oleh; Igun Winarno
Perjalanan spiritual bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah panggilan hati, undangan Ilahi yang hanya bisa dijawab oleh mereka yang dipilih dan dipersiapkan. Di antara bentuk perjalanan spiritual tertinggi adalah ibadah haji, yang diperuntukkan bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial untuk menunaikannya. Keyakinan ini tertanam kuat dalam sanubari umat Islam, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Ali 'Imran: 97)
Frasa “man istatha‘a ilaihi sabiilan” (bagi yang mampu mengadakan perjalanan) menjadi dasar bahwa haji hanya diwajibkan bagi mereka yang benar-benar mampu. Kemampuan ini mencakup kesiapan fisik, kecukupan finansial, nafkah untuk keluarga yang ditinggalkan, dan keamanan dalam perjalanan.
Namun, tak sedikit yang memiliki kelapangan rezeki tetapi belum terpanggil, tubuh yang sehat tetapi belum tergerak untuk berniat, atau yang telah siap namun belum memperoleh kuota. Ini mengajarkan kita bahwa haji bukan semata perkara kemampuan duniawi, tetapi juga soal panggilan ilahi dan taufik dari Allah SWT.
"Haji adalah panggilan Allah. Maka siapa yang datang, dialah yang telah dijemput menjadi tamu-Nya."
Maka, sudah selayaknya kita memohon dengan penuh harap dan tawakal, “Ya Allah, karuniakanlah aku rezeki untuk dapat berhaji yang mabrur.” Iman itu melahirkan ikhtiar dengan menabung, mendaftar, dan berdoa sepenuh hati, karena hanya Allah yang mampu membukakan jalan.
Ketika panggilan itu tiba, hati dipenuhi haru bahagia sekaligus galau. Para kerabat berdatangan, mengucap selamat, menyampaikan doa, bahkan menitipkan harapan untuk turut didoakan di Tanah Suci. Kita pun menyadari bahwa tanah haram adalah tanah yang penuh keberkahan, tempat mustajab untuk memanjatkan doa.
Perjalanan spiritual ini dimulai dengan penerbangan yang menyenangkan bersama Emirates Airways, menuju Madinah setelah transit di kota Dubai.
Madinah, kota yang tenang dan menyejukkan. Di sinilah Islam tumbuh dan berkembang. Di sinilah Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Dan di sinilah terdapat Raudhah, sebuah taman dari taman-taman surga. Lima hari kami habiskan untuk memperdalam zikir, doa, dan ziarah, khususnya di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW.
Perjalanan dilanjutkan menuju kota suci Makkah untuk menunaikan umrah, dengan mengambil miqat di Bir Ali.
Namun, tahun ini merupakan musim haji yang penuh tantangan dan pengawasan ketat. Sistem baru berupa Kartu Nusuk menjadi titik krusial dalam perjalanan. Bersama biro travel Ar Rayyan, perjalanan kami sempat terhenti sebelum memasuki kota Makkah. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang super ketat, bus kami dicegat di posko terakhir karena sopir tidak memiliki kartu Nusuk.
Kami pun terpaksa menunggu selama tiga jam di dalam bus, masih mengenakan kain ihram umrah. Ini bukan sekadar penundaan teknis, tetapi ujian kesabaran dan pelajaran hidup: tiada masalah tanpa solusi, begitulah fitrah kehidupan.
Situasi ini tidak hanya kami alami, tetapi juga dialami banyak jemaah lain, baik dari jalur haji reguler maupun plus. Sistem baru ini memang membawa tantangan, namun sebagai jemaah, kita harus tetap fokus pada niat ibadah. Mungkin inilah bentuk ujian dari Allah SWT, agar kita belajar bersabar, berserah, dan bersyukur dalam setiap langkah perjalanan menuju-Nya.
"Ya Allah, inilah Tanah Haram-Mu. Engkau yang mengharamkannya dan menjadikannya sebagai tempat yang aman. Maka haramkanlah aku dari api neraka, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu, dan jadikanlah aku termasuk wali-wali-Mu serta orang-orang yang taat kepada-Mu."
