on 04 Maret 2026, 05:20
  • #novel #hospital-crash #igun

Novel Hospital Crash-Fase 1

 DIANTARA

TEKANAN DAN HARAPAN

 

 Krisis Sebagai Titik Balik

Di tengah kebekuan atau kekacauan dalam rumah sakit, ada kesempatan untuk refleksi, perbaikan, dan pertumbuhan. "Crash" dapat menjadi simbol dari kegagalan sistem yang memunculkan pelajaran berharga.

 

Brak!” Dokter Vito menghempaskan tubuhnya ke sofa usang di pojok ruang jaga IGD, seraya menghela napas panjang yang penuh dengan rasa frustrasi. Ruangan sempit, tak lebih dari 3x3 meter, terasa menyesakkan, dengan tembok kusam yang seolah merekam ribuan kisah lelah dan tangis. Pendingin ruangan tua di sudut terus berderik tak sabar, disertai tetesan air yang jatuh satu per satu, seperti detak waktu yang mempertegas keletihan semua yang ada di sana, dokternya, peralatannya, bahkan udara di ruangan itu.

Hari macam apa ini,” gumam Vito sambil memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan kejadian tadi. IGD yang awalnya tenang dan sunyi, tiba-tiba berubah menjadi arena kekacauan menjelang adzan dhuhur. Suasana ruangan itu mendadak riuh, seperti pasar yang tengah bergelora di hari pembagian sembako. Orang-orang berdesakan, suara teriakan bercampur dengan tangisan, langkah kaki terburu-buru mengisi kekosongan ruang yang sempit. Bau obat dan keringat bercampur, menambah sesak di dada. Vito merasa seolah-olah seluruh dunia menggulung di sekelilingnya, dan ia, sebagai pengendali di tengah badai itu, berdiri terjepit di antara panik dan kewajiban.

Di balik kesal yang tergurat di wajahnya, dokter Vito adalah sosok yang tak asing bagi mereka yang bekerja di IGD itu. Seperti takdir yang sudah digariskan, setiap kali ia bertugas, seolah langit mengguyur segala masalah. Pasien berjejer, kadang dengan keluhan yang membingungkan, sesekali kasus darurat yang menguji kecepatan dan ketepatan tangannya. Meskipun keluarganya adalah kalangan berduit, Vito tidaklah sombong. Ia dikenal baik hati, dengan senyum lebar yang seolah menjadi senjata ampuhnya. Tak jarang, ia memanjakan diri dengan sikap sok ganteng yang membuat sebagian orang berdecak. Namun di balik pesona itu, ada dedikasi yang besar dan keinginan untuk membuat perbedaan, meski harus bertarung dengan segala kerumitan dan tekanan yang menunggu di setiap sudut ruang jaga.

 "Dok, pasien baru di bed lima," suara Prita, perawat IGD yang terkenal ramah sekaligus centil, memecah lamunannya. Ia berdiri di pintu dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. Vito mengangkat alis tanpa menyembunyikan rasa enggan.

“Bed lima, pasien apa lagi?” tanyanya datar.

"Pasien perempuan, histeris, nyeri perut,” jelas Prita.

Vito menghela napas panjang. Kepalanya sudah penuh dengan keinginan segera kabur dari IGD dan menikmati waktu luang. Pemandangan tumpukan berkas rekam medik di meja yang belum semuanya terisi, seakan seaakan menambah beban berat di pundaknya.

“Kamu sudah tahu keluhannya lebih lanjut?” tanyanya, nada suaranya mengusung keengganan yang sulit disembunyikan. Sebuah angin dingin menyusup melalui celah AC yang tak sepenuhnya dingin, membuat ruangan itu terasa semakin sempit, seakan mengintensifkan ketegangan di antara mereka.

"Belum, Dok. Kan tugasnya dokter buat periksa," jawab Prita dalam hati, walau mulutnya berkata, “Saya kurang paham, Dok.”

"Hah, ya sudah. Temani aku periksa," ujar Vito akhirnya sambil bangkit dari sofa. Prita bersemangat mengikuti, matanya berbinar, merasa ini peluang untuk lebih dekat dengan dokter muda tampan itu.

