on 30 April 2024, 22:45
  • #igunwinarno #akreditasi #SKP #komunikasiefektif

Oleh : dr. Igun Winarno, SpAn-TI, FISQUA

Surveior LARSDHP/DIklat RSUD Ajibarang

Rumah sakit itu sebuah wahana yang sangat kompleks, hampir semua profesi ada di dalamnya. Dokter, ahli hukum, ahli bangunan, ahli sanitasi, keperawatan, bidan, kebersihan, pasien dengan berbagai sumber background, tukang parkir dan hampir semua kadang bisa ditemukan.

Satu hal terpenting, rumah sakit adalah wahana utama orang, berburu bantuan tentang kesehatannya. Walau tidak menutup kemