Cerpen Nostalgia,
Humor, dan Persahabatan
EXACT ONE
Seribu Kenangan, dan Waktu yang Tak Bisa Pulang
Oleh Igun Winarno
Kelas Kecil yang Terlalu Ramai untuk Dilupakan
Kalau ada yang bertanya di mana
sebagian masa mudaku tertinggal, aku akan menjawab tanpa berpikir panjang. Di
sebuah ruang kelas SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu.
Ada masa dalam hidup yang tidak
pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berpindah tempat, dari bangku sekolah ke
sudut ingatan, dari riuh tawa menjadi senyum kecil ketika kita sedang
sendirian. Bagiku, masa itu bernama Exact One.
Kelas dua A1, jurusan Fisika.
Hanya dua puluh empat anak manusia dengan isi kepala, perangai, dan mimpi yang
berbeda. Ada Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi,
Safrudin, Hadi, Tasminah, Yantie, Irni, Ida, Evi, dan sahabat lainnya yang
namanya tetap tersimpan dalam lemari ingatanku.
Dan tentu saja, ada aku. Igun.
Seorang anak SMA yang saat itu belum tahu bahwa hidup kelak jauh lebih rumit
daripada soal-soal Fisika.
“Gun, menurutmu kita ini kelas
unggulan apa kelas buangan?” tanya Ardan suatu hari. “Unggulan, Dan! Jelas
unggulan!” jawabku mantap. “Kok bisa?” Aku tersenyum. “Lha, muridnya cuma dua
puluh empat. Berarti kita anak pilihan. A1, lho! Kelas anak pinter!”
Helmi langsung menyahut, “Pilihan
apanya? Mungkin yang lain sudah diselamatkan masuk kelas sebelah!” Kami tertawa
terbahak-bahak. Begitulah Exact One. Kelas kecil yang selalu punya alasan untuk
ribut, berdebat, dan tertawa.
Di sana kami belajar rumus,
teori, dan berbagai pelajaran sekolah. Namun, ada satu pelajaran yang tidak
pernah tercantum dalam kurikulum, tetapi justru paling lama melekat dalam
kehidupan kami: bagaimana menjadi sahabat.
Ekspedisi Kaligua: Petualang yang Tersesat
Suatu hari, entah siapa
pencetusnya, muncul gagasan pergi ke Kaligua. “Ke Kaligua, yuk!” seseorang
mengusulkan. “Biayanya?” tanya yang lain. Kholik langsung menyahut, “Sing
penting mangkat disit rah. Duit urusan mengko!”
Itulah prinsip ekonomi anak SMA
zaman kami. Perencanaan sederhana, keberanian luar biasa, dan uang saku yang
kadang lebih tipis daripada buku catatan menjelang akhir semester.
Maka berangkatlah kami. Ardan,
Susilo, Kholis, Edi, Hadi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Safrudin, aku, dan
beberapa teman lainnya. Pagi itu dunia terasa begitu luas dan bersahabat.
Jalanan menanjak, udara pegunungan semakin dingin, dan pepohonan seakan
menyambut rombongan anak-anak yang merasa sedang melakukan ekspedisi besar.
Sampai akhirnya jalan yang kami
lalui mulai terasa asing. “Gun, iki dalane bener apa ora?” tanya Susilo.
“Bener, kayane.” Susilo mengerutkan dahi. “Kok kayane?” Aku menjawab santai,
“Ya nek ngerti tenan, jenenge dudu petualangan!”
Ardan tertawa. Kholis yang suka
romantis tiba-tiba memberi semangat, “Pokoke maju terus. Wong gunung ora bakal
pindah!” Kami melanjutkan perjalanan, sampai tiba di sebuah persimpangan yang
membuat semua orang berhenti.
“Menurutku kanan,” kata Ardan.
“Alasane?” “Perasaanku.” Helmi, anak paling pintar di kelas, langsung protes.
“Kita ini anak Fisika! Masa menentukan arah pakai perasaan? Harus pakai
logika!”
“Lha terus logikamu ke mana?”
Helmi berpikir sebentar, memandang jalan kanan dan kiri, lalu menjawab,
“Kayaknya kiri.” “Alasane?” “Perasaanku juga.”
Tawa kami meledak di tengah
pegunungan. Ternyata menjadi anak jurusan Fisika tidak otomatis membuat kami
pandai menentukan arah. Rumus-rumus yang selama ini dipelajari rupanya belum
menyediakan jawaban untuk persoalan sederhana: bagaimana menemukan jalan yang
benar.
Sore mulai turun. Kabut
menyelimuti pepohonan. Kaki pegal, perut lapar, dan semangat petualangan
perlahan berubah menjadi keluhan. “Gun, nek ora tekan-tekan, awake dhewek turu
nang endi?” Kholik mulai khawatir. “Tenang, ana musala.” “Lha musalane nang
endi?” “Ya digoleki!” Kholik menggeleng. “Walah, Gun! Kowe ki nek ngomong
gampang temen!”
Malam akhirnya datang. Beruntung
kami menemukan sebuah musala untuk beristirahat. Tidak ada kasur empuk, kamar
hotel, atau makanan istimewa. Lantai menjadi kasur, tas menjadi bantal,
sementara sarung dan jaket menjadi selimut. Tetapi justru di sanalah salah satu
kenangan terindah kami lahir.
Ketika membuka rangsel, ternyata
masih ada beberapa bungkus Sarimi. Mendadak mata yang mulai sayu kembali
berbinar. “Masak mi, yuk!” usulku. Usulan itu langsung disetujui secara
aklamasi. Tidak perlu rapat, voting, apalagi persetujuan wali kelas. Kalau
urusan makan, demokrasi Exact One selalu berjalan sempurna.
Air dipanaskan, mi disiapkan, dan
semua mulai memberikan instruksi. “Sing penting banyune akeh, ben kabeh
keduman!” celetuk seseorang. Yang lain menyahut, “Lha nek banyune kakehan, kuwe
jenenge sop mi, dudu Sarimi!” Tawa kembali pecah.
Malam itu, beberapa bungkus
Sarimi terasa lebih nikmat daripada hidangan mahal yang kami jumpai
bertahun-tahun kemudian. Mungkin karena lapar. Mungkin karena dingin. Atau
mungkin karena dimakan bersama orang-orang yang saat itu belum memahami bahwa
kebersamaan seperti itu kelak menjadi sesuatu yang sangat mahal.
Keesokan harinya, keindahan curug
Kaligua membayar seluruh kelelahan. Air jatuh dari ketinggian, udara segar
memenuhi paru-paru, dan wajah-wajah muda kami tampak begitu bahagia. Tidak
seorang pun berpikir bahwa perjalanan sederhana itu akan menjadi kenangan seumur
hidup.
Sebab ketika masih muda, kita
sering menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.
Padahal, kelak kita akan merindukan bahkan perjalanan yang pernah membuat kita
tersesat.
Dan sampai sekarang, kalau
mengingat Kaligua, aku masih ingin bertanya, “Nadirin... nang endi kowe saiki?”
The People Is... Kesalahan yang Menjadi Kenangan
Sebagai kelas yang merasa
mempunyai identitas istimewa, kami pernah membuat kaus dengan nama-nama anggota
Exact One. Tentu harus ada tulisan bahasa Inggris. Sebab menurut logika remaja
saat itu, sesuatu akan terlihat lebih keren kalau ditulis dalam bahasa Inggris.
Maka terciptalah kalimat
bersejarah: THE PEOPLE IS...
Kami bangga sekali sampai suatu
hari guru bahasa Inggris melihatnya. “Who made this?” tanyanya. Kami saling
pandang. Barangkali semua sedang sibuk menerjemahkan pertanyaan tersebut.
“People itu jamak! Seharusnya
ARE, bukan IS!” Kholik mencoba membela, “Tapi, Pak, kan orangnya satu kelas!”