Mereka tiba di sisi pasien. Seorang perempuan muda berwajah pucat terbaring dengan tangan mencengkeram perut bagian bawah. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya, wajahnya mencerminkan kecemasan.

"Selamat siang, saya Dokter Vito, dokter jaga IGD. Saya akan memeriksa Anda,” katanya, mencoba terdengar ramah. Ia tersenyum, meski di dalam hati sudah merasa lelah.

Prita, yang berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap gerakan Vito. Wajahnya merona saat melihat senyum manis dokter itu. Hatinya berbicara sendiri, "Duh, manis banget senyumnya!" Lamunan itu mendadak buyar saat Vito menginjak kakinya pelan untuk membangunkan.

“Nama siapa, Mbak?” tanya Vito kepada pasien, sambil membaca gelang identitas yang melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan tepat identitas tidak salah pasien.

"Dyah, Dok," jawab pasien lemah. Dia meringis, menahan sakit. Vito mulai bertanya lebih rinci tentang gejala yang dirasakan. Namun, jawaban Dyah yang singkat dan keluhan rasa sakitnya membuat suasana sedikit memanas.

“Dok, cepat obati! Jangan cuma tanya-tanya terus!” sergah Dyah tiba-tiba.

Vito hanya tersenyum tipis, mencoba menahan rasa sebal. Tapi ia tidak menduga bentakan dari pria di sebelah pasien. Bentakan yang menambah kaget dan menggores harga dirinya sebagai seorang dokter, tetapi Vito tetap berusaha sabar, sebuah pilihan walau kadang menyakitkan.

"Dok, bisa nggak sih?! Kalau nggak bisa, saya bawa pulang saja!" suara pria itu melengking di ruang IGD.

“Bapak ini siapanya pasien?” tanya Vito, dalam kesabaran menahan emosi.

“Bapaknya!” jawab pria itu dengan ketus.

Vito menarik napas panjang. “Bapak sabar dulu, ya. Saya sedang berusaha menentukan diagnosa supaya pengobatan tepat,” jelasnya pelan, lalu meninggalkan tempat untuk mengisi rekam medis.

Di meja dokter, Vito duduk dengan ekspresi serius, tatapannya tajam meneliti catatan pasien. “Belum menikah? Masa sih KET?” pikirnya, sejenak membayangkan kemungkinan yang tak terduga. Namun, ia segera menggelengkan kepala, menepis angan-angan itu. Di zaman sekarang, segala hal bisa saja terjadi—dan siapa yang tahu, mungkin hari ini pun tak ada yang benar-benar mustahil.

“Periksa Hb serial dan tes urin untuk kehamilan,” ucapnya, suaranya tegas, penuh tekanan, membelah keheningan ruang sempit itu seperti guntur yang mengusir bisu. Ruangan itu, seakan terjaga dari tidur panjangnya, menunggu tindakan yang bisa mengubah segalanya.Di meja dokter, Vito melontarkan perintah kepada Prita. “Periksa Hb serial dan tes urin untuk kehamilan,” katanya tegas.

Prita sedikit terkejut mendengar perintah itu. Dalam benaknya ia berpikir, "Apa mungkin ini KET?" Kehamilan Ektopik Terganggu—diagnosis yang mulai terlintas di kepala Vito. Kondisi ini bisa berbahaya jika kantong kehamilan pecah, menyebabkan perdarahan dalam dan bahkan syok pada pasien.

Prita termenung, pikirannya terperangkap dalam bayangan pasien muda yang belum menikah. Suasana di ruang jaga mendadak diselimuti kesunyian, hingga suara Prita menggema dan memecah keheningan.

“Dokter, laporan!” teriaknya dengan nada yang lebih tegas, membangunkan Vito dari lamunannya.

Vito mendongak, mata cokelatnya tajam menatap Prita yang berdiri dengan ekspresi penuh tanda tanya. “Bagaimana hasilnya?” tanyanya, suaranya serius dan penuh perhatian.