Alhamdulillah. Dengan penuh syukur dan haru, kami menginjakkan kaki di Tanah Haram, Makkah, untuk melanjutkan perjalanan umrah. Setelah memasuki Hotel Movenpick dan menunaikan salat Subuh, kami melanjutkan dengan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, kemudian melakukan sa’i antara Bukit Safa dan Marwah. Maka selesailah rangkaian ibadah umrah yang menandai perpindahan dari Madinah ke Makkah.
Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan beribadah di Masjidil Haram. Suasana padat dan sesak menjadi pemandangan yang lumrah. Ditambah dengan teriknya matahari yang mencapai 45 derajat Celsius, sebuah ujian fisik yang luar biasa. Namun, panas ini tak menggoyahkan iman kami. Justru semakin memperkuat niat untuk melebur dosa dan membersihkan hati yang selama ini tertutup. Semangat untuk meringankan beban hidup menjadi kekuatan utama dalam perjalanan spiritual ini.
Tiga hari menjelang pelaksanaan ArMUzNa (Arafah, Muzdalifah, Mina), kami berpindah ke hotel transit. Salah satu alasannya tentu karena tingginya biaya penginapan di sekitar Masjidil Haram. Hotel transit ini terletak agak jauh, suasananya tenang, jauh dari keramaian. Kami menyebut momen ini sebagai masa "Tamatu": singkatan dari "Tangi, Mangan, Turu" (Bangun, Makan, Tidur), sebuah ungkapan ringan yang kami jadikan hiburan. Namun sejatinya, ini adalah karunia Allah bagi kami untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji.
Pada 8 Dzulhijjah, kami diberangkatkan menuju Mina untuk melaksanakan Tarwiyah. Di sana kami menunaikan salat Dzuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Subuh secara jamak dan qashar, sebelum berangkat ke Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Hidup di Mina penuh tantangan. Ruang tidur yang sempit, antrean panjang untuk makanan, dan keterbatasan fasilitas MCK menjadi ujian tersendiri. Tapi kami yakin, semua ini adalah bagian dari proses. Kesabaran dan keyakinan menjadi kunci. Inilah perjuangan untuk meraih haji yang mabrur.
Pagi 9 Dzulhijjah, usai Subuh, kami bergerak menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf, inti dari ibadah haji. Tenda yang sesak dan suhu yang menyengat kembali menjadi ujian fisik. Setelah salat Dzuhur dan Asar yang dijamak-qashar, kami mendengarkan khutbah Arafah. Inilah momen “Waktu dan Tempat Mustajab” untuk berdoa. Terutama setelah Asar hingga Maghrib, kami memperbanyak dzikir, membaca:
"La ilaha illallah, wahdahu la syarika lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir." Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya-lah kerajaan dan segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Doa-doa yang menjadi hajat pribadi maupun titipan dari sahabat kami panjatkan dengan penuh khusyuk, dalam kekhusyukan agung kepada Allah SWT.
Usai Maghrib dan salat jamak Maghrib-Isya, kami melanjutkan perjalanan malam menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu jumrah. Namun, rombongan kami hanya berhenti sejenak di waktu tengah malam, lalu melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf Ifadah dan Sa’i. Sebelum salat Idul adha, seluruh rangkaian ibadah telah selesai. Kami menutupnya dengan tahallul, memotong rambut rata 2 cm (tidak dicukur plontos dalam kasus saya).
Cerita menarik yang selalu pantas untuk disyukuri, kondisi lutut dan kaki yang kurang bersahabat, menjadi keraguan untuk proses ini semua, dana untuk naik kursi roda di saat sai-pun telah dipersiapkan, tetapi ternyata Allah, berkehendak lain, perjalanan Safa dan Marwah bisa kami lalui dengan kenikmatan bersama istri, tanpa menggunakan kursi roda, inilah mukzizat yang patut untuk terus di syukuri, dan proses haji itu penuh dengan cerita bagaimana seorang hamba dipantaskan untuk menghadapnya. Kok, air mataku menetes...
Sarapan pagi kami lakukan di Hotel Jabal Omar disekitar WC 7, dan alhamdulillah, disajikan menu masakan Indonesia yang sesuai selera lidah, nikmat tak terkira! Kami pun kembali ke hotel transit, melepaskan pakaian ihram dan beristirahat sejenak, bersyukur atas segala nikmat dan kemudahan yang diberikan.
Sore hari, sebelum pukul 16.00, kami kembali ke Mina dengan menggunakan bus. Ini merupakan sebuah keberuntungan, karena transportasi masih dapat mengantarkan kami langsung hingga ke Maktab 111, maktab yang paling dekat dengan area Jamarat untuk melontar jumrah, hanya sekitar 100 meter jaraknya.
Setelah menaruh barang-barang di tenda, kami langsung menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah Aqabah. Alhamdulillah, rasa syukur yang mendalam kami panjatkan kepada Allah. Dengan selesainya prosesi ini, maka seluruh larangan dalam ihram resmi telah terlepas.
Kegiatan masih berlanjut di Mina untuk melaksanakan lempar jumrah pada hari-hari tasyrik berikutnya. Mina, sekali lagi, menjadi bagian dari ujian spiritual dalam ibadah haji. Kesabaran benar-benar menjadi kunci, baik dalam menghadapi kondisi tempat, antrian, maupun dinamika bersama jamaah lainnya.
Alhamdulillah, semua dapat kami lalui dengan baik. Lempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari pertama dan kedua pun telah kami lakukan. Kami memilih nafar awal, yaitu kembali meninggalkan Mina pada hari kedua tasyrik. Sekitar pukul 10 pagi, sebelum masuk waktu Maghrib, kami sudah tiba kembali di hotel transit.
Selesai sudah seluruh rangkaian ibadah haji yang kami jalani. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas nikmat dan kemudahan yang diberikan sepanjang perjalanan suci ini.
Waktu menunggu kepulangan kami isi dengan berbagai kegiatan spiritual pribadi, seperti salat malam, serta beragam aktivitas yang disiapkan oleh pihak biro travel. Salah satunya adalah wisata religi ke Kota Thaif, kota penuh kenangan perjuangan Rasulullah?, tempat beliau diuji dengan penolakan dan hinaan, namun tetap membalas dengan kesabaran dan doa.
Thawaf Wada kami laksanakan tidak bersama rombongan. Tepat pukul 14.00 siang, di bawah terik matahari yang menyentuh 45 derajat Celsius, kami melakukan thawaf perpisahan dari Tanah Haram. Doa dan harapan kami panjatkan agar kelak bisa kembali menginjakkan kaki di tempat suci ini untuk beribadah lagi.
Perjalanan pulang dimulai melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dengan transit di Dubai. Di sana, kami menginap semalam di Hotel Kapal Quick Silver setelah sebelumnya mengikuti city tour singkat di Dubai. Meski dalam hati lebih memilih langsung pulang ke tanah air, kami tetap mengikuti rangkaian perjalanan bersama rombongan travel sebagai bagian dari kebersamaan.
Tepat tengah malam, kami kembali ke Bandara Dubai untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Setelah mengalami keterlambatan sekitar satu jam, pesawat kami akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 16.30 WIB. Proses pengambilan bagasi berjalan lancar, dan kami pun disambut hangat oleh tim dari Biro Travel Ar Rayyan dengan pengalungan bunga yang berkesan. Kami sangat menghargai perhatian dan pelayanan luar biasa dari seluruh tim Ar Rayyan, terima kasih yang sebesar-besarnya.
Apakah perjalanan sudah selesai? Tentu belum. Bila sebagian jamaah langsung pulang ke rumah masing-masing, kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan kereta api dari Stasiun Manahan. Akhirnya, kami tiba di Purwokerto sekitar pukul 03.10 dini hari dan sampai di rumah sesaat menjelang salat Subuh.
Apa yang terjadi di rumah? Sambutan keluarga yang hangat membuat hati kami terharu. Dan tak ketinggalan, dua piring mendoan hangat yang selama ini dirindukan pun tersaji di meja makan, sederhana namun membahagiakan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang langkah kaki menapaki Tanah Suci, tapi juga tentang kebersamaan, sebuah kisah yang terajut indah bersama rombongan travel Ar Rayyan. Di tengah lantunan doa dan zikir, profesi sebagai seorang dokter tetap melekat dalam diri, menjadi jembatan untuk saling membantu, mengisi kekosongan, dan menjaga kesehatan saudara seperjalanan.
Terima kasih, ya Allah, Engkau telah menganugerahiku amanah profesi ini, sebuah jalan pengabdian yang tak hanya bermanfaat di ruang praktik, tapi juga di tengah-tengah perjalanan menuju-Mu. Dalam lelah yang berpahala, dalam senyum yang menyembuhkan, aku belajar bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang ilmu, tapi tentang cinta dan kepedulian yang Kau titipkan di setiap langkahku.
Inilah sebuah perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Semoga siapa pun yang membaca kisah ini dengan khidmat, penulis doakan dapat merasakan pengalaman serupa: berdiri di Masjidil Haram, menjalani proses Arafah, Muzdalifah, dan Mina dengan keikhlasan. Aamiin Ya Rabbal 'alamin.
(by goens’GN)
Nila fauziyah on 2025-06-17 10:51:53
Dok.. gak bosen2 kalau baca blog dr igun… Selalu banyak yang dirasa dan merasakan, seneng membayangkan dan kali ini ditambah dengan tetesan air mata… gak tau kenapa juga bisa mewek dok… Terimakasih untuk perjalanan spiritualnya dok..Penulis on 2025-06-17 11:23:40
Semoga Nila...segera Allah pantaskan untuk le tanah haram untuk berhaji dan berumroh serta berziarah Ke Makam Nabi dan Raudhah dengan khusuk penuh kebahagiaan... aamiinAngga on 2025-06-17 13:16:33
Selain dokter ternyata Haji Igun juga seorang penulis yg bagus?Ela on 2025-06-17 14:52:04
Dokkk makasih banyak sudah berbagi tulisan lagi tentang perjalanannya di tanah haram ini. Sy bacanya jadi ikut berkaca2 juga, karena tantangannya bener2 terasa banget kemarin waktu masuk ke makkah, terus melewati armuzna juga? gimana rasanya harus antri disaat lagi panas2nya. MasyaaAllah makasih dok udah diingetin lagi kalau perjalanan ini memang penuh tantangan dan disertai kesabaran penuh??Penulis on 2025-06-17 15:41:04
H @ANGGA, ....alhamdulillah masih bisa berbagi, semoga menjadi spirit lainnya untuk bisa disegerakan ke tanah Haram.... @Ela...sama-sama ya.... tetapi di sana lebih banyak asyiknya kok.... karena lebih merasa dekat dengan yang mengatur kehidupan kita.... semoga segera kesana ya.... aamiinTitik Lestari on 2025-06-17 16:59:45
Anik on 2025-06-17 17:20:00
Ya Allah, semoga disegerakan dimampukan bisa menunaikan ibadah haji bersama keluarga seperti dr igun&dr intan.. MashaaAllah spiritual journey yg menginspirasi..semoga Allah SWT mudahkan kami..aamiinPenulis on 2025-06-17 17:34:38
@Anik....insyaAllah.... Allah mendengar rintihan ini, semoga segera menginjakkan kaki di tanah haram untuk berhaji dan berumroh.....aamiinDessy on 2025-06-18 11:07:38
Keren dok. Jadi pengen naik haji lagi dokArrayyan Al Mubarak on 2025-06-18 16:11:00
Masya Allah, kami bersyukur sekali bisa membaca kisah haji Bapak di blog ini. Sungguh suatu kehormatan bagi Arrayyan Travel bisa mendampingi perjalanan spiritual Bapak/Ibu di Tanah Suci. Terima kasih atas kepercayaannya. Kami mohon maaf setulusnya jika ada kekurangan dari pelayanan kami selama ini. Semoga haji Bapak mabrur dan diterima Allah SWT. Jazaakumullahu khairan!