Sang guru menggeleng. “Justru karena banyak orang, harus pakai ARE!”
Ardan berbisik kepadaku, “Gun,
berarti kaose salah kabeh?” Aku mengangguk. “Secara grammar, iya.” “Terus
piye?” “Ya dipakai bae. Wis telanjur dicetak!” Kami menahan tawa.
Bertahun-tahun kemudian, aku
justru tidak ingin memperbaiki tulisan itu. Biarkan saja. Salah secara tata
bahasa, tetapi benar secara kenangan. Karena kami memang sekumpulan orang
dengan karakter berbeda, tetapi selalu merasa menjadi satu.
Terkadang sesuatu yang tidak
sempurna justru menjadi bagian paling sempurna dari sebuah kenangan.
Nilai Seratus yang Tidak Boleh Sempurna
Aku pernah mendapatkan nilai
seratus dalam pelajaran Sejarah. Tentu saja senang. Tetapi kegembiraan itu
berubah menjadi tanda tanya ketika dalam laporan nilai tertulis sembilan puluh.
“Pak, nilai saya kan seratus. Kok
jadi sembilan puluh?” tanyaku. Jawaban yang kudapat sungguh menarik. “Tidak
patut seorang murid mendapat nilai seratus.”
Aku terdiam, mencoba mencerna
filsafat pendidikan yang baru saja kudengar. “Lho, Pak, kalau jawaban saya
benar semua, salahnya di mana?” “Pokoknya tidak pantas seratus!” Aku semakin
penasaran. “Berarti nilai seratus sebenarnya untuk siapa, Pak?”
Suasana mulai tegang. Ardan
berbisik, “Gun, wis Gun. Mengko malah dadi wolung puluh!” Aku menoleh. “Lha nek
dibiarkan, besok jadi tujuh puluh!” Helmi menimpali, “Berarti makin diprotes,
makin murah nilainya.”
Kami hampir tertawa. Kini,
setelah dewasa, aku memahami bahwa nilai seratus bukanlah segalanya. Tetapi
keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil barangkali ikut membentuk
watak kami.
Seandainya bisa kembali ke masa
itu, mungkin aku akan menyampaikan protes dengan sedikit lebih tenang. Sedikit
saja. Sebab kalau terlalu tenang, barangkali aku bukan Igun yang dahulu.
Pak Royani, Pak Chudri, dan Demokrasi Exact One
Menjelang kelas tiga, kami
menghadapi persoalan lain yang menurut kami sangat serius: siapa wali kelas
berikutnya?
Kami ingin Pak Royani, yang
mendampingi kami di kelas dua, tetap menjadi wali kelas. Namun, ada rencana Pak
Chudri menggantikannya. Bagi sekolah, mungkin ini hanya urusan penugasan guru.
Bagi kami, ini persoalan prinsip.
“Pokoke Pak Royani!” kata seorang
teman. “Kenapa?” “Karena sudah kenal kita!” “Lha Pak Chudri juga bisa kenal.”
“Bisa. Tapi perlu waktu.” “Berapa lama?” “Minimal sampai lulus!”
Kami tertawa, tetapi persoalan
itu benar-benar berkembang menjadi perdebatan dengan pihak sekolah. Dua puluh
empat murid ternyata bisa menimbulkan keributan seperti dua ratus orang.
Kini aku membayangkan betapa
merepotkannya kami dahulu. Pak Royani dan Pak Chudri, di mana pun berada,
semoga berkenan menerima kenangan ini sebagai bagian dari perjalanan kami.
Kalau dahulu kami keras kepala, mungkin karena belum memahami bahwa menjadi
dewasa bukan hanya tentang mempertahankan pendapat, tetapi juga menghargai orang
yang berbeda pandangan.
Kalierang, Piala Besar, dan Konferensi Pers Bu Sri
Di balik berbagai kenakalan itu,
Exact One juga punya kebanggaan. Cerdas cermat P4.
