CERPEN NOSTALGIA • HUMOR • PERSAHABATAN
EXACT ONE
Seribu
Kenangan, dan Waktu yang Tak Bisa Pulang
Oleh Igun
Winarno
Kelas Kecil yang Terlalu Ramai
untuk Dilupakan
Kalau ada yang bertanya, di mana
sebagian masa mudaku tertinggal, aku akan menjawab tanpa berpikir panjang.
Di sebuah ruang kelas SMA Islam
Ta’allumul Huda Bumiayu.
Ada masa dalam hidup yang tidak
pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berpindah tempat, dari bangku sekolah ke
sudut ingatan, dari riuh tawa menjadi senyum kecil ketika kita sedang
sendirian.
Dan bagiku, salah satu masa itu
bernama Exact One.
Sebuah kelas kecil di SMA Islam
Ta’allumul Huda Bumiayu. Kelas dua A1, jurusan Fisika. Hanya dua puluh empat anak manusia dengan isi kepala,
perangai, dan mimpi yang berbeda-beda.
Kami mungkin bukan kelas yang
paling tertib. Bukan pula kumpulan murid yang selalu mengangguk patuh ketika
guru berbicara. Tetapi kami punya sesuatu yang rasanya sulit ditemukan kembali
setelah dewasa: keberanian untuk menjadi diri sendiri, persahabatan yang tidak
banyak menuntut, dan keyakinan bahwa dunia masih cukup luas untuk ditaklukkan
bersama.
Dua puluh empat orang.
Jumlah yang tidak banyak, bahkan
mungkin lebih sedikit daripada jumlah murid yang dihukum berdiri di lapangan
ketika upacara. Tetapi jangan salah. Dua puluh satu orang itu ternyata cukup
untuk membuat sebuah sekolah mempunyai cerita yang tidak habis dibicarakan,
bahkan sampai puluhan tahun kemudian.
Ada Ardan, Susilo, Kholis, Edi,
Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Fakhrudin, Hadi, Tasminah, Yantie, Irni, Ida,
Evi, dan teman-teman lainnya yang namanya tetap tersimpan dalam lemari
ingatanku.
Dan tentu saja, ada aku.
Igun.
Seorang anak SMA yang saat itu belum tahu bahwa hidup kelak
akan jauh lebih rumit daripada soal-soal Fisika.
“Gun, menurutmu kita ini kelas unggulan apa kelas buangan?”
tanya Ardan suatu hari.
Aku memandang sekeliling, lalu menjawab dengan penuh
keyakinan.
“Unggulan, Dan. Jelas unggulan!”
“Kok bisa?”
“Lha, muridnya cuma dua puluh satu. Berarti kita ini
anak-anak pilihan. A1, lho! Katanya kelas anak pinter… Wakakak!”
Helmi yang mendengar percakapan itu langsung menyahut.
“Pilihan apanya? Mungkin yang lain sudah diselamatkan masuk
kelas sebelah!”
Kami pun tertawa.
Begitulah Exact One.
Sering kali tidak jelas siapa yang memulai pembicaraan,
tetapi selalu ada yang berhasil mengubahnya menjadi keributan. Dari persoalan
rumus Fisika sampai urusan yang sama sekali tidak penting, semuanya bisa
menjadi bahan perdebatan, lalu berakhir dengan gelak tawa.
Di kelas itu, kami belajar rumus, teori, dan berbagai
pelajaran sekolah. Namun, ada satu pelajaran yang tidak pernah tercantum dalam
kurikulum.
Bagaimana menjadi sahabat.
Dan ternyata, pelajaran itulah yang paling lama melekat dalam
hidup kami.
Ekspedisi Kaligua: Berangkat sebagai Petualang, Pulang sebagai Orang
Tersesat
Suatu hari, entah dari kepala siapa, muncul sebuah gagasan
yang terdengar sederhana, tetapi kelak menjadi salah satu petualangan paling
sulit dilupakan.
“Ke Kaligua, yuk!” seseorang mengusulkan.
“Ngapain?”
“Jalan-jalan. Lihat pegunungan, curug, menikmati alam.”
“Biayanya?”
“Sing penting mangkat disit rah. Duit urusan mengko!” Kholik,
yang memang terkenal kocak, tiba-tiba menyela.
Itulah prinsip ekonomi anak SMA zaman kami.
Perencanaan sederhana, keberanian luar biasa, dan cadangan
dana yang kadang lebih tipis daripada buku catatan setelah dipakai satu
semester.
