Sebuah cerpen
Hari kelima setelah lebaran,
ketika sebagian orang perlahan beranjak dari riuh silaturahmi dan kembali
menuju hiruk pikuk dunia nyata, pagi ini aku justru memilih sunyi.
Malam sebelumnya, aku duduk dalam
tahajudku—lama, lebih lama dari biasanya. Sujud terasa berbeda. Ada getar yang
tak biasa, seolah hati sedang disentuh oleh sesuatu yang tak kasat. Doa-doa
mengalir, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan seperti yang ditarik pelan
dari kedalaman jiwa yang paling sunyi.
Aku berdoa banyak malam itu.
Tentang hidup. Tentang waktu. Tentang orang-orang yang diam-diam menjadi alasan
aku tetap kuat. Entah kenapa, di antara sekian banyak yang ku sebut dalam doa,
satu nama berulang kali muncul, seperti gema yang tak mau hilang, mamake.
Sejak kemarin, rindu itu datang
tanpa aba-aba. Tidak keras, tidak juga menghentak. Ia datang perlahan, tapi
menetap. Mengisi ruang-ruang kosong yang sebelumnya tidak aku sadari ada. Rindu
yang sederhana, tapi dalam. Rindu yang tidak bisa diwakilkan oleh pesan singkat
atau sekadar panggilan telepon.
Seusai tahajud, aku lanjutkan
dengan sholat subuh. Ada ketenangan yang aneh. Seperti hidup ini sedang diberi
jeda untuk aku mengerti sesuatu. Wirid yang biasanya hanya menjadi rutinitas,
pagi itu terasa seperti percakapan yang sangat pribadi dengan Tuhan. Dalam
setiap tasbih, tahmid, dan takbir, ada rasa syukur yang perlahan tumbuh, tapi
di saat yang sama, ada ruang rindu yang semakin melebar.
Dan lagi-lagi, mamake hadir di
sana.
Ketika mentari mulai menampakkan
dirinya dalam remang pagi, aku memutuskan sesuatu yang sebenarnya sederhana:
aku ingin bertemu mamake.
Perjalanan itu aku tempuh dengan
motor, menyusuri jalan kecil yang membelah persawahan. Udara pagi masih dingin,
embun masih setia di ujung daun padi, dan suara alam terdengar begitu jujur.
Tidak ada yang dibuat-buat. Semua apa adanya. Seperti perasaan yang sedang aku
rasakan.
Hari kelima setelah lebaran. Aku
membayangkan rumah mamake pasti sudah kembali sunyi. Tidak ada lagi tawa
anak-anak dan cucu yang beberapa hari lalu memenuhi setiap sudut rumahnya.
Tidak ada lagi suara riuh dapur yang sibuk menyiapkan hidangan. Semua telah
kembali ke kehidupan masing-masing.
Dan mamake… mungkin kembali pada
sunyinya.
Pikiran itu membuat langkahku
terasa lebih cepat. Entah karena rindu, atau karena ada rasa takut—takut
kehilangan waktu yang mungkin tanpa sadar terus berkurang.
Sesampainya di depan rumah, aku
mematikan motor dan menyandarkannya pelan. Ada jeda sesaat sebelum aku
melangkah. Seperti ingin memastikan bahwa momen ini benar-benar nyata.
Namun sebelum aku sempat mengetuk
pintu, pintu itu sudah terbuka.
Mamake muncul dari baliknya.
Wajahnya sama seperti yang selalu
aku ingat. Tenang. Teduh. Ada garis-garis usia yang semakin jelas, tapi justru
di situlah letak keindahannya. Wajah yang telah melewati begitu banyak hal,
tapi tetap menyimpan kelembutan yang sama.
“Assalamu’alaikum, Mak…”
Suaraku terasa sedikit tertahan.
“Wa’alaikumussalam… loh, kok
pagi-pagi sudah ke sini… apa tidak kerja?”
Salam dan pertanyaan itu—yang
hampir selalu sama—seolah menjadi pengingat halus tentang hidup yang harus
tetap lurus, tetap tertib, tidak melanggar aturan. Begitulah beliau. Sederhana
dalam kata, tapi dalam maknanya.
Senyumnya tidak pernah berubah.
