on 04 Maret 2024, 13:09
  • #igunwinarno #ibu #solo #masjidrayazayed #goenGN

(Bagian kedua)


Malam bergelayut tenang, aku nikmati dengan menonton film Avatar The Last Airbender di Netflix sampai episode 8, tidak terasa waktu telah menunjukkan jam 01 malam. Aku perhatikan ibu yang terlelap terbungkus selimut tebal, terlihat tenang di wajah cantiknya, “Mak, love you”, entah kenapa disaat aku menulis love you ini, kok mataku begitu manja, mengeluarkan rembesan air mata. Yang pasti karena aku sayang banget sama ibuku “Sehat selalu ya, Mak” 


Aku pun mencoba memejamkan mataku setelah menikmati wajah ibu, akhirnya aku tertidur pulas. Terbangun malam dan aku saksikan jam 03.15, terlihat ibuku sedang bersimpuh zikir di sajadahnya, sholat tahajud yang selalu dilakukannya. Inilah mungkin keunggulan ibuku, yang rajin sholat tahajud dan puasa senin-kamis. Aku pun bersyukur, karena setiap sholat tahajud dan zikir, ibu tidak lupa selalu mendoakan anak-anaknya, dan yang aku tahu, inilah porsi doa terbesar setiap kesempatan dari ibu.


“Yuk bangun, sholat Subuh jamaah” tepukan halus di kakiku, aku pun terbangun dan segera mengambil air wudhu. Alhamduliah masih diberikan kesempatan untuk sholat berjamaah dengan ibu. Seperti biasanya, selesai sholat Subuh, ibu masih terus berlanjut dengan zikirnya.


Pagi jam tujuh, kami berlima menuju lantai dua Hotel Solia Zigna Kampoeng Batik untuk sarapan pagi. Ini keuntungan menginap di sini, disaat sarapan pagi, makanannya lengkap, banyak jenis yang ditawarkan, apalagi minumannya seperti cafe, jenis kopinya ditawarkan, dan aku memilih Americano arabica tanpa gula, yah sekali lagi karena manisnya sudah aku dapatkan dari kebersamaan dengan ibu.
“Mak, yuk segera siap-siap kita mau keluar” 
“Mau kemana ?” 
“Tenang saja, Mamake mesti senang” kataku menggodanya sambil tersenyum, ibu memandangku dan hanya tersenyum kecil, terus segera mandi dan bersiap untuk mengikuti perjalanan hari ini.


Jam 09.00, kami keluar hotel dengan berjalan kaki, menyusuri kampoeng batik yang ada di belakang hotel, di Toko Batik Putra Bengawan di sekitar Tugu Laweyan kampung Batik, kami memilih, tentunya yang kami sukai kami membelinya.
Aku melihat wajah ibuku yang begitu senang diajak belanja, melihat dan memilih ditemani istriku, cocok mereka berdua. Terpilih sudah yang kami pilih, semoga di lebaran nanti punya seragam untuk acara rutin buka bersama.
Selesai pilih memilih batik, kami segera meluncur dengan kendaraan yang di sopiri anak lanang, terdengar mulut komat-kamit ibu, sepertinya beliau cemas dengan cara menyetir Rafi. Memang sih gaya menyetirnya turunan, turunan siapa ya?


“Kita mau ke mana sih” Ibu menanyakan perjalanan ini, karena kok jalannya masuk tol, kami hanya diam dan senyum. “Tenang Mak, pokoknya nanti Mamake senang” kataku dan yang lain hanya tersenyum.
Begitu sampai mau berhenti, ada seorang pemuda yang menjemputnya di depan rumah, “Lah, kok itu si Ero” katanya kaget.
“Lah, emang itu rumahnya Ero” kataku santai, menggoda ibu.
Ibu hanya diam saja, sampai kami masuk ke rumah dan duduk dengan hidangan yang sudah lengkap, terlihat ibuku meneteskan air mata.
“Lah, Mamake kok nangis?” Kata istriku, melihat keharuan mertuanya.
“Alhamdulillah, sampai ke rumah Ero, tidak menyangka, sampai sini, kemarin bilangnya ke Solo” katanya dengan terharu.


Memang sih, Ero ini cucu pertamanya, tentunya ada perasaan berbeda, aku sih bersyukur saja bisa menambah kebahagiaannya. Setelah sholat Jumat, kami berencana kembali ke kota Solo.
“Er, sekalian yuh, menginap di Solo” kataku mengajak Ero
“Sik Ung” biasa dia memanggilku dengan Ung, bukan Om, kerena panggilan dari kecil. Setelah berembug dengan keluarganya, akhirnya dia ikut ke Solo, untung saja masih tersedia kamar di hotel Solia Zigna.


Sebelum kembali ke kota Solo, kami diajak mencicipi Warung Ndeso Sragen sekalian makan siang. Makan di sini, makanannya beragam dan lumayan enak, ada mangutnya juga, ini yang membuat istriku semangat untuk makan siang.
Ini dia nih, tujuan utama aku mengajak ibu ke Solo, beliau ingin melihat Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Ternyata perjalanan Sragen-Solo diiringi dengan hujan lebat sepanjang jalan, untungnya hujan telah berhenti begitu memasuki kota Solo.
Perjalanan yang kami tempuh dari Sragen sekitar 1 jam dan sampailah di tempat yang dituju.


“Mak, itu masjid nya, Masjid Gibran, heheh” kataku menggoda ibu.
“Alhamdulillah, kesampaian ya, terima kasih ya, tidak menyangka bisa sampai sini” begitu yang terucap dari bibir ibu, ucapan takjub dan bersyukur yang menyatu menjadi satu. Setelah memarkirkan kendaraan di halaman masjid, kami nikmati rasa takjub ini dari sisi area parkir dan serambi masjid. Pada kesempatan yang baik ini, kami manfaatkan untuk berfoto-foto dan kebetulan bisa sholat berjamaah ashar. Memang indah masjid ini, selain indah bisa memberikan keberkahan bagi umat, wisata religi dan keberkahan rezeki sekitar majid.


“Yang adzan, suaranya mirip di Mekkah ya” Kata ibu menunjukkan kegembiraannya. “Ya, mungkin yang jadi muadzin dan imam di sini juga dipilih lah, Mak” Aku sempatkan duduk lama sambil merenung dan mengaji didalam, setelah dirasakan cukup, kami ketemuan di sisi tengah masjid untuk kembali menikmati keindahannya dan tentunya berfoto bersama, puas? Tentulah, setiap yang mendekatkan kepada Nya, insyaalah membuat jiwa menjadi puas. Setelah puas dengan sedikit mengobrol diserambi masjid, kamipun kembali ke hotel.


Kegiatan malam, kami coba menyusuri malamnya Solo, akhirnya kami memilih untuk bersantai di A&M Co Cafe di jalan Abdul Rahman. Salah tempat ? boleh dibilang iya, boleh juga tidak. Iya mungkin karena makanannya kurang begitu cocok untuk ibu, disamping harganya yang lumayan mahal, tetapi untuk anak muda seperti Rafiapta, mereka berdua terlihat menikmatinya.
Hidup selalu harus bersyukur, untuk pelajaran di hari ini. Kebahagiaan bukan hanya didapat untuk diri sendiri, tetapi dengan membahagiakan orang lain dengan menghargai dan memberi, jauh lebih bisa membahagiakan diri kita. Inilah kisah di hari ke dua. To be continue

Komentar(0)

Tinggalkan komentar