Maka berangkatlah kami.
Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Hadi, Tobiin, Nadirin, Kholik,
Helmi, Fakhrudin, aku, dan beberapa teman lainnya.
Pagi itu, dunia terasa begitu luas dan bersahabat. Jalanan
mulai menanjak, udara pegunungan semakin dingin, dan pepohonan seakan menyambut
rombongan anak-anak SMA yang merasa dirinya sedang melakukan ekspedisi besar.
Kami berjalan dengan semangat yang seolah tidak akan pernah
habis. Sesekali bercanda, saling mengejek, lalu tertawa tanpa alasan yang
jelas.
Sampai akhirnya jalan yang kami lalui mulai terasa asing.
“Gun, iki dalane bener apa ora?” tanya Susilo.
“Bener, kayane.”
“Kok kayane?”
“Ya nek ngerti tenan, jenenge dudu petualangan!”
Ardan tertawa. Yang lain pun ikut terbahak.
“Pokoke maju terus. Wong gunung ora bakal pindah!” Kholis,
yang suka romantis, tiba-tiba memberikan semangat dengan kalimat yang terdengar
seperti petuah seorang pendaki berpengalaman.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Sampai akhirnya tiba di sebuah persimpangan.
Kami berhenti.
Memandang ke kanan.
Memandang ke kiri.
Lalu saling memandang.
“Dan, ke mana?”
“Menurutku kanan.”
“Alasane?”
“Perasaanku.”
Helmi menggelengkan kepala.
“Waduh, kita ini anak jurusan Fisika. Masa menentukan arah
pakai perasaan?”
Helmi memang terkenal sebagai anak paling pintar di kelas
kami. Meski begitu, dia tetap rendah hati dan tidak pernah banyak tingkah.
“Lha terus pakai apa?” seseorang bertanya.
“Pakai logika!” jawab Helmi mantap.
“Logikamu ke mana?”
Helmi terdiam sebentar. Matanya memandang dua jalan di
hadapan kami, seolah sedang menghitung sebuah persamaan yang sangat rumit.
“Kayaknya kiri.”
“Alasane?”
“Perasaanku juga.”
Meledaklah tawa kami di tengah jalan pegunungan.
Ternyata, menjadi anak jurusan Fisika tidak otomatis membuat
kami pandai menentukan arah. Rumus-rumus yang selama ini kami pelajari rupanya
belum menyediakan jawaban untuk persoalan sederhana: jalan mana yang harus kami
pilih agar tidak tersesat?
Semakin jauh berjalan, semakin tidak jelas arah yang kami
tempuh.
Sore mulai turun.
Kabut datang seolah tanpa permisi, menyelimuti pepohonan dan
jalan setapak yang mulai kehilangan cahaya. Kaki mulai pegal, perut mulai
lapar, dan suara-suara yang tadinya penuh semangat perlahan berubah menjadi
keluhan.
“Gun, nek ora tekan-tekan, awake dhewek turu nang endi?”
tanya Kholik yang mulai khawatir.
“Tenang, ana musala.”
“Lha musalane nang endi?”
“Ya digoleki!”
“Walah, Gun! Kowe ki nek ngomong gampang temen!”
Kami kembali tertawa, meskipun kali ini tawa itu mulai
bercampur rasa cemas.
Malam akhirnya datang sebelum semua persoalan terjawab.
Beruntung, setelah perjalanan yang terasa begitu panjang,
kami menemukan sebuah musala. Tempat sederhana yang malam itu terasa seperti
hotel berbintang lima bagi rombongan petualang amatir yang sudah kehabisan
tenaga.
Tidak ada kasur empuk. Tidak ada kamar hotel. Tidak ada
makanan istimewa.
Hanya lantai musala, tubuh yang kelelahan, udara pegunungan
yang menusuk tulang, dan beberapa bungkus mi instan yang dimasak dengan segala
keterbatasan.
Namun, entah mengapa, rasa mi malam itu seolah jauh lebih
nikmat daripada hidangan mahal yang kami jumpai bertahun-tahun kemudian.
Mungkin karena lapar.
Mungkin karena dingin.
Atau mungkin karena mi itu kami makan bersama orang-orang
yang saat itu belum mengerti bahwa kebersamaan seperti itu, suatu hari nanti,
akan menjadi sesuatu yang sangat mahal.
Malam semakin larut.