Hangat, tenang, dan menenangkan. Cukup untuk membuat semua rindu yang kubawa
sepanjang jalan perlahan menemukan tempatnya, lalu diam… di hadapannya.
Aku membawa sebungkus bubur
ayam—makanan yang sederhana, tapi aku tahu itu salah satu kesukaan beliau.
Tidak istimewa, tapi penuh niat.
Kami duduk berdua. Tidak ada
suasana yang dibuat-buat. Hanya dua orang yang saling memahami tanpa perlu
banyak kata.
Toples-toples lebaran masih
tersusun di meja. Isinya sudah tidak penuh lagi. Beberapa tinggal setengah,
bahkan ada yang hampir kosong. Tapi justru di situlah cerita itu terasa.
Toples-toples itu seperti saksi
bahwa rumah ini beberapa hari lalu penuh kehidupan.
Kami mulai mengobrol.
Tentang lebaran yang baru saja
berlalu. Tentang siapa saja yang datang. Tentang cucu-cucu yang kemarin
berlarian di ruang tamu. Mamake bercerita dengan pelan, sesekali tersenyum
sendiri, seolah sedang memutar ulang potongan-potongan kebahagiaan itu di dalam
ingatannya.
“Ramai kemarin… alhamdulillah…
semua pada kumpul…”
Kalimat itu sederhana, tapi aku
menangkap sesuatu di baliknya. Ada
bahagia, tapi juga ada sepi yang diam-diam menyusul setelahnya.
Kami lalu terdiam sejenak. Bukan
karena kehabisan bahan bicara, tapi karena ada kenyamanan dalam diam itu
sendiri.
Aku memandang toples-toples itu
lagi. Tiba-tiba aku teringat masa kecil.
Dulu, aku adalah bagian dari
keramaian itu. Aku yang berlarian ke sana kemari. Aku yang membuka tutup toples
tanpa izin. Aku yang tak pernah berhenti mengambil kue, seolah lebaran hanya
tentang rasa manis yang tak boleh terlewat. Dan mamake… selalu ada di
sana—mengawasi, menegur, tapi diam-diam tetap tersenyum.
“Mak… dulu aku sering dimarahin
ya kalau kebanyakan makan kue…”
Mamake tertawa kecil, tawanya
ringan tapi penuh kenangan.
“Iya… tapi tetap diambil lagi kan… gorengan aja bisa habis setoples…”
Kami tertawa bersama. Tawa yang
sederhana, tapi terasa hangat, seperti menghidupkan kembali potongan masa lalu
yang sempat tertinggal.
Dan di situlah obrolan perlahan
berubah arah.
Kami mulai bicara tentang masa
lalu. Tentang masa kecil yang dulu terasa biasa saja, bahkan mungkin tak sempat
disyukuri, tapi kini menjelma menjadi kenangan yang begitu berharga. Kenangan
yang tidak bisa diulang, hanya bisa dikenang… dan dirindukan.
Mamake bercerita tentang aku yang
dulu. Nakal, katanya. Tidak bisa diam. Selalu saja ada ulah yang membuat repot.
Tapi di balik cerita-cerita itu, aku tidak hanya mendengar kenakalan—aku
mendengar cinta yang tidak pernah berkurang, bahkan mungkin tak pernah berubah
sejak dulu.
Aku memilih diam. Tidak memotong,
tidak menyela. Aku hanya ingin mendengarkan. Menyimpan setiap kata, setiap
jeda, setiap nada suara beliau… seolah aku sedang mengumpulkan
serpihan-serpihan kenangan yang suatu hari nanti akan sangat aku rindukan.
Lalu obrolan kami bergeser pelan…
menuju harapan.
“Yang penting sehat ya… Rafi,
Apta sudah gede, dijaga… hidup itu sederhana… yang penting bisa menjalani… yang
rukun, jangan pada ributan…”
Kalimat itu terdengar begitu
biasa. Sederhana. Tanpa susunan kata yang rumit.
Namun ketika keluar dari bibir mamake, ia menjadi dalam… seolah membawa seluruh
pengalaman hidup yang telah beliau lewati, lalu diserahkan pelan sebagai bekal
untukku melangkah.
Aku memandang wajahnya. Tenang.
Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Seolah hidup telah ia terima
sepenuhnya—apa pun yang datang, dan apa pun yang perlahan pergi.
Dan di situlah aku sadar, usia
bukanlah tentang angka. Bukan tentang tua atau muda. Tapi tentang bagaimana
seseorang menjalani hidupnya—dengan lapang atau dengan keluh, dengan syukur
atau dengan sesal.
Kadang kami hanya saling diam.
Tidak ada kata, tapi penuh makna. Masing-masing larut dalam bayangan dan cerita
yang mungkin tidak pernah sepenuhnya terucap. Di dalam diam itu, hadir satu
sosok yang kini hanya tinggal kenangan—Bapak. Namanya tak banyak disebut, tapi
terasa begitu dekat… hadir dalam doa-doa yang tak pernah putus.
Pelan, mamake berpesan, “Jangan
lupakan doa untuk Bapak… karena hidupmu juga ada bagian darinya.”
Kalimat itu sederhana, tapi
menancap dalam. Mengingatkanku bahwa hidup ini bukan hanya tentang yang masih
ada di hadapan mata, tapi juga tentang mereka yang telah lebih dulu pergi—yang
tetap hidup, dalam doa dan dalam jejak yang kita jalani.
Waktu terasa berjalan begitu
cepat.
Tanpa terasa, pagi perlahan
beranjak siang. Cahaya yang tadi lembut kini mulai terang, seolah
mengingatkanku bahwa ada kehidupan lain yang menunggu untuk dijalani, ada
tanggung jawab yang tak bisa ditunda.
Aku berdiri, sedikit enggan, tapi
harus.
“Mak… aku pamit ya…”
Mamake hanya mengangguk. Tidak
menahan. Tidak meminta lebih. Seperti biasa—membiarkan, tapi tetap mendoakan
dalam diam.
Aku menyalami tangannya.
Hangatnya masih sama. Hangat yang tidak hanya terasa di kulit, tapi meresap
sampai ke dalam hati.
Sebenarnya… ada cerita lain di sini. Cerita yang mungkin tak sempat terucap.
Tapi biarlah, semoga yang tersisa dan yang akan datang hanyalah kabar-kabar
baik.
Dan lagi-lagi, ada rasa yang
sulit dijelaskan saat aku berbalik melangkah keluar. Seperti ada yang tertinggal… tapi tak bisa aku bawa.
Aku menaiki motor, lalu perlahan
meninggalkan rumah itu.
Perjalanan kembali menyusuri
jalan di tengah sawah terasa berbeda. Pemandangannya masih sama—hamparan hijau
yang tenang, jalan kecil yang akrab, udara pagi yang jujur—namun perasaanku
tidak lagi sama. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di belakang, sesuatu yang
tak kasat, tapi terasa begitu nyata.
Wajah mamake terus terbayang.
Wajah seorang wanita tua yang tenang. Wajah yang menyimpan begitu banyak cerita,
begitu banyak luka yang mungkin tak pernah diceritakan, dan cinta yang selalu
hadir tanpa banyak kata.
Aku berpikir… hidup ini memang
tidak bergantung pada usia. Bukan tentang tua atau muda. Tapi tentang bagaimana
kita menghargai setiap pertemuan yang Allah titipkan. Tentang bagaimana kita
hadir sepenuhnya, sebelum waktu diam-diam mengambil kesempatan itu kembali.
Karena pada akhirnya, yang paling
menyakitkan bukanlah perpisahan…
tetapi kesempatan yang tidak kita gunakan dengan baik.
Angin pagi masih terasa sejuk.
Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, hanya seberkas cahaya yang perlahan
menyibak langit, seperti harapan yang muncul pelan-pelan dari balik doa.
Dan di dalam hati, ada satu ruang
yang tetap terisi—sebuah doa yang sederhana, tapi penuh harap.
Ya Allah…
jika Engkau masih memberi waktu…
Pertemukan kami kembali di lebaran tahun depan.
Dalam keadaan yang lebih baik.
Dalam kebahagiaan yang lebih utuh.
Dan dalam kesempatan untuk kembali duduk berdua…
bersama mamake, dan keluarga.
=gn=
Mbayumu on 2026-03-25 13:07:22
Berikan kesehan dan usia yg berkah un Mamake