on 02 Agustus 2022, 07:49
  • #igunwinarno #traveling #indonesiamasihbanyakyangindah #tembeling #nusapenida

TEMBELING YANG TIDAK TERDUGA

Setelah melepas rasa lelah dan mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke Tembeling, konon menurut Pak Made, ini daerah yang jarang dikunjungi orang. Sebuah ceruk kolam air tawar di pinggir pantai dan gua yang tembus ke pantai.

Selama perjalanan menurut google Map dari Diamond Beach sejauh 27 km dan ditempuh waktu sekitar 60 menitan, menuju Tembeling, tidak bisa membuat mata kami terpejam.

Pertama karena jalannya berkelok-kelok, bagaikan lenggokan penari Bali atau Jaipong juga boleh dan yang kedua tentunya pemandangan pegunungan yang disuguhkan Tuhan begitu eksostik, begitu indah untuk kita nikmati.

Kumpulan perbukitan yang menawan, telah membuat kami bagaikan de javu pernah mengalami ini, ternyata sangat mirip dengan keindahan di Bumi Pulau Sumba, kebetulan kami bertiga juga pernah menyusuri trip SUMBA.

Keindahan gugusan pegunungan ini, mereka namakan Bukit Teletabies, saya juga tidak tahu mengapa dinamakan Teletabies, mungkin terinspirasi cerita boneka anak, seperti pada bukit di Gunung Bromo.

Bukit Teletabies Nusa Penida ini tidak kalah indahnya, gugusan pegunungan begitu menakjubkan, saling bersautan antar lembah, mengirim pesan cinta dari puncak bukit satu dengan lainnya dan bergandengan erat dimabuk cinta, keadaan ini menggambarkan sebagian kecil keagungan dan kuasa Tuhan akan penciptaan alam ini.

Bukit Teletabies masih sepertiga perjalanan menuju Tembeling, tetapi tetap saja aku tidak bisa memejamkan mata.

Menurut Pak Made Darmawan, kalau kita ke Tembeling, setelah sampai parkiran, akan dilanjutkan dengan naik ojek sampai tempatnya, tentunya kami sungguh senang sekali karena bisa langsung menikmati apa yang di tuju, benarkah demikian ?

Sampailah kami di area parkir kendaraan, memang tidak begitu banyak kendaraan, hanya sekitar 4 mobil MVP terparkir disana. 

Kami turun dan segera ditawari ojek oleh sekumpulan pemuda di area parkiran, aku memesan 4 motor ojek, tadinya Pak Made tidak akan ikut tetapi aku ajak saja, dan tiket ojek aku yang bayarin, karena diluar paket tour. Satu ojek pulang pergi seharga 50 ribu rupiah.

Kami pun berbagi motor ojek, kebetulan salah satu pemuda memilih saya sebagai penumpangnya, mungkin melihat badan saya, karena sepeda motor dia kapasitas mesin 150 cc, wow cukup kuatlah. 

Kami pun menyusuri jalanan menuju area pantai dan ceruk mata air yang telah di ceritakan, oo..... April Mop !!!!. Jalanan motor ojek saja menurun drastis.

"Tidak apa turunan landai kok" kata pemuda ojeknya. 

Ternyata kami kembali harus menuruni tangga lagi, perasaan tidak enak sudah mulai menyerang betis ini....heheheheh kalau perasaan hati dan pikiran kali ya.

Tapi apa mau dikata, sudah naik ojek yang cukup heroik dengan turunan setapak dan saling berpapasan, bergantian jalan, masa tidak dilanjut turun sampai ke bawah.

Akhirnya kami turun menyusuri trap tangga demi tangga, memang benar tangga lebih landai, tetapi ternyata lebih wow banget dibandingkan di Raja Lima, yang membuat disini sedikit asik, karena saat kami turun, kanan kirinya tebing tinggi dan pepohonan, sehingga kami tidak terpapar matahari sama sekali, yang ada suasana sejuk dan dingin.

Setelah beristirahat beberapa kali, sampailah kami di cekungan air pertama, air tawar, konon cerita dulunya cekungan ini dalam, kurang lebih sedalam 8 meter, dan sering digunakan untuk arena terjun, tetapi sewaktu terjadi banjir membawa material beton, membuat cekungan ini terendam sehingga tersisa kedalaman hanya hanya sekitar 1 meter.

Kami lanjutkan turun, dan menemukan gua yang langsung terhubung ke laut lepas, duduk di bebatuan cadas karang, menikmati suara deburan ombak besar dan pantulan air lembut pecahan ombak, sungguh suasana seperti ini cukup membuat hilang penat aktivitas harian.

Kami beralih keluar dan menuju sebelah gua, ternyata disitu ada kolam air tawar yang lebih besar dan pantai pasir putih, dilengkapi dengan sepasang ayunan yang romantis.

Ada beberapa turis asing yang sedang santai tiduran di pantai pasir putih.

Setelah puas menikmati semuanya, kami bersiap untuk kembali naik ke area parkiran ojek. Sudah bisa dibayangkan khan ? Bagaimana perasaan mau naik !. Sudah capai duluan, tetapi mau bagaimana lagi pelan-pelan kami mulai naik, saat sampai di ceruk air tawar pertama, kami membeli minuman, hanya satu penjual ini dan kamipun ngobrol sekedar kisah Tembeling. Konon ceritanya Tembeling ini dari kata "Beling" yang artinya wanita yang sedang hamil, dan wanita inilah yang menemukan ceruk ini, maka dinamakan Tembeling. Saya pikir ada mistisnya dan mistisnya kalau ingin hamil mandilah disini.....hehehe.

Selama perjalanan menaiki tangga, kami bersama salah satu rombongan keluarga dengan anaknya, kebetulan anak lelakinya sedikit berlebih berat badannya dan tampak sesak. Saya mendengar suara stridornya, nafasnya begitu cepat. Jiwa dokter anestesi nya muncul nih, kami pun tidak mau meninggalkan dia (atau hanya sekedar alasan capai juga...xixixi)

"De jangan di paksain, kalau capai berhenti saja kaki dilurusin jangan ditekuk biar darah baliknya lancar" mulai memberikan semangat dan tetap kami beriringan dibelakang dengannya, walau setelah sampai beberapa anak tangga berhenti kembali.

Alhamdulillah sampai juga di area parkiran ojek dengan kondisi sehat semuanya, melelahkan itu pasti tetapi hakekat lebih mengenal keagungan Tuhan itulah sejatinya kita berwisata, bahwa kita tidak ada apa-apanya.

Perjalanan naik ojek untuk kembali, sungguh sesuatu hal yang memerlukan kepercayaan sendiri sama ojeknya, jalan terjal itu problem nya. Alhamdulillah sampai di parkiran kendaraan dengan selamat tidak kurang suatu apapun.

"Pak Made katanya tidak turun-turun lagi, kok lebih berat dari Raja Lima" begitu protes istriku dan dijawab dengan tertawa oleh Pak Made, katanya selama ini dia hanya sampai parkiran dan baru diajak kami turun, langsung deh tepuk jidat. Inilah bagian cerita perjalanan 3 hari 2 malam di Nusa Penida.

Wuah masih ada cerita beberapa trip lagi nih, bagaimana keindahan Angel beach, Broken Beach, Andos dan menikmati sunsest di Crystal Bay. Tunggu ya..... sambil menenangkan hati nih dalam menulis ini. Problem tiket pulang pesawat yang belum dapat. (by goens"GN)

Komentar(2)

Leif on 2023-11-25 20:45:30

Aw, this was a very nice post. Finding the time and actual effort to produce a superb article… but what can I say… I hesitate a whole lot and never manage to get nearly anything done.

Wayne on 2023-11-27 12:42:22

Wow, this article is good, my younger sister is analyzing such things, thus I am going to convey her.

Tinggalkan komentar