Aku, Ardan, dan Helmi menjadi tim
lomba. Kholis sering ikut belajar bersama kami. Tempat favorit kami bukan
perpustakaan megah, melainkan pinggir Kalierang. Di sanalah kami duduk, membuka
buku, menghafal materi, dan saling menguji pengetahuan.
“Dan, coba pertanyaan!” kataku.
Ardan membuka catatan. “Siap. Sebutkan...” Belum selesai pertanyaan dibacakan,
Helmi menyela, “Jangan yang gampang!” Ardan protes, “Lha, belum selesai kok
sudah tahu gampang?” Helmi menjawab santai, “Dari mukamu kelihatan!”
Kami tertawa, lalu kembali
belajar. Kadang begitu serius sampai lupa waktu, kadang justru lebih banyak bercanda
daripada membaca. Namun, usaha itu membuahkan hasil. Kami menjadi juara cerdas
cermat tingkat kabupaten dua tahun berturut-turut dan melaju ke tingkat
karesidenan. Piala besar akhirnya berdiri di lemari sekolah.
Namun, ada satu persoalan yang
belum selesai. Kami merasa kurang mendapatkan bimbingan dari Bu Sri, guru PMP.
Sebagai remaja yang belum bijaksana, kami menyusun strategi protes yang cukup
kreatif: menghujani beliau dengan pertanyaan sepanjang pelajaran.
Hari yang ditentukan tiba. Bu Sri
masuk kelas. Belum lama beliau menjelaskan, aku mengangkat tangan. “Bu, saya
mau bertanya.” Pertanyaan dijawab. Tangan lain terangkat. “Bu, saya juga!”
Dijawab lagi. Pertanyaan berikutnya menyusul tanpa henti.
Aku melirik Ardan. Ardan melirik
Helmi. Kholis pura-pura serius membaca buku. Pertanyaan datang dari segala
penjuru kelas. Kalau dilihat sepintas, mungkin kami tampak seperti murid paling
antusias terhadap Pendidikan Moral Pancasila. Padahal, di balik antusiasme itu
ada skenario kecil yang telah kami susun.
Sampai akhirnya bel berbunyi.
Pelajaran selesai. Kami keluar kelas seperti baru memenangkan pertandingan.
“Dan, sukses!” Helmi tertawa, “Ini bukan pelajaran PMP. Ini konferensi pers!”
Kini, mengenangnya membuatku geli
sekaligus sedikit bersalah. Bu Sri, maafkan kami. Dulu kami terlalu banyak
bertanya bukan karena tidak menghormati Ibu, melainkan karena belum pandai
menyampaikan kekecewaan.
Kalau suatu hari beliau bertanya,
“Sekarang sudah tobat?” Aku mungkin menjawab, “Sudah, Bu!” Dan Ardan barangkali
berbisik dari belakang, “Tobat sementara, Gun?”
Mutiah, Hadi, Tasminah, dan Tawa yang Menjadi Doa
Ada satu hal yang tidak pernah
diajarkan oleh guru mana pun kepada kami. Bahwa waktu akan terus berjalan dan
suatu hari tidak semua anggota kelas bisa hadir kembali.
Dahulu kami mengira waktu akan
selalu panjang. Kami menganggap setiap perpisahan hanyalah jeda menuju
pertemuan berikutnya. Tetapi kehidupan ternyata mempunyai cara sendiri untuk
mengajari manusia tentang kehilangan.
Mutiah, sahabat kami yang lembut
dan kalem, telah lebih dahulu berpulang. Kemudian Hadi, yang dahulu sering
menghidupkan suasana dengan celotehannya. Dan Tasminah, sahabat perempuan yang
energik, yang kehadirannya selalu memberi warna tersendiri dalam kehidupan
Exact One.
Kini nama mereka tidak lagi kami
panggil untuk berkumpul, melainkan kami sebut dalam doa. Al-Fatihah.
Ya Allah, ampunilah dosa mereka,
lapangkan dan terangilah alam kuburnya, terimalah amal kebaikannya, dan
tempatkanlah mereka dalam surga-Mu. Sahabat, mungkin langkah kita tidak lagi
seiring, tetapi kenangan kita tidak akan pernah berakhir. Semoga kelak Allah
mempertemukan kita kembali, bukan lagi di ruang kelas Exact One, melainkan di
taman-taman surga-Nya.
Kadang aku membayangkan sebuah
reuni. Kami datang satu per satu, berjabat tangan, lalu saling memandang wajah
yang telah berubah. “Wah, rambutmu wis akeh sing putih!” “Lha kowe malah wis
ora nduwe rambut!” “Sing penting isih ganteng!” “Ganteng saka endi? Awak be
bunder!”
Semua tertawa. Tetapi mungkin
tiba-tiba seseorang bertanya, “Mutiah, Hadi, Tasminah... ora teka, ya?”
Ruangan mendadak hening. Ada
kursi-kursi yang tidak lagi dapat diisi pemiliknya. Bukan karena mereka lupa
datang, melainkan karena Allah telah lebih dahulu memanggil mereka pulang.
Kami mungkin akan saling
menunduk, mendoakan mereka. Lalu setelah doa selesai, seseorang kembali
bercerita tentang kelucuan Hadi. Kami tertawa lagi, mungkin dengan mata yang
sedikit basah.
Sebab kehilangan seorang sahabat
tidak selalu dikenang dengan tangisan. Kadang justru melalui tawa yang
tiba-tiba terhenti ketika menyadari bahwa orang yang sedang kita ceritakan
tidak mungkin lagi tertawa bersama.
Kalau Waktu Bisa Dipinjam Sehari Saja
Kini, puluhan tahun telah
berlalu. Aku sering bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang paling
kurindukan dari masa SMA? Apakah bangunan sekolah, bangku kelas, buku-buku
pelajaran, atau seragam putih abu-abu?
Rasanya bukan. Yang kurindukan
adalah suasananya. Saat kami bisa tertawa karena satu kalimat konyol, berjalan
jauh tanpa khawatir kehilangan waktu, dan merasa bahwa nilai ulangan adalah
persoalan terbesar dalam hidup. Saat sebungkus Sarimi di musala terasa lebih
istimewa daripada makan malam di restoran mahal. Dan saat semua sahabat masih
ada.
Seandainya Tuhan mengizinkan
waktu dipinjam sehari saja, aku ingin kembali ke kelas A1. Datang pagi-pagi,
duduk di bangku lamaku, mendengar Hadi berceloteh, melihat Tasminah dan Mutiah
tersenyum, serta mendengar suara guru memanggil nama kami.
Aku bahkan ingin sekali lagi
dimarahi guru bahasa Inggris karena tulisan The People Is... Aku ingin
kembali belajar di pinggir Kalierang, membuka buku cerdas cermat, dan berpura-pura
belajar serius, padahal diam-diam menikmati persahabatan yang begitu tulus.
Dan kalau masih ada waktu, aku
ingin mengajak mereka kembali ke Kaligua. Tetapi kali ini aku akan membawa
peta. Ardan mungkin protes, “Gun, nggo apa nggawa peta?” “Biar tidak tersesat
lagi.” “Lha nek ora kesasar, ora ana ceritane!” Aku akan tertawa. “Ya wis. Peta
disimpen bae.”
Lalu Nadirin mungkin menyahut
dari belakang, “Sing penting aja nggawa minyak tanah!” Dan kami semua kembali
tertawa seperti anak-anak SMA yang tidak pernah berpikir tentang usia tua,
kehilangan, atau perpisahan.
Sayangnya, waktu tidak bisa
dipinjam. Ia hanya meninggalkan sebuah pintu kecil bernama kenangan. Dan
sesekali, ketika hati sedang rindu, kita membukanya perlahan.
Exact One, Tetaplah Dua Puluh Empat
Sahabat-sahabatku, kita mungkin
tidak lagi muda. Wajah telah berubah, rambut mulai memutih, dan langkah tidak
lagi seringan ketika mendaki Kaligua. Sebagian telah menjadi orang tua, bahkan
kakek dan nenek. Dunia membawa kita ke jalan kehidupan masing-masing.