Prita menghela napas, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. “Hb-nya turun, Dok. Dari 12 ke 9. Dan… tes kehamilannya positif,” jawabnya, wajahnya kini mencerminkan kebingungan yang dalam.

"Positif?" Vito mengulang, memastikan dirinya tidak salah dengar. "Wah, benar ini KET," pikirnya. Wajahnya sedikit tegang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus segera menghubungi konsultan kandungan—dokter Tommy, yang dikenal perfeksionis sekaligus hobi marah-marah.

“Prita, siapkan semua dokumen dan hubungi dokter Tommy sekarang,” perintahnya.

“Siap, Dok,” jawab Prita dengan cepat. Meski situasinya serius, ia tidak bisa menahan rasa bangga. Entah kenapa, bekerja di bawah arahan Vito membuat semuanya terasa lebih menyenangkan.

Bayangan kondisi menyebalkan lewat dalam benak pikirannya.

Hampir semua dokter jaga IGD sudah pernah kena semprot dokter Tommy, konsultan obstetri yang terkenal temperamental. Suaranya yang meledak-ledak lebih sering mengintimidasi daripada membantu. Dokter Vito mendesah panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Sialnya, hari ini dia yang harus berurusan dengan dokter itu.

"Gimana ini?" gumamnya, lupa bahwa Prita masih berdiri di depannya.

"Gimana apanya, Dok?" tanya Prita, terlihat bingung.

"Oh, enggak apa-apa," jawab Vito seadanya, lalu kembali menulis di rekam medis sambil mengumpulkan keberanian untuk menelepon dokter Tommy.

Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) adalah kondisi darurat medis. Kehamilan terjadi di luar rahim dan jika pecah, ini yang bisa menyebabkan gangguan, perdarahan hebat hingga syok atau kematian. Pasien ini, Nona Dyah, sudah menunjukkan semua tanda klasiknya. Hb turun drastis, tes kehamilan positif, dan nyeri perut bagian bawah yang hebat. Segera harus ada tindakan.

Dengan perasaan enggan, dokter Vito akhirnya menekan tombol panggil.

"Selamat siang, Dok," katanya, mencoba terdengar tenang.

"Ya, ada apa?" suara dokter Tommy langsung terdengar dingin dan ketus.

"Izin lapor, Dok. Pasien dengan nyeri perut bawah, pucat, Hb serial turun, tes kehamilan positif. Curiga KET, Dok," kata Vito hati-hati.

"Laporanmu itu enggak lengkap! Bagaimana tanda vitalnya? Ada tanda-tanda syok? Gimana sih, dokter jaga IGD kok asal-asalan!" bentak Tommy.

Belum sempat Vito menjawab, sambungan telepon sudah ditutup. Ia terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Dok, gimana?" suara Prita memecah lamunannya.

"Sebentar, saya coba telepon lagi," jawab Vito

Ia tahu risikonya kalau pasien ini terlambat ditangani. Tapi menelepon dokter Tommy lagi berarti siap menerima semburan kedua.

Di ruang operasi, dokter Tommy masih sibuk dengan kasus perdarahan pada pasien lain. Telepon dari IGD kembali berdering.

"Angkat dan loudspeaker!" perintah dokter Tommy kepada salah satu perawatnya.

"Halo, Dok," suara Vito terdengar di ujung sana. Kali ini suaranya lebih tegas, meski masih ada sedikit getaran.

"Dok, pasien Dyah, Hb turun dari 12 sekarang menjadi 7, tes kehamilan positif. Saya sangat curiga KET dan pasien sudah tampak syok kompensasi. Saya minta izin konsul untuk pro operasi laparotomi segera, Dok," lapor Vito.

“Tadi aku dah nanya, bagaimana tensinya, ini anak ganggu saja orang operasi, dah siapkan laparotomi, jangan lupa informasikan kepada keluarganya dan segera kirim IBS, parah” dokter Tommy marah dan terus melanjutkan operasinya.

Terngiang!! ditelinga Vito apa yang disampaikan dokter Tommy, sambil memegang kepalanya sendiri dengan pelan.

"Informasikan ke keluarga. Siapkan operasi sekarang. Jangan buang waktu!"

