SELF-LEADERSHIP SEBAGAI KEKUATAN UNTUK TUMBUH
Kehidupan telah berubah, memasuki tatanan dunia baru, dunia gen Z, dunia anak muda, dunia yang dalam perkembangan transformasi digital, transformasi media. Bisa juga dunia yang kita temui sekarang, dunia hampa, dunia yang semakin menurunnya tatap muka, dunia merana, boleh jadi loh karena keberadaan orang-orang tersayang kita seolah tidak ada, kita disibukan dengan handphone kita, disibukan dengan gadget kita.
Apakah kita merasakan demikian?
Mari kita renungkan. Kalau kita mengatakan, apa iya sih? Bersukurlah, anda mungkin tidak mengalaminya atau bisa juga, kita tidak menyadarinya.
Tulisan ini akan sedikit menyapa mengenai fenonema VUCA, self-leadership dan ESQ matrik dalam menghadapai tantangan dunia baru, supaya kita mempunyai kekuatan untuk terus tumbuh.
VUCA
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa dunia sekarang banyak berubah, dalam berbagai sisi kehidupan, mengalami pergerakan yang cepat, perubahan yang cepat (volatility). Hari ini A, bisa jadi besok akan berkembang menjadi B, C, D. Penuh dengan ketidakpastian (uncertainty), dan variasi kehidupan yang komplek. Masalah A, mungkin akan bersumber dari banyak hal, berlapis, dan saling mempengaruhi (complexity). Ketiga hal ini saja, sudah membuat ruwet, apalagi ditambah dengan kondisi dunia yang membingungkan, penuh ketidakpastian, sulit dipahami, sulit diprediksi (ambiguity). Kalau kita tidak bisa menghadapinya, akan membuat kehidupan kita menjadi ikut semakin ruwet. Kalah bersaing dalam kehidupan, merasa terpinggirkan, muncul perasaan putus asa, merasa tidak berguna, tidak menemukan jalan keluar, anggapan bahwa bunuh diri adalah sebuah jalan keluar, tidak bahaya ta? Inilah kondisi masa kini, kondisi dunia baru yang kita kenal dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).
Kondisi VUCA merupakan tantangan untuk kita semua, bukan untuk dihindari.
Bagaimana cara kita menghadapinya?
Gampangannya, ya inilah takdir kehidupan yang kita hadapi, terima saja, jangan melawan, banyak melakukan instropeksi, melakukan afirmasi dengan menanamkan pikiran-pikiran yang positif pada diri kita, agar otak mencerna hal-hal positif dan memerintahkan diri kita untuk berperilaku positif. Mempunyai visi kehidupan yang jelas, mau apa diri saya? Setelah kita menerima keadaan dan mengambil sisi positif dalam kehidupan, langkah ini perlu dilanjutkan dengan sikap kita yang fleksibel, tidak kaku dalam menghadapi sesuatu, sikap seperti ini yang kita kenal dengan Vision. Langkah pertama volatility kita lawan dengan sikap yang vision.
Menghadapi sesuatu hal yang tidak pasti, jangan sekali-kali mengambil sikap yang tergesa-gesa. Mungkin kita perlu merenungkan, berhenti sejenak, mengkaji, bertanya, belajar agar sesuatu menjadi jelas, bila perlu kita melakukan uji coba sebagai rencana perubahan. Memahami lingkungan sekitar merupakan langkah yang tepat untuk menentukan arah perjalanan kita, ini bisa kita lakukan dalam menentukan pangsa pasar atau target sasaran kita. Jadi ketidakpastian (uncertainty), hendaknya kita hadapi dengan memahami segala sesuatu dengan jelas (understanding) melalui beberapa tahapan itu, dengan berhenti sejenak dan melakukan evaluasi dengan terus melakukan continuing quality improvement (CQI).
Suatu hal yang komplek, hadapi dengan menggali data titik temu atau alur benang kusutnya, mencari hubungan antara satu hal dengan hal lainnya, yaitu dengan membangun komunikasi yang efektif dengan mengedepankan sikap bersahabat. Hindari sikap berdiam diri tetapi terus membangun relasi untuk mencapai titik visi yang kita harapkan. Kondisi ini akan bisa membangun kerjasama tim yang baik apabila kita berada dalam suatu kelompok. Complexity kita hadapi dengan clarity, mencari kejelasan titik hubung antara satu dengan yang lainnya.
Sesuatu yang tidak jelas (ambiguity) hadapi dengan sikap agility, sikap yang lincah, fleksibel, adaftif, bangun kemampuan bekerja sama dengan baik. Kembangkan diri kita untuk siap menerima perbedaan, budaya ide dengan menumbuhkan sikap yang kretif, lincah, gesit, dan adaptif.
Kemampuan kita untuk menghadapi VUCA dengan sikap yang vision, understanding, clarity dan agilty akan menguntungkan untuk mengelola diri kita (self-leadership).
Self-Leadership
Self-leadership merupakan kondisi kemampuan diri kita dalam mengatur atau mengendalikan emosi dengan menanamkan pikiran-pikiran yang positif.
Pada tahap ini, diri kita akan tertanam sebuah regulasi (SPO) bahwa bila menghadapi segala sesuatu yang tidak jelas, “kontrol emosi dan bangun pola pikir positifmu”, inilah sebuah self-regulation, akan membentuk kemampuan mengontrol.