Setelah seharian berjalan, kami akhirnya menemukan sebuah
kemewahan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Lantai menjadi kasur.
Tas menjadi bantal.
Sarung dan jaket menjadi selimut.
Dan perut yang lapar mulai menuntut haknya.
Celingak-celinguk, mulai membuka rangsel yang ternyata, di antara bekal
yang tersisa, masih ada beberapa bungkus “Sarimi”.
Mendadak mata yang mulai sayu kembali berbinar. Rasa kantuk
seolah menghilang, digantikan oleh semangat baru yang bahkan tidak kami rasakan
ketika mendaki tadi pagi.
“Masak mi, yuk!” usulku.
Usulan itu langsung disetujui secara aklamasi.
Tidak perlu rapat. Tidak perlu voting. Tidak perlu
persetujuan wali kelas. Kalau urusan makan, demokrasi Exact One selalu
berjalan sempurna.
Air mulai dipanaskan. Bungkus-bungkus Sarimi dikeluarkan.
Peralatan seadanya disiapkan, sementara beberapa orang mulai sibuk memberikan
instruksi, seolah kami sedang menggelar pesta makan malam di restoran ternama.
“Sing penting banyune akeh, ben kabeh keduman!” celetuk
seseorang.
“Lha nek banyune kakehan, kuwe jenenge sop mi, dudu Sarimi!”
Tawa kembali pecah.
Entah siapa yang paling pandai memasak malam itu. Yang jelas,
tidak ada yang mengeluh. Bahkan kalau mi itu sedikit terlalu matang atau
kuahnya lebih banyak daripada isinya, semuanya tetap terasa istimewa.
Beberapa bungkus Sarimi, dimakan bersama-sama di tengah
dinginnya pegunungan, ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan yang begitu
sederhana.
Dulu, kami menikmatinya dengan gelak tawa.
Kini, puluhan tahun kemudian, kenangan itu hanya mampu kami
sambut dengan senyum, kadang disertai kerinduan yang diam-diam menyelinap ke
dalam dada.
Malam itu, di sebuah musala di kaki Pegunungan Kaligua, kami
belajar bahwa persahabatan tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Kadang ia
justru tumbuh dari hal-hal kecil yang nyaris tidak berarti ketika dijalani,
tetapi menjadi begitu berharga setelah waktu berlalu.
Sepiring mi.
Segelas air.
Lantai yang dingin.
Dan teman-teman yang kelak dikenang
bukan karena nilai ulangannya, melainkan karena kisah-kisah sederhana yang tak
pernah habis diceritakan.
Keesokan harinya, ketika kami menikmati keindahan curug di
kawasan Kaligua, semua kelelahan seakan terbayar.
Air jatuh dari ketinggian, udara bersih memenuhi paru-paru,
dan wajah-wajah muda kami tampak begitu bahagia.
Aku tidak tahu apakah saat itu ada di antara kami yang
berpikir bahwa perjalanan itu kelak akan menjadi kenangan seumur hidup.
Mungkin tidak.
Sebab ketika masih muda, kita sering menganggap kebersamaan
sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.
Padahal, kelak kita akan merindukan bahkan perjalanan yang
membuat kita tersesat.
Dan sampai sekarang, kalau ingat Kaligua, pertanyaanku masih
sama.
“Nadirin... nang endi kowe saiki?”
The People Is... dan Guru Bahasa Inggris yang Hampir Kehilangan Kesabaran
Sebagai kelas yang merasa mempunyai identitas istimewa, kami
pernah membuat kaus dengan nama-nama anggota kelas. Tentu saja, harus ada tulisan bahasa
Inggris.
Karena menurut logika remaja saat itu, sesuatu akan terlihat
lebih keren kalau ditulis dalam bahasa Inggris.
Maka terciptalah kalimat bersejarah:
THE PEOPLE IS...
Diikuti nama-nama kami. Kami bangga sekali. Sampai suatu hari guru bahasa Inggris melihatnya.
“Who made this?”
Kami saling pandang. Tidak ada yang langsung mengaku. Barangkali semua sedang menerjemahkan
pertanyaannya.
Guru menunjuk tulisan itu.
“Why THE PEOPLE IS? People itu jamak. Seharusnya ARE!”
Kami terdiam. Kemudian seseorang mencoba menjawab.