"Siap, Dok," jawab Vito. Akhirnya, setidaknya instruksinya jelas sekarang.

Vito menoleh ke Prita, yang sejak tadi memperhatikan dengan cemas.

"Prita, tolong siapkan pasien dan panggil keluarganya ke ruang saya," katanya cepat.

"Siap, Dok," jawab Prita dengan sigap.

Beberapa menit kemudian, setelah dipanggil untuk menerima informasi dan persetujuan tindakan, ayah pasien masuk ke ruangan dokter Vito. Wajahnya penuh kecemasan, tapi juga tersirat ketegangan.

"Silakan duduk, Pak," ujar Vito dengan sopan, sambil berusaha mengatur pikirannya untuk menyampaikan kabar buruk ini.

"Jadi begini, Pak," katanya dengan suara pelan namun tegas. "Dari hasil pemeriksaan, anak Bapak didiagnosis mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu atau KET. Ini adalah kondisi kehamilan di luar kandungan yang sudah mengalami gangguan, pecah, ini kondisi serius yang memerlukan operasi segera untuk menyelamatkan nyawanya." Menyampaikan dengan hati-hati dan perasaan penuh dengan empati.

“Apa, Dok? Kehamilan di luar? Anak saya kan masih gadis, jangan bercanda!” Suara pria itu bergetar, marah dan tegang, matanya memancarkan kekesalan yang mendalam.

Vito menarik napas, mencoba meredakan ketegangan di ruangan yang semakin mencekam. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang penuh pengertian. “Saya paham, Pak. Ini pasti sulit dipercaya, tetapi hasilnya positif. Kehamilan ini memang terjadi di luar rahim, dan kami akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Mohon tenang, kami akan memastikan anak Anda mendapatkan penanganan terbaik.” Pelan tapi pasti, raut wajah pria itu mulai melunak, dan kesadaran akan kenyataan yang tak terhindarkan mulai menghampiri.

"Operasi? Secepat itu, Dok? Apa enggak ada cara lain?" tanya sang ayah, suaranya bergetar.

"Kondisi ini darurat, Pak. Kalau tidak segera ditangani, bisa terjadi perdarahan yang semakin hebat yang membahayakan nyawanya," Vito menjelaskan.

Sang ayah tampak semakin tegang, tapi akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Dok. Kalau itu yang terbaik, lakukanlah," katanya pasrah, dengan tatapan wajah yang kosong.

Vito menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Kami akan segera menyiapkannya."

Ketika keluarga pasien meninggalkan ruangan dengan wajah penuh kecemasan, Vito dengan cepat mengirimkan instruksi ke tim IGD. Suasana di IGD dipenuhi tekanan, namun di dalam kepalanya, dia tahu satu hal yang tak bisa dipungkiri: kecepatan dan ketenangan adalah senjata terbaik di ruang darurat ini. Sambil menatap monitor yang berdetak cepat, pikirannya terpusat pada satu tujuan, menyelamatkan nyawa. Urusan lain, katanya pada dirinya sendiri, bisa menunggu. “Tim, segera siapkan pasien untuk dikirim ke IBS. Jangan ada yang terlambat,” perintahnya, suaranya tegas dan tak bisa ditawar..

Tiba-tiba suara telepon berdering, dari dokter Tommy dan Vito segera mengangkatnya.

"Ya, halo, Dokter Tommy," jawab dokter Vito dengan cepat setelah menerima panggilan.

"Vito, pasien KET ini kenapa belum juga dikirim? Saya sudah menunggu di ruang operasi!" suara dokter Tommy terdengar tajam, memancarkan frustrasi.

"Maaf, Dok. Sedang kami persiapkan. Pasien tadi sempat syok, tensi 50/30, Hb terakhir 5, dan kami sedang usaha darah. Pasien akan segera kami kirim ke IBS setelah persetujuan tindakan dari keluarga," dokter Vito melaporkan dengan nada setenang mungkin, meskipun situasi hatinya sedang berkecamuk.