Tetapi satu hal tidak pernah
berubah. Kita pernah menjadi bagian dari Exact One. Sebuah kelas kecil yang
terlalu ramai untuk dilupakan.
Untuk sahabat yang masih diberi
kesempatan menjalani kehidupan, mari menjaga silaturahmi. Tidak perlu menunggu
reuni mewah. Secangkir kopi, beberapa kursi, dan cerita masa SMA sudah cukup
membuat kita merasa muda kembali. Sebab yang paling mahal dari sebuah pertemuan
bukanlah tempatnya, melainkan kenyataan bahwa kita masih diberi kesempatan
untuk bertemu.
Untuk Mutiah, Hadi, dan Tasminah,
kalian tetap bagian dari kami. Tidak ada yang boleh menghapus nama kalian dari
daftar kelas kehidupan ini. Exact One
tetap dua puluh empat. Dahulu, sekarang, dan selamanya dalam kenangan.
Masih banyak kisah yang belum
sempat kutulis, kelucuan yang mungkin hanya diingat satu atau dua orang, serta
rahasia kecil masa remaja yang barangkali membuat kita tertawa terbahak-bahak
kalau dibuka sekarang. Biarlah sebagian tetap tersimpan di hati, sebab tidak
semua kenangan harus dituliskan untuk tetap hidup.
Suatu hari nanti, mungkin kami
berkumpul lagi. Seseorang membuka cerita, “Eh, kelingan ora, pas nang Kaligua?”
Yang lain langsung tertawa. “Nadirin! Minyak tanah!” Lalu seseorang menyahut,
“Wis, aja kuwi maning. Kasihan Nadirin!”
Dan di antara suara-suara itu,
aku mungkin hanya duduk sambil tersenyum, memandangi wajah-wajah yang dahulu
begitu muda. Mensyukuri bahwa Tuhan pernah mempertemukan kami dalam satu kelas
kecil di sebuah sekolah di Bumiayu.
Sebab akhirnya aku mengerti: kita tidak benar-benar merindukan masa lalu.
Kita merindukan orang-orang yang membuat masa lalu begitu indah.
Ah, Exact One... Betapa indahnya
masa ketika kita belum tahu bahwa suatu hari kita akan begitu merindukannya.
Kalau kelak kita bertemu lagi,
jangan bertanya tentang jabatan, harta, atau seberapa hebat kehidupan kita.
Tanyakan saja, “Gun, kowe isih kelingan ora, jaman awake dhewek SMA?”
Dan aku akan menjawab, “Kelingan, lah... Wong sebagian atiku isih
manggon nang kana.”
Aku masih ingat. Sebab sebagian
hatiku masih tinggal di sana.
Bumiayu, dalam kenangan yang
tak pernah benar-benar selesai.
Seorang siswa Exact One
SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu
by goens’GN
Untuk seluruh sahabat Exact
One, termasuk Mutiah, Hadi, dan Tasminah yang telah lebih dahulu berpulang. . (Igun, Kholik, Ardan, Susilo, Helmi, Edi S, Budiarti,
Winarti, Helmi N, Irni, Mutiah (alm), Tobiin, Hadi (alm), Nadirin, Ika, Evi,
Tasminah (alm), Nurkholis, Saprudin, Erni, Ida, Yantie, Usmiatul, Umi,)
Ardan Sirodjuddin on 2026-10-15 13:02:51
Matur nuwun Pak Dokter atas tulisan yang mengingatkan saya kembali ke jaman SMA. Terima kasih telah menjadi teman yang luar biasa. Kupanjatkan doa untuk teman-teman yang sudah mendahului. Tetap semangat untuk bersilaturahmi teman-teman Exact One. Hidup itu indah dalam kenanganyanti on 2026-10-15 12:55:32
kenangan sing kudu dikenang ????