on 15 Oktober 2026, 11:57
  • #SMA #cerpen #bumiayu

CERPEN NOSTALGIA • HUMOR • PERSAHABATAN

EXACT ONE

Seribu Kenangan, dan Waktu yang Tak Bisa Pulang

Oleh Igun Winarno

 

Kelas Kecil yang Terlalu Ramai untuk Dilupakan

Kalau ada yang bertanya, di mana sebagian masa mudaku tertinggal, aku akan menjawab tanpa berpikir panjang.

Di sebuah ruang kelas SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu.

Ada masa dalam hidup yang tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berpindah tempat, dari bangku sekolah ke sudut ingatan, dari riuh tawa menjadi senyum kecil ketika kita sedang sendirian.

Dan bagiku, salah satu masa itu bernama Exact One.

Sebuah kelas kecil di SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu. Kelas dua A1, jurusan Fisika. Hanya dua puluh empat anak manusia dengan isi kepala, perangai, dan mimpi yang berbeda-beda.

Kami mungkin bukan kelas yang paling tertib. Bukan pula kumpulan murid yang selalu mengangguk patuh ketika guru berbicara. Tetapi kami punya sesuatu yang rasanya sulit ditemukan kembali setelah dewasa: keberanian untuk menjadi diri sendiri, persahabatan yang tidak banyak menuntut, dan keyakinan bahwa dunia masih cukup luas untuk ditaklukkan bersama.

Dua puluh empat orang.

Jumlah yang tidak banyak, bahkan mungkin lebih sedikit daripada jumlah murid yang dihukum berdiri di lapangan ketika upacara. Tetapi jangan salah. Dua puluh satu orang itu ternyata cukup untuk membuat sebuah sekolah mempunyai cerita yang tidak habis dibicarakan, bahkan sampai puluhan tahun kemudian.

Ada Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Fakhrudin, Hadi, Tasminah, Yantie, Irni, Ida, Evi, dan teman-teman lainnya yang namanya tetap tersimpan dalam lemari ingatanku.

Dan tentu saja, ada aku.

Igun.

Seorang anak SMA yang saat itu belum tahu bahwa hidup kelak akan jauh lebih rumit daripada soal-soal Fisika.

“Gun, menurutmu kita ini kelas unggulan apa kelas buangan?” tanya Ardan suatu hari.

Aku memandang sekeliling, lalu menjawab dengan penuh keyakinan.

“Unggulan, Dan. Jelas unggulan!”

“Kok bisa?”

“Lha, muridnya cuma dua puluh satu. Berarti kita ini anak-anak pilihan. A1, lho! Katanya kelas anak pinter… Wakakak!”

Helmi yang mendengar percakapan itu langsung menyahut.

“Pilihan apanya? Mungkin yang lain sudah diselamatkan masuk kelas sebelah!”

Kami pun tertawa.

Begitulah Exact One.

Sering kali tidak jelas siapa yang memulai pembicaraan, tetapi selalu ada yang berhasil mengubahnya menjadi keributan. Dari persoalan rumus Fisika sampai urusan yang sama sekali tidak penting, semuanya bisa menjadi bahan perdebatan, lalu berakhir dengan gelak tawa.

Di kelas itu, kami belajar rumus, teori, dan berbagai pelajaran sekolah. Namun, ada satu pelajaran yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum.

Bagaimana menjadi sahabat.

Dan ternyata, pelajaran itulah yang paling lama melekat dalam hidup kami.

Ekspedisi Kaligua: Berangkat sebagai Petualang, Pulang sebagai Orang Tersesat

Suatu hari, entah dari kepala siapa, muncul sebuah gagasan yang terdengar sederhana, tetapi kelak menjadi salah satu petualangan paling sulit dilupakan.

“Ke Kaligua, yuk!” seseorang mengusulkan.

“Ngapain?”

“Jalan-jalan. Lihat pegunungan, curug, menikmati alam.”

“Biayanya?”

“Sing penting mangkat disit rah. Duit urusan mengko!” Kholik, yang memang terkenal kocak, tiba-tiba menyela.

Itulah prinsip ekonomi anak SMA zaman kami.

Perencanaan sederhana, keberanian luar biasa, dan cadangan dana yang kadang lebih tipis daripada buku catatan setelah dipakai satu semester.

Maka berangkatlah kami.

Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Hadi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Fakhrudin, aku, dan beberapa teman lainnya.

Pagi itu, dunia terasa begitu luas dan bersahabat. Jalanan mulai menanjak, udara pegunungan semakin dingin, dan pepohonan seakan menyambut rombongan anak-anak SMA yang merasa dirinya sedang melakukan ekspedisi besar.

Kami berjalan dengan semangat yang seolah tidak akan pernah habis. Sesekali bercanda, saling mengejek, lalu tertawa tanpa alasan yang jelas.

Sampai akhirnya jalan yang kami lalui mulai terasa asing.

“Gun, iki dalane bener apa ora?” tanya Susilo.

“Bener, kayane.”

“Kok kayane?”

“Ya nek ngerti tenan, jenenge dudu petualangan!”

Ardan tertawa. Yang lain pun ikut terbahak.

“Pokoke maju terus. Wong gunung ora bakal pindah!” Kholis, yang suka romantis, tiba-tiba memberikan semangat dengan kalimat yang terdengar seperti petuah seorang pendaki berpengalaman.

Kami pun melanjutkan perjalanan.

Sampai akhirnya tiba di sebuah persimpangan.

Kami berhenti.

Memandang ke kanan.

Memandang ke kiri.

Lalu saling memandang.

“Dan, ke mana?”

“Menurutku kanan.”

“Alasane?”

“Perasaanku.”

Helmi menggelengkan kepala.

“Waduh, kita ini anak jurusan Fisika. Masa menentukan arah pakai perasaan?”

Helmi memang terkenal sebagai anak paling pintar di kelas kami. Meski begitu, dia tetap rendah hati dan tidak pernah banyak tingkah.

“Lha terus pakai apa?” seseorang bertanya.

“Pakai logika!” jawab Helmi mantap.

“Logikamu ke mana?”

Helmi terdiam sebentar. Matanya memandang dua jalan di hadapan kami, seolah sedang menghitung sebuah persamaan yang sangat rumit.

“Kayaknya kiri.”

“Alasane?”

“Perasaanku juga.”

Meledaklah tawa kami di tengah jalan pegunungan.

Ternyata, menjadi anak jurusan Fisika tidak otomatis membuat kami pandai menentukan arah. Rumus-rumus yang selama ini kami pelajari rupanya belum menyediakan jawaban untuk persoalan sederhana: jalan mana yang harus kami pilih agar tidak tersesat?

Semakin jauh berjalan, semakin tidak jelas arah yang kami tempuh.

Sore mulai turun.

Kabut datang seolah tanpa permisi, menyelimuti pepohonan dan jalan setapak yang mulai kehilangan cahaya. Kaki mulai pegal, perut mulai lapar, dan suara-suara yang tadinya penuh semangat perlahan berubah menjadi keluhan.

“Gun, nek ora tekan-tekan, awake dhewek turu nang endi?” tanya Kholik yang mulai khawatir.

“Tenang, ana musala.”

“Lha musalane nang endi?”

“Ya digoleki!”

“Walah, Gun! Kowe ki nek ngomong gampang temen!”

Kami kembali tertawa, meskipun kali ini tawa itu mulai bercampur rasa cemas.

Malam akhirnya datang sebelum semua persoalan terjawab.

Beruntung, setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, kami menemukan sebuah musala. Tempat sederhana yang malam itu terasa seperti hotel berbintang lima bagi rombongan petualang amatir yang sudah kehabisan tenaga.

Tidak ada kasur empuk. Tidak ada kamar hotel. Tidak ada makanan istimewa.

Hanya lantai musala, tubuh yang kelelahan, udara pegunungan yang menusuk tulang, dan beberapa bungkus mi instan yang dimasak dengan segala keterbatasan.

Namun, entah mengapa, rasa mi malam itu seolah jauh lebih nikmat daripada hidangan mahal yang kami jumpai bertahun-tahun kemudian.

Mungkin karena lapar.

Mungkin karena dingin.

Atau mungkin karena mi itu kami makan bersama orang-orang yang saat itu belum mengerti bahwa kebersamaan seperti itu, suatu hari nanti, akan menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Malam semakin larut.

Setelah seharian berjalan, kami akhirnya menemukan sebuah kemewahan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Lantai menjadi kasur.

Tas menjadi bantal.