"Dengar, Vito. Kalau pasien sampai kolaps total sebelum masuk IBS, itu tanggung jawab kamu. Kirim segera, saya sudah tidak mau tahu lagi!" suara dokter Tommy terdengar lebih tegas sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak.

Dokter Vito menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Situasi semakin mendesak, tetapi ia tahu tidak ada waktu untuk emosi.

STABILISASI!!  Kacau!!

"Ibu, Bapak, kami akan segera membawa Dyah ke ruang operasi. Mohon doa dan kepercayaan untuk tim medis," katanya dengan penuh empati sambil menyerahkan dokumen persetujuan kepada ibunya.

Ibunya, dengan tangan gemetar, menandatangani dokumen tersebut. Sang ayah, meskipun masih menunjukkan wajah keras, tampak lebih tenang setelah mendengar kondisi putrinya dijelaskan secara serius oleh dokter Vito.

"Prita, segera bawa pasien ke IBS. Pastikan semua dokumen lengkap, dan informasikan kepada tim operasi bahwa pasien dalam kondisi syok, dengan Hb rendah. Koordinasikan juga dengan tim anestesi untuk stabilisasi awal," perintah dokter Vito kepada Prita.

"Siap, Dok!" Prita bergerak cepat bersama tim, mempersiapkan pasien untuk transportasi ke IBS.

Saat pasien dibawa ke ruang operasi, suasana IGD sedikit mereda, meskipun beban mental masih terasa di antara staf. Dokter Vito mengambil waktu sejenak untuk menenangkan dirinya. Hari ini benar-benar ujian untuk emosinya sebagai dokter jaga.

Di dalam ruang operasi, dokter Tommy bersiap menerima Dyah. "Kondisinya bagaimana sekarang?" tanyanya dengan wajah serius saat pasien dibawa masuk.

"Tensi terakhir saat serah terima 60/40, Hb 5, usaha darah tiga kantong PRC sedang berjalan. Pasien syok hipovolemik akibat perdarahan internal, di IBS sudah resusitasi tambahan dan kini MAP 65 mmHg, siap untuk operasi, Dok," lapor tim anestesi, bersama dr. Gun dokter anestesi yang mendampingi.

"Baik. Kita mulai operasi sekarang juga," jawab dokter Tommy dengan nada yang lebih terkendali.

Saat pintu ruang operasi tertutup, pertanda operasi segera dimulai, prosedur keselamatan pasien timeout dilaksanakan.

 Di IGD, dokter Vito tahu tantangan seperti ini akan selalu ada, dan tugasnya adalah tetap menjadi profesional dalam badai apa pun.

Jaga hari ini selesai!

Di perjalanan menuju parkiran, dokter Vito mencoba mengosongkan pikirannya. Hari ini benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena jumlah pasien yang luar biasa banyak, tapi juga tekanan emosi dari berbagai sisi, dari dokter Tommy yang terus-menerus marah, keluarga pasien yang penuh kekhawatiran, hingga tatapan-tatapan menyimpan harapan dari pasien yang berharap cepat sembuh.

Setelah memasuki mobilnya, ia duduk sejenak, tidak langsung menyalakan mesin. Dalam keheningan mobil, dokter Vito menarik napas panjang. “Gila sih, hari ini,” gumamnya sambil memejamkan mata sejenak. Rasanya seperti medan perang, tetapi tanpa senjata untuk melawan kecemasan dan tekanan batin.

Namun, bayangan Prita sempat melintas di benaknya. Tatapan malu-malu gadis itu tadi membuatnya sedikit tersenyum. "Hah, kok bisa-bisanya mikir itu sih," pikir Vito sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tapi tidak bisa dipungkiri, sesuatu tentang Prita memberinya sedikit energi positif di tengah harinya yang suram.

Tak lama, teleponnya berbunyi. Ia mengangkatnya dengan enggan. "Halo?"

"Dokter Vito, ini dari ruang perawatan. Pasien Dyah sudah masuk ICU, tapi keluarganya ingin berbicara lagi dengan dokter. Apa Anda bisa kembali sebentar?" suara dari ujung telepon terdengar tegas tapi sopan.