“Tapi, Pak, kan orangnya satu kelas.” Kholik
mencoba mendebat sebagai anak muda, tetapi terlihat jelas malah menunjukkan
konyolannya, heheheheh…
“Justru karena banyak orang, harus pakai ARE!”
Ardan berbisik kepadaku.
“Gun, berarti kaose salah kabeh?”
Aku mengangguk pelan.
“Secara grammar, iya.”
“Terus piye?”
“Ya dipakai bae. Wis telanjur dicetak.”
Kami menahan tawa.
Guru masih menjelaskan kesalahan tata bahasa tersebut dengan
sungguh-sungguh. Sementara kami diam-diam menyadari bahwa sebuah kesalahan telah berubah
menjadi identitas bersama.
Bertahun-tahun kemudian, aku masih mengingat tulisan itu.
The People Is...
Salah secara tata bahasa. Tetapi rasanya benar secara kenangan. Karena kami memang sekumpulan orang
yang berbeda, tetapi selalu merasa menjadi satu.
Dan kalau sekarang kaus itu masih ada, aku tidak ingin
memperbaiki tulisannya.
Biarkan saja.
Sebab terkadang sesuatu yang tidak sempurna justru menjadi
bagian paling sempurna dari sebuah kenangan.
Nilai Seratus yang Dianggap Terlalu Sempurna
Aku pernah mendapatkan nilai seratus dalam pelajaran sejarah. Tentu saja senang. Anak SMA mana yang tidak senang
mendapat nilai sempurna? Namun, kegembiraan itu mendadak berubah menjadi tanda tanya ketika dalam
laporan nilai tertulis sembilan puluh.
Aku merasa ada yang tidak beres.
Maka aku bertanya.
“Pak, nilai saya kan seratus. Kok di laporan jadi sembilan
puluh?”
Jawaban yang kudapat sungguh menarik.
“Tidak patut seorang murid mendapat nilai seratus.”
Aku terdiam beberapa detik.
Mencoba mencerna filsafat pendidikan yang baru saja kudengar.
“Lho, Pak, kalau jawaban saya benar semua, salahnya di mana?”
“Pokoknya tidak pantas seratus.”
Aku semakin penasaran.
“Berarti nilai seratus itu sebenarnya untuk siapa, Pak?”
Suasana mulai menegang.
Di belakang, beberapa teman mulai menahan senyum.
Ardan berbisik.
“Gun, wis Gun. Mengko malah dadi wolung puluh.”
Aku menoleh.
“Lha nek dibiarkan, besok jadi tujuh puluh!”
Helmi menimpali pelan.
“Berarti makin diprotes, makin murah nilainya.”
Kami hampir tertawa, meskipun situasinya tidak sepenuhnya
lucu. Persoalan itu
akhirnya menjadi salah satu kisah perdebatan kami dengan pihak sekolah,
Guru Sejarah, ternyata beliau sudah almarhum dan Allah selalu memberikan dan
menempatkan jalan surganya.
Sekarang aku memandangnya dengan cara berbeda. Nilai seratus memang tidak menentukan
masa depan seseorang. Tetapi keberanian bertanya tentang sesuatu yang dianggap tidak adil
barangkali ikut membentuk watak kami. Hanya saja, seandainya bisa kembali ke masa itu, mungkin aku
akan menyampaikan protes dengan sedikit lebih tenang.
Sedikit saja.
Sebab kalau terlalu tenang, barangkali aku bukan Igun yang
dahulu.
Pak Royani, Pak Chudri, dan Demokrasi Versi Exact One
Ketika akan naik ke kelas tiga, kami menghadapi persoalan
lain.
Wali kelas.
Kami ingin Pak Royani, yang mendampingi kami di kelas dua,
tetap menjadi wali kelas kami. Tetapi ada keinginan agar Pak Chudri menjadi wali kelas berikutnya. Bagi sekolah, mungkin ini urusan
penugasan guru.
Bagi kami, ini persoalan prinsip.
“Pokoke Pak Royani!” kata seorang teman.
“Setuju!”
“Kenapa harus Pak Royani?” tanya yang lain.
“Karena sudah kenal kita.”
“Lha Pak Chudri juga bisa kenal.”
“Bisa. Tapi perlu waktu.”
“Berapa lama?”
“Minimal sampai lulus!”
Kami tertawa.
Tetapi di balik kelucuan itu, kami memang bersungguh-sungguh. Kami merasa membutuhkan wali kelas
yang hadir, memahami, dan mendampingi kami. Perdebatan berkembang. Ada ketersinggungan. Pihak sekolah dan
kesiswaan ikut terlibat.
Suasana yang semula seperti musyawarah kelas berubah menjadi
persoalan serius. Kami pun mulai mengenal kenyataan bahwa memperjuangkan keinginan tidak
selalu semudah mengangkat tangan dalam rapat kelas.
Kini, setelah dewasa, aku bisa membayangkan betapa
merepotkannya kami bagi para guru.
Dua puluh empat murid.
Jumlah kecil.
Tetapi kalau semuanya berpendapat, mungkin rasanya seperti
menghadapi dua ratus tigapuluh orang. Pak Royani dan Pak Chudri, di mana
pun berada, semoga berkenan menerima kenangan ini sebagai bagian dari
perjalanan kami.
Kalau dahulu kami terlalu keras kepala, mungkin itu karena
kami belum memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang berani
mempertahankan pendapat.
Tetapi juga tentang belajar menghargai orang yang berbeda
pandangan.
Tepi Kalierang, Piala Besar, dan Bu
Sri yang Dihujani Pertanyaan
Di balik berbagai kenakalan itu, kami punya satu kebanggaan.
Cerdas cermat P4.
Aku, Ardan, dan Helmi menjadi tim lomba. Kholis sering ikut
belajar dan mempersiapkan materi bersama kami. Tempat belajar favorit kami bukan
ruang kelas yang megah.
Melainkan pinggir Kalierang.
Di sanalah kami duduk bersama, membuka buku, menghafal materi,
dan saling menguji pengetahuan.
“Dan, coba pertanyaan!” kataku.
Ardan membuka catatan.
“Siap. Sebutkan...”
Belum selesai pertanyaan dibacakan, Helmi sudah menyela.
“Sebentar, sebentar. Jangan yang gampang!”
“Lha, belum selesai kok sudah tahu gampang?”
“Dari mukamu kelihatan.”
Kholis tertawa.
“Wis, sing serius. Nek kalah, isin!”
Kami pun kembali belajar. Kadang begitu serius sampai lupa waktu. Kadang justru lebih banyak tertawa
daripada membaca.
Namun, perlahan persiapan itu membuahkan hasil.
Kami berhasil menjadi juara cerdas cermat tingkat kabupaten,
bahkan dua tahun berturut-turut, lalu maju ke tingkat karesidenan. Piala terbesar yang kami raih
akhirnya berdiri di lemari piala sekolah.
Setiap melihatnya, ada rasa bangga. Bukan semata-mata karena menang. Tetapi karena kami tahu bagaimana
perjuangan di baliknya.
Namun, ada satu persoalan yang belum selesai di hati kami.
Kami merasa kurang mendapatkan bimbingan dari guru PMP, Bu
Sri, dalam mempersiapkan lomba. Sebagai remaja yang sedang penuh semangat dan sedikit kurang bijaksana,
kami memilih cara protes yang cukup kreatif.
Kami menyiapkan banyak pertanyaan.
Sangat banyak.
Dan semuanya akan diajukan ketika pelajaran PMP berlangsung.
Hari yang ditentukan pun tiba.
Bu Sri masuk kelas.
Pelajaran dimulai.
Belum lama beliau menjelaskan, Aku
mengangkat tangan, sebuah
pertanyaan mulai diluncurkan.
“Bu, saya mau bertanya.”
“Silakan.”
Pertanyaan dijawab.
Tangan lain terangkat.
“Bu, saya juga mau bertanya.”
Dijawab lagi.
Tangan berikutnya terangkat.
“Bu, kalau menurut ketentuan yang ini bagaimana?”
Bu Sri menjelaskan.
Belum selesai benar, muncul pertanyaan baru.
Dan begitu seterusnya.
Aku melirik Ardan.
Ardan melirik Helmi.
Helmi menunduk menahan senyum.
Kholis pura-pura serius membaca buku.
Pertanyaan datang dari segala penjuru kelas.
Kalau dilihat sepintas, mungkin kami tampak seperti
murid-murid paling antusias terhadap Pendidikan Moral Pancasila. Padahal, di balik antusiasme itu ada
sebuah skenario kecil yang telah kami susun.
Waktu pelajaran terus berjalan.
Materi belum sempat banyak disampaikan. Pertanyaan belum juga habis.
Sampai akhirnya bel berbunyi.
Pelajaran selesai.
Kami keluar kelas dengan perasaan puas, seperti baru
memenangkan pertandingan.
“Dan, sukses!”
“Luar biasa. Satu jam penuh tanya jawab!”
Helmi tertawa.
“Ini bukan pelajaran PMP. Ini konferensi pers!”
Kami tertawa sepanjang lorong.
Sekarang, jika mengingatnya, aku merasa geli sekaligus
sedikit bersalah.
Bu Sri tahu, marah dan mungkin pulang hari itu dengan kepala
pening. Dan kami pulang
dengan perasaan menjadi pahlawan kecil.
Begitulah remaja.
Kadang benar dalam kegelisahan, tetapi keliru dalam cara
menyampaikannya.
Andaikan sekarang bisa bertemu Bu Sri, mungkin aku ingin
berkata:
“Bu, mohon maaf. Dulu kami terlalu banyak bertanya bukan
karena tidak menghormati Ibu. Kami hanya belum tahu bagaimana menyampaikan
kekecewaan dengan baik.”
Lalu mungkin, kalau beliau masih mengingat kami, beliau akan
menjawab:
“Oh, jadi kalian yang bikin Ibu tidak sempat mengajar itu?”
Dan aku akan tersenyum.
“Iya, Bu. Tapi sekarang kami sudah tobat.”
Barangkali Ardan dari belakang akan berbisik:
“Tobat sementara, Gun?”
Mutiah, Hadi, Tasminah, dan Tawa yang Sekarang Menjadi Doa
Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh guru mana pun
kepada kami. Waktu itu berjalan dan suatau masa, suatu hari, tidak semua anggota kelas
akan bisa hadir kembali.
Dahulu kami mengira waktu akan selalu panjang. Kami mengira setiap perpisahan
hanyalah jeda sebelum pertemuan berikutnya. Tetapi kehidupan ternyata mempunyai cara sendiri untuk
mengajari manusia tentang kehilangan.
Waktu pertama
datang kabar tentang kepergian seorang mantan siswa yang begitu kalem , lembuta
dengan senyumnya, kabar duka tentang kepergiannya dan belum lama ini, Hadi telah berpulang.
Hadi yang dahulu sering membuat suasana menjadi hidup dengan
celotehannya. Aku masih bisa
membayangkan bagaimana sebuah percakapan biasa mendadak menjadi lucu karena
komentarnya. Seolah selalu
ada sesuatu yang bisa ditertawakan.
Dan sekarang, ketika namanya disebut, kami mungkin masih
tersenyum. Tetapi senyum
itu tidak lagi sama.
Ada rindu yang diam-diam menyelinap.
Ada kesadaran bahwa suara yang pernah begitu akrab kini hanya
dapat kami dengarkan melalui ingatan.
Begitu pula Tasminah.
Teman perempuan kami yang energik, yang membawa warna
tersendiri dalam kehidupan Exact One. Dulu, di tengah keramaian kelas, kehadirannya adalah bagian
dari suasana yang membuat hari-hari terasa hidup.
Menyusul
berita kepergian Mutiah dan Hadi. Kini ia pun telah lebih dahulu berpulang. Akupun dalam renung, menitipkan doa untuk mereka, bacaan Al-Fatihah.
Dahulu kita pernah berjalan bersama, tertawa tanpa beban, dan
berbagi cerita dalam kesederhanaan. Kini, sebagian dari kita telah melanjutkan
perjalanan menuju keabadian.
Ya Allah, ampunilah segala dosa mereka, lapangkan dan
terangilah alam kuburnya, terimalah seluruh amal kebaikannya, dan tempatkanlah
mereka di tempat terbaik di sisi-Mu.
Sahabat, mungkin langkah kita tak lagi seiring, tetapi
kenangan kita tak akan pernah berakhir. Semoga kelak Allah mempertemukan kita
kembali, bukan lagi di ruang kelas Exact
One, melainkan di taman-taman surga-Nya.
Kini..
Kadang aku membayangkan kami sedang mengadakan reuni. Satu per satu datang. Berjabat tangan. Saling memandang wajah yang telah
berubah.
“Wah, rambutmu wis akeh sing putih!”
“Lha kowe malah wis ora nduwe rambut!”
“Sing penting isih ganteng!”
“Ganteng saka endi? Awak be bunder!”
Lalu semua tertawa.
Tetapi di antara tawa itu, tiba-tiba ada seseorang yang
bertanya pelan.
“Mutiah, Hadi, ora teka, ya?”