Tahap selanjutnya adalah keinginan untuk melakukan sesuatu (self-motivation), sebagai respon yang dihasilkan dari pola pikir yang positif. Bentuknya bisa berbagai macam, perasaan empati, penilaian segala sesuatu hal secara bebas, membangun ide kreatif, dan melakukan tindakan eksekusi. Kondisi lainnya adalah kemampuan untuk memilih (choice), karena sesuatu yang komplek juga memerlukan pilihan kejelasan, “Hidup adalah pilihan”.
Afirmasi, review dan instropeksi bisa jadi akan memunculkan karakter, kekuatan dan kepribadian yang mumpuni (self-awareness). Inilah prospektif yang baik dalam diri kita, kemampuan untuk memahami diri sendiri, siapa saya, apa kekurangan dan kelebihan saya. Potensi yang penting dalam diri sendiri, kemampuan memahami diri sendiri, akan memunculkan kemampuan untuk bisa memahami orang lain, inilah modalitas untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang hebat.
Kesadaran diri (self-awareness) yang baik akan menumbuhkan karakter sesorang, kemampuan untuk memahami orang lain, kemampuan untuk merespon, jiwa yang tidak egois (responsibility).
ESQ Matrix
Apakah yang kita kejar, kita bangun dengan kerja keras, kita usahakan dengan membangun berbagai korelasi telah menjamin kesuksesan dan keahagiaan? Tentu jawabannya belum tentu tercapai kesuksesan dan kebahagiaan.
Dari Ary Ginanjar dalam ESQ Matrix dalam tujuh tahapan untuk menggapai puncak inilah sejatinya dalam kita menggapai kepastian akan kesuksesan dan kebahagiaan akan kehidupan. Pertanyaannya bagaimana cara kita menuju puncak?
Orang beranggapan bahwa manusia-manusia dengan IQ (intelligence quotient) yang tinggi akan menjamin kesuksesan. Tidak dipungkiri, tentunya manusia dengan IQ yang tinggi dianggap mempunyai kemampuan penalaran yang bagus, pola pikir yang luas, gagasan yang briliant, kemampuan merencanakan sesuatu yang baik. Kehidupan adalah sebuah tantangan bagi dirinya, dan tentunya dengan kemampuan dirinya, akan muncul anggapan sebuah kesuksesan pasti didapatkan. Kenyataan didunia ini kesuksesan tidak hanya ditopang dengan IQ yang tinggi, banyak manusia dengan IQ yang tinggi berakhir dalam kegagalan dan kondisi yang tidak menyenangkan. Sebuah data menunjukkan IQ yang tinggi hanya menopang sekitar 20% kesuksesan belum dalam tataran menggapai kebahagiaan.
Kemampuan untuk mengenali dan memotivasi diri, mengelola emosi dianggap mempunyai peranan yang dominan dalam menggapai sebuah kesuksesan, bisa jadi, tetapi adakah sebuah kepastian sukses dan kebahagiaan akan didapatkan secara bersamaan? Ternyata tidak. Padahal eksistensi diri telah didapatkan, relasi telah dibangun, empati telah dibentuk, proses tumbuh sudah berjalan, tetapi ada sebuah kondisi titik kosong yang tidak terisi, sehingga manakala kegagalan yang didapatkan, kehancuran akan mengikutinya, kesedihan akan menjadi teman sejati. Inilah tahapan Emotional Quotient (EQ).
Tahapan tertinggi adalah tahapan dimana seseorang telah memahami kefitrahan dirinya, bahwa semua berasal dari hal yang sama, kekosongan. Segala sesuatu itu ada dan tidaknya, tergantung yang mengisi, yang menciptakan, yaitu Tuhan. Tugas manusia hanya menjalankan peran, berkontribusi dalam setiap kehidupan. Merencanakan, mengusahakan dengan mengembangkan pola pikir, membangun relasi, berempati dan selalu tumbuh, merupakan tahapan yang dilaluinya dengan bahagia dengan sau titik berkeyakinan bahwa semua itu telah ditentukan oleh Allah, tiada daya dan upaya kita kecuali datangnya dari Allah.
Pada tahapan ini, manusia akan rileks menjalani kehidupan, fleksibel dalam menghadapi masalah, mudah berdamai dengan tolok ukur kegagalan, karena kita telah memahami akan makna dan tujuan kehidupan itu sendiri (mean and purphose). Inilah yang dikenal dengan kecerdasan jiwa atau spiritual quotient (QS).
Pertanyaan kita sekarang, mau apa? terus bagaimana?
Marilah selalu lakukan instropkesi diri kita dalam setiap kesempatan, disaat merasa hidup kita berhasil dan sukses, maupun disaat kegagalan sedang bersahabat dengan kita. Afirmasikan diri kita dengan selalu tanamkan sisi positif kehidupan dan kembalikan setiap masalah bahwa manusia itu hanya seorang pemain dalam kehidupan, berusaha keras dan bersyukur itulah langkah menggapai kesuksesan hidup dengan kebahagiaan yang hakiki.
“Kehebatan dan kebahagiaan paling hakiki adalah mengenali dan menjadi diri sendiri”
Penulis: Igun Winarno
Komentar(0)
Tinggalkan komentar