"Ah... ya, saya akan kembali ke IGD dulu, sebentar lagi sampai ke ICU," jawabnya tanpa pikir panjang. Meskipun sudah lelah, sudah di dalam mobilnya dan tinggal bergerak pulang tetapi hati kecilnya tahu bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawabnya.

Naluri tenaga kesehatan! Seorang Dokter!

Sesampainya di ruang perawatan, dokter Vito langsung menemui keluarga pasien. Kali ini, raut wajah Bapak-nya Dyah terlihat sedikit lebih tenang. "Dokter, bagaimana kondisi Dyah sekarang?"

"Alhamdulillah, Pak, operasinya berjalan lancar. Sekarang Dyah sedang dalam pemantauan di ICU. Kami akan terus memantau kondisinya agar segera stabil. Bapak bisa sedikit tenang sekarang," jelas dokter Vito dengan senyuman yang menenangkan.

"Terima kasih, Dok, sudah menyelamatkan anak saya,"  kali ini dengan nada tulus dan mata yang sedikit berkaca-kaca. Segala basa-basi tetap dilakukan antara dokter Vito dan keluarga pasien, semuanya untuk mendukung harmonisasi hubungan yang baik antar manusia.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu ditangani mendesak, dokter Vito kembali ke mobilnya. Di perjalanan pulang, ia merasa sedikit lebih ringan. Hari yang berat memang, tetapi menyaksikan pasien yang tertolong selalu memberinya kepuasan tersendiri.

Sesampainya di rumah, dokter Vito merebahkan diri di sofa, mencoba mengusir semua kelelahan. Namun, pesan singkat masuk di ponselnya.

Prita "Terima kasih untuk hari ini, Dok. Senang bisa belajar dari dokter yang sabar dan profesional."

Senyum kembali terbit di wajah dokter Vito. Pesan itu terasa seperti penghargaan kecil tapi berarti setelah seharian penuh tekanan. "Ah, anak itu," gumamnya sambil mengetik balasan, "Sama-sama. Terima kasih juga sudah banyak membantu."

Malam itu, ia merasa lebih segar saat bersiap untuk nongkrong dengan teman-temannya. Entah kenapa, bayangan IGD yang penuh tekanan kini terasa sedikit lebih ringan. Ada semacam harapan bahwa meskipun dunia medis keras dan penuh tantangan, masih ada momen-momen kecil yang bisa membuat segalanya terasa layak dijalani.

"Eh, iya, itu Adrian. Kok bisa sampai sini? Dia kan harusnya masih di RS," kata Dita sambil memiringkan kepalanya ke arah pintu. Sosok dokter Adrian, yang terlihat santai dengan jaket hitam dan jeans, melangkah masuk ke kafe. Matanya menyapu ruangan hingga berhenti pada kelompok mereka.

"Eh, bro, Adrian nongkrong juga ternyata," ujar Dimas sambil melambai ke arah Adrian.

Adrian tersenyum kecil dan berjalan ke meja mereka. "Wah, ngumpul-ngumpul nggak ngajak-ngajak nih," katanya sambil menarik kursi di sebelah Dimas dan duduk.

"Ya ngga kali, masa kita ngajak dokter yang lagi jaga sore," canda Vito sambil menyeruput kopi. "Jangan-jangan pasien pada kabur karena dokternya kabur ke sini?"

Adrian menghela napas panjang. "Nggak juga, aku nda jaga kok, digantikan dokter Faqih. Udah aku koordinasikan sama dia dan perawat jaga”.

Dita memandang Adrian dengan heran. "Tapi kayaknya ada yang beda deh sama kamu, Mas. Ada apa?"

Adrian tersenyum pahit sambil mengusap wajahnya. "Kebetulan tadi pagi pasien terakhir jaga ruang agak berat. Pasien anak-anak, usianya baru enam tahun, baru pindahan dari IGD, tiba-tiba gagal napas. Orang tuanya terlambat bawa ke RS karena berpikir anaknya cuma flu biasa. Sudah kita resusitasi, tapi..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Nggak tertolong."