Sarung dan jaket menjadi selimut.

Dan perut yang lapar mulai menuntut haknya. Celingak-celinguk, mulai membuka rangsel yang ternyata, di antara bekal yang tersisa, masih ada beberapa bungkus “Sarimi”.

Mendadak mata yang mulai sayu kembali berbinar. Rasa kantuk seolah menghilang, digantikan oleh semangat baru yang bahkan tidak kami rasakan ketika mendaki tadi pagi.

“Masak mi, yuk!” usulku.

Usulan itu langsung disetujui secara aklamasi.

Tidak perlu rapat. Tidak perlu voting. Tidak perlu persetujuan wali kelas. Kalau urusan makan, demokrasi Exact One selalu berjalan sempurna.

Air mulai dipanaskan. Bungkus-bungkus Sarimi dikeluarkan. Peralatan seadanya disiapkan, sementara beberapa orang mulai sibuk memberikan instruksi, seolah kami sedang menggelar pesta makan malam di restoran ternama.

“Sing penting banyune akeh, ben kabeh keduman!” celetuk seseorang.

“Lha nek banyune kakehan, kuwe jenenge sop mi, dudu Sarimi!”

Tawa kembali pecah.

Entah siapa yang paling pandai memasak malam itu. Yang jelas, tidak ada yang mengeluh. Bahkan kalau mi itu sedikit terlalu matang atau kuahnya lebih banyak daripada isinya, semuanya tetap terasa istimewa.

Beberapa bungkus Sarimi, dimakan bersama-sama di tengah dinginnya pegunungan, ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan yang begitu sederhana.

Dulu, kami menikmatinya dengan gelak tawa.

Kini, puluhan tahun kemudian, kenangan itu hanya mampu kami sambut dengan senyum, kadang disertai kerinduan yang diam-diam menyelinap ke dalam dada.

Malam itu, di sebuah musala di kaki Pegunungan Kaligua, kami belajar bahwa persahabatan tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Kadang ia justru tumbuh dari hal-hal kecil yang nyaris tidak berarti ketika dijalani, tetapi menjadi begitu berharga setelah waktu berlalu.

Sepiring mi.

Segelas air.

Lantai yang dingin.

Dan teman-teman yang kelak dikenang bukan karena nilai ulangannya, melainkan karena kisah-kisah sederhana yang tak pernah habis diceritakan.

Keesokan harinya, ketika kami menikmati keindahan curug di kawasan Kaligua, semua kelelahan seakan terbayar.

Air jatuh dari ketinggian, udara bersih memenuhi paru-paru, dan wajah-wajah muda kami tampak begitu bahagia.

Aku tidak tahu apakah saat itu ada di antara kami yang berpikir bahwa perjalanan itu kelak akan menjadi kenangan seumur hidup.

Mungkin tidak.

Sebab ketika masih muda, kita sering menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.

Padahal, kelak kita akan merindukan bahkan perjalanan yang membuat kita tersesat.

Dan sampai sekarang, kalau ingat Kaligua, pertanyaanku masih sama.

“Nadirin... nang endi kowe saiki?”

The People Is... dan Guru Bahasa Inggris yang Hampir Kehilangan Kesabaran

Sebagai kelas yang merasa mempunyai identitas istimewa, kami pernah membuat kaus dengan nama-nama anggota kelas. Tentu saja, harus ada tulisan bahasa Inggris.

Karena menurut logika remaja saat itu, sesuatu akan terlihat lebih keren kalau ditulis dalam bahasa Inggris.

Maka terciptalah kalimat bersejarah:

THE PEOPLE IS...

Diikuti nama-nama kami. Kami bangga sekali. Sampai suatu hari guru bahasa Inggris melihatnya.

“Who made this?”

Kami saling pandang. Tidak ada yang langsung mengaku. Barangkali semua sedang menerjemahkan pertanyaannya.

Guru menunjuk tulisan itu.

“Why THE PEOPLE IS? People itu jamak. Seharusnya ARE!”

Kami terdiam. Kemudian seseorang mencoba menjawab.

“Tapi, Pak, kan orangnya satu kelas.” Kholik mencoba mendebat sebagai anak muda, tetapi terlihat jelas malah menunjukkan konyolannya, heheheheh…

“Justru karena banyak orang, harus pakai ARE!”

Ardan berbisik kepadaku.

“Gun, berarti kaose salah kabeh?”

Aku mengangguk pelan.

“Secara grammar, iya.”

“Terus piye?”

“Ya dipakai bae. Wis telanjur dicetak.”

Kami menahan tawa.

Guru masih menjelaskan kesalahan tata bahasa tersebut dengan sungguh-sungguh. Sementara kami diam-diam menyadari bahwa sebuah kesalahan telah berubah menjadi identitas bersama.

Bertahun-tahun kemudian, aku masih mengingat tulisan itu.

The People Is...

Salah secara tata bahasa. Tetapi rasanya benar secara kenangan. Karena kami memang sekumpulan orang yang berbeda, tetapi selalu merasa menjadi satu.

Dan kalau sekarang kaus itu masih ada, aku tidak ingin memperbaiki tulisannya.

Biarkan saja.

Sebab terkadang sesuatu yang tidak sempurna justru menjadi bagian paling sempurna dari sebuah kenangan.

Nilai Seratus yang Dianggap Terlalu Sempurna

Aku pernah mendapatkan nilai seratus dalam pelajaran sejarah. Tentu saja senang. Anak SMA mana yang tidak senang mendapat nilai sempurna? Namun, kegembiraan itu mendadak berubah menjadi tanda tanya ketika dalam laporan nilai tertulis sembilan puluh.

Aku merasa ada yang tidak beres.

Maka aku bertanya.

“Pak, nilai saya kan seratus. Kok di laporan jadi sembilan puluh?”

Jawaban yang kudapat sungguh menarik.

“Tidak patut seorang murid mendapat nilai seratus.”

Aku terdiam beberapa detik.

Mencoba mencerna filsafat pendidikan yang baru saja kudengar.

“Lho, Pak, kalau jawaban saya benar semua, salahnya di mana?”

“Pokoknya tidak pantas seratus.”

Aku semakin penasaran.

“Berarti nilai seratus itu sebenarnya untuk siapa, Pak?”

Suasana mulai menegang.

Di belakang, beberapa teman mulai menahan senyum.

Ardan berbisik.

“Gun, wis Gun. Mengko malah dadi wolung puluh.”

Aku menoleh.

“Lha nek dibiarkan, besok jadi tujuh puluh!”

Helmi menimpali pelan.

“Berarti makin diprotes, makin murah nilainya.”

Kami hampir tertawa, meskipun situasinya tidak sepenuhnya lucu. Persoalan itu akhirnya menjadi salah satu kisah perdebatan kami dengan pihak sekolah, Guru Sejarah, ternyata beliau sudah almarhum dan Allah selalu memberikan dan menempatkan jalan surganya.

Sekarang aku memandangnya dengan cara berbeda. Nilai seratus memang tidak menentukan masa depan seseorang. Tetapi keberanian bertanya tentang sesuatu yang dianggap tidak adil barangkali ikut membentuk watak kami. Hanya saja, seandainya bisa kembali ke masa itu, mungkin aku akan menyampaikan protes dengan sedikit lebih tenang.

Sedikit saja.

Sebab kalau terlalu tenang, barangkali aku bukan Igun yang dahulu.

Pak Royani, Pak Chudri, dan Demokrasi Versi Exact One

Ketika akan naik ke kelas tiga, kami menghadapi persoalan lain.

Wali kelas.

Kami ingin Pak Royani, yang mendampingi kami di kelas dua, tetap menjadi wali kelas kami. Tetapi ada keinginan agar Pak Chudri menjadi wali kelas berikutnya. Bagi sekolah, mungkin ini urusan penugasan guru.

Bagi kami, ini persoalan prinsip.

“Pokoke Pak Royani!” kata seorang teman.

“Setuju!”

“Kenapa harus Pak Royani?” tanya yang lain.

“Karena sudah kenal kita.”

“Lha Pak Chudri juga bisa kenal.”

“Bisa. Tapi perlu waktu.”

“Berapa lama?”

“Minimal sampai lulus!”

Kami tertawa.

Tetapi di balik kelucuan itu, kami memang bersungguh-sungguh. Kami merasa membutuhkan wali kelas yang hadir, memahami, dan mendampingi kami. Perdebatan berkembang. Ada ketersinggungan. Pihak sekolah dan kesiswaan ikut terlibat.

Suasana yang semula seperti musyawarah kelas berubah menjadi persoalan serius. Kami pun mulai mengenal kenyataan bahwa memperjuangkan keinginan tidak selalu semudah mengangkat tangan dalam rapat kelas.

Kini, setelah dewasa, aku bisa membayangkan betapa merepotkannya kami bagi para guru.

Dua puluh empat murid.

Jumlah kecil.

Tetapi kalau semuanya berpendapat, mungkin rasanya seperti menghadapi dua ratus tigapuluh orang. Pak Royani dan Pak Chudri, di mana pun berada, semoga berkenan menerima kenangan ini sebagai bagian dari perjalanan kami.

Kalau dahulu kami terlalu keras kepala, mungkin itu karena kami belum memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang berani mempertahankan pendapat.

Tetapi juga tentang belajar menghargai orang yang berbeda pandangan.

Tepi Kalierang, Piala Besar, dan Bu Sri yang Dihujani Pertanyaan

Di balik berbagai kenakalan itu, kami punya satu kebanggaan.

Cerdas cermat P4.

Aku, Ardan, dan Helmi menjadi tim lomba. Kholis sering ikut belajar dan mempersiapkan materi bersama kami. Tempat belajar favorit kami bukan ruang kelas yang megah.

Melainkan pinggir Kalierang.

Di sanalah kami duduk bersama, membuka buku, menghafal materi, dan saling menguji pengetahuan.

“Dan, coba pertanyaan!” kataku.

Ardan membuka catatan.

“Siap. Sebutkan...”

Belum selesai pertanyaan dibacakan, Helmi sudah menyela.

“Sebentar, sebentar. Jangan yang gampang!”

“Lha, belum selesai kok sudah tahu gampang?”

“Dari mukamu kelihatan.”

Kholis tertawa.

“Wis, sing serius. Nek kalah, isin!”

Kami pun kembali belajar. Kadang begitu serius sampai lupa waktu. Kadang justru lebih banyak tertawa daripada membaca.

Namun, perlahan persiapan itu membuahkan hasil.

Kami berhasil menjadi juara cerdas cermat tingkat kabupaten, bahkan dua tahun berturut-turut, lalu maju ke tingkat karesidenan. Piala terbesar yang kami raih akhirnya berdiri di lemari piala sekolah.

Setiap melihatnya, ada rasa bangga. Bukan semata-mata karena menang. Tetapi karena kami tahu bagaimana perjuangan di baliknya.

Namun, ada satu persoalan yang belum selesai di hati kami.

Kami merasa kurang mendapatkan bimbingan dari guru PMP, Bu Sri, dalam mempersiapkan lomba. Sebagai remaja yang sedang penuh semangat dan sedikit kurang bijaksana, kami memilih cara protes yang cukup kreatif.

Kami menyiapkan banyak pertanyaan.

Sangat banyak.

Dan semuanya akan diajukan ketika pelajaran PMP berlangsung.

Hari yang ditentukan pun tiba.

Bu Sri masuk kelas.

Pelajaran dimulai.

Belum lama beliau menjelaskan, Aku mengangkat tangan, sebuah pertanyaan mulai diluncurkan.

“Bu, saya mau bertanya.”

“Silakan.”

Pertanyaan dijawab.

Tangan lain terangkat.

“Bu, saya juga mau bertanya.”

Dijawab lagi.

Tangan berikutnya terangkat.

“Bu, kalau menurut ketentuan yang ini bagaimana?”

Bu Sri menjelaskan.

Belum selesai benar, muncul pertanyaan baru.

Dan begitu seterusnya.

Aku melirik Ardan.

Ardan melirik Helmi.

Helmi menunduk menahan senyum.

Kholis pura-pura serius membaca buku.

Pertanyaan datang dari segala penjuru kelas.

Kalau dilihat sepintas, mungkin kami tampak seperti murid-murid paling antusias terhadap Pendidikan Moral Pancasila. Padahal, di balik antusiasme itu ada sebuah skenario kecil yang telah kami susun.

Waktu pelajaran terus berjalan.

Materi belum sempat banyak disampaikan. Pertanyaan belum juga habis.

Sampai akhirnya bel berbunyi.

Pelajaran selesai.

Kami keluar kelas dengan perasaan puas, seperti baru memenangkan pertandingan.

“Dan, sukses!”

“Luar biasa. Satu jam penuh tanya jawab!”

Helmi tertawa.

“Ini bukan pelajaran PMP. Ini konferensi pers!”

Kami tertawa sepanjang lorong.

Sekarang, jika mengingatnya, aku merasa geli sekaligus sedikit bersalah.

Bu Sri tahu, marah dan mungkin pulang hari itu dengan kepala pening. Dan kami pulang dengan perasaan menjadi pahlawan kecil.

Begitulah remaja.

Kadang benar dalam kegelisahan, tetapi keliru dalam cara menyampaikannya.

Andaikan sekarang bisa bertemu Bu Sri, mungkin aku ingin berkata:

“Bu, mohon maaf. Dulu kami terlalu banyak bertanya bukan karena tidak menghormati Ibu. Kami hanya belum tahu bagaimana menyampaikan kekecewaan dengan baik.”

Lalu mungkin, kalau beliau masih mengingat kami, beliau akan menjawab:

“Oh, jadi kalian yang bikin Ibu tidak sempat mengajar itu?”

Dan aku akan tersenyum.

“Iya, Bu. Tapi sekarang kami sudah tobat.”

Barangkali Ardan dari belakang akan berbisik:

“Tobat sementara, Gun?”

Mutiah, Hadi, Tasminah, dan Tawa yang Sekarang Menjadi Doa

Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh guru mana pun kepada kami. Waktu itu berjalan dan suatau masa, suatu hari, tidak semua anggota kelas akan bisa hadir kembali.

Dahulu kami mengira waktu akan selalu panjang. Kami mengira setiap perpisahan hanyalah jeda sebelum pertemuan berikutnya. Tetapi kehidupan ternyata mempunyai cara sendiri untuk mengajari manusia tentang kehilangan.

Waktu pertama datang kabar tentang kepergian seorang mantan siswa yang begitu kalem , lembuta dengan senyumnya, kabar duka tentang kepergiannya dan belum lama ini, Hadi telah berpulang.

Hadi yang dahulu sering membuat suasana menjadi hidup dengan celotehannya. Aku masih bisa membayangkan bagaimana sebuah percakapan biasa mendadak menjadi lucu karena komentarnya. Seolah selalu ada sesuatu yang bisa ditertawakan.

Dan sekarang, ketika namanya disebut, kami mungkin masih tersenyum. Tetapi senyum itu tidak lagi sama.

Ada rindu yang diam-diam menyelinap.

Ada kesadaran bahwa suara yang pernah begitu akrab kini hanya dapat kami dengarkan melalui ingatan.

Begitu pula Tasminah.

Teman perempuan kami yang energik, yang membawa warna tersendiri dalam kehidupan Exact One. Dulu, di tengah keramaian kelas, kehadirannya adalah bagian dari suasana yang membuat hari-hari terasa hidup.

Menyusul berita kepergian Mutiah dan Hadi. Kini ia pun telah lebih dahulu berpulang. Akupun dalam renung, menitipkan doa untuk mereka, bacaan Al-Fatihah.

Dahulu kita pernah berjalan bersama, tertawa tanpa beban, dan berbagi cerita dalam kesederhanaan. Kini, sebagian dari kita telah melanjutkan perjalanan menuju keabadian.

Ya Allah, ampunilah segala dosa mereka, lapangkan dan terangilah alam kuburnya, terimalah seluruh amal kebaikannya, dan tempatkanlah mereka di tempat terbaik di sisi-Mu.

Sahabat, mungkin langkah kita tak lagi seiring, tetapi kenangan kita tak akan pernah berakhir. Semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali, bukan lagi di ruang kelas Exact One, melainkan di taman-taman surga-Nya.

Kini..

Kadang aku membayangkan kami sedang mengadakan reuni. Satu per satu datang. Berjabat tangan. Saling memandang wajah yang telah berubah.

“Wah, rambutmu wis akeh sing putih!”

“Lha kowe malah wis ora nduwe rambut!”

“Sing penting isih ganteng!”

“Ganteng saka endi? Awak be bunder!”

Lalu semua tertawa.

Tetapi di antara tawa itu, tiba-tiba ada seseorang yang bertanya pelan.

“Mutiah, Hadi, ora teka, ya?”

Komentar(0)

Tinggalkan komentar