembali. Datang dan pergi tanpa jejak. Seperti buih di lautan yang tak pernah
menetap.
Tiba-tiba sesuatu menjadi terang
dalam dirinya.
Buih tampak banyak, tetapi rapuh.
Ia muncul di permukaan, lalu hilang tanpa bekas.
Yang luas bukan buihnya.
Yang luas adalah lautnya.
Jika dosa
diibaratkan buih, maka ia bukan inti. Ia hanya lapisan tipis di permukaan jiwa.
Yang lebih dalam, yang lebih luas, yang lebih kekal—adalah rahmat.
Subhanallahi wabihamdihi…
Sembilan puluh sembilan.
Hatinya
terasa ringan. Bukan ringan karena lupa. Bukan pula ringan karena membenarkan
diri. Melainkan ringan yang lahir dari pengakuan dan harapan—dari kesadaran
bahwa ia salah, namun tidak ditinggalkan.
Subhanallahi wabihamdihi.
Seratus.
Matahari
kini lebih tinggi. Cahaya memantul pada sisa kabut, memecahnya perlahan. Dingin
masih ada, tetapi tidak lagi menusuk.
Elang
menatap cakrawala dengan cara yang berbeda. Bukan
lagi dengan mata seorang dokter yang terbiasa menganalisis setiap kemungkinan
terburuk. Melainkan dengan hati seorang
hamba yang mulai belajar berserah.
Ia tidak
turun dari gunung dengan jawaban atas semua pertanyaannya.
Ia turun dengan sesuatu yang lebih penting, sebuah kesadaran bahwa tugasnya adalah
berikhtiar dengan ilmu, dan
sisanya adalah wilayah Tuhan.
Dan untuk
pertama kalinya sejak malam itu, ia tidak lagi merasa sendirian di dalam
dadanya sendiri. Masalahnya
tidak hilang. Pasien itu tetap tidak kembali. Tanggung jawabnya di IGD tetap
menunggu. Dunia medis tetap keras, cepat, dan penuh risiko.
Namun hatinya tak lagi
memberontak.
Ia tidak
lagi menempatkan dirinya sebagai pusat hasil. Ia hanyalah ikhtiar, sebuah sebab di antara sekian sebab.
Selebihnya adalah kehendak Zat Yang Maha Mengatur.
Ponselnya bergetar. Pesan singkat
dari Ibunya.
“Pulang ya. Ayah Bunda kangen mendengar ceritamu.”
Ia tersenyum.
Di puncak
Gunung Merbabu itu, ia membuat satu keputusan kecil—yang mungkin lebih besar
daripada banyak keputusan klinis yang pernah ia ambil, ia akan menjadikan dzikir itu sebagai
disiplin harian. Seratus kali. Seperti menghitung dosis obat. Seperti mengikuti
protokol resusitasi. Teliti. Sadar. Konsisten.
Bukan sekadar ritual, tetapi
terapi batin.
Bukan sekadar angka, tetapi latihan tunduk.
Ia
menyadari sesuatu yang sederhana namun tajam: yang paling membutuhkan
pertolongan bukan hanya pasien di IGD, tetapi
juga dirinya sendiri.
Selama
ini ia sigap memasang oksigen pada yang sesak, cepat memasang akses pada yang
kolaps, cekatan memulai kompresi saat jantung berhenti. Namun ia jarang
memeriksa saturasi imannya sendiri. Jarang mengevaluasi tekanan batinnya.
Jarang meresusitasi harapannya.
Ia
berdiri dari batu kars itu. Lututnya sedikit kaku oleh dingin, tetapi
langkahnya mantap. Angin menyambut perjalanannya turun. Gunung tetap tenang.
Langit tetap luas.
Dan untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, Elang merasa bukan sekadar turun dari
puncak Merbabu.
Ia sedang
turun dari kesombongan halus yang selama ini tak ia sadari, kesombongan yang membuatnya merasa harus
selalu berhasil, selalu benar, selalu menyelamatkan.
Kini ia tahu:
tugasnya adalah berilmu tanpa angkuh,
berusaha tanpa merasa berkuasa,
dan gagal tanpa kehilangan iman.
Barangkali dosanya sebanyak buih.
Namun rahmat-Nya tak pernah sekecil itu.
Ia
menuruni lereng dengan hati yang lebih lapang. IGD tetap menantinya. Risiko
tetap ada. Kehilangan tetap mungkin terjadi.
Tetapi
kini ia kembali bukan sebagai “penentu hidup dan mati.” Ia kembali sebagai hamba yang diberi amanah, untuk berikhtiar sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya dengan tenang.
Komentar(0)
Tinggalkan komentar