Hening sesaat menyelimuti meja mereka. Lyan, yang biasanya paling heboh, hanya diam sambil memainkan sedotan minumannya. Dita terlihat iba, dan Vito menatap Adrian dengan pandangan penuh pengertian.

"Kasus kayak gitu memang bikin berat, bro," kata Dimas akhirnya. "Apalagi pasien anak. Rasanya kayak kita gagal banget sebagai dokter, padahal kita udah coba semua."

Adrian mengangguk lemah. "Iya. Orang tuanya nangis nggak berhenti, terus bilang, 'Kenapa nggak dari awal kasih tahu anak kami bakal nggak selamat?' Aku cuma bisa minta maaf, meskipun tahu itu nggak cukup."

Dita menyentuh lengan Adrian dengan lembut. "Kamu udah melakukan yang terbaik. Kadang nggak semua hal ada di tangan kita, Mas Adrian."

Vito menyahut, "Betul, Dit. Kita ini dokter, bukan Tuhan. Tapi aku ngerti, rasa itu tetap nggak hilang. Apalagi kalau kasusnya kayak anak kecil."

Adrian tersenyum kecil, meski matanya masih tampak lelah. "Thanks, guys. Aku cuma butuh ngobrol aja. Nggak enak  perasaan begini dibawapulang."

Suasana di meja perlahan mencair lagi. Mereka mulai bercanda, meskipun sesekali pembicaraan kembali ke topik pengalaman masing-masing di rumah sakit. Vito, yang tadinya merasa hari itu adalah hari terburuknya, mulai merasa lebih baik mendengar cerita teman-temannya.

"Kayaknya hidup dokter ini penuh drama ya," canda Lyan sambil tertawa. "Kalau nggak pasien ngamuk, keluarga pasien ngamuk. Kalau nggak, ya rasa bersalah karena nggak bisa nyelamatin."

"Tapi itu semua yang bikin profesi ini bermakna," tambah Dita. "Setiap hari kita dihadapkan sama nyawa manusia. Itu bukan tanggung jawab yang kecil."

Vito mengangguk sambil tersenyum. "Kadang aku merasa ini semua terlalu berat, tapi di sisi lain, aku nggak bisa bayangin hidupku tanpa jadi dokter. Mungkin aku cuma butuh lebih banyak ngopi."

"Haha, setuju!" sahut Dimas. "Kopi adalah obat dokter jaga!" Dimas adalah dokter di rumah sakit sebelah, karena satu alumni dengan Vito, jadi sering ikutan berkumpul bersama, kadang kalau sedang selo juga bisa gantiin satu dengan yang lain.

Mereka semua tertawa, di kafe kecil itu, melupakan sejenak tekanan pekerjaan dan mengisi ulang energi mereka. Namun, jauh di lubuk hati, mereka tahu bahwa esok hari tantangan baru sudah menunggu. Adrian, yang biasanya serius, kali ini ikut tertawa bersama mereka, membiarkan suasana yang hangat itu mencairkan ketegangan di dalam ruangan. Mereka tertawa, meski dalam hati masing-masing memahami kenyataan dunia medis di rumah sakit—penuh tekanan, improvisasi, dan rasa saling mengandalkan.

"Ya begitulah hidup di rumah sakit," gumam Vito pelan, cukup keras untuk didengar semua orang. "Di satu sisi, pelayanan pasien selalu dianggap nomor satu. Tapi di sisi lain, kadang-kadang kita sendiri seperti nggak dihargai. Orang luar sering nggak tahu bagaimana sulitnya menjaga pelayanan tetap berjalan tanpa celah."

Adrian menatap Vito sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Benar juga, Vito. Tapi, mau gimana lagi? Dunia kita ya memang begini. Ngawur tapi harus tetap profesional."

Tawa mereka mulai mereda, dan suasana perlahan kembali serius. Jam dinding menunjukkan pukul 21.45, menandakan waktu untuk kembali mengisi energi untuk hari esok. Mereka berpamitan satu per satu, meninggalkan kafe kecil itu dengan langkah ringan, berharap malam ini membawa tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah.

=gn=

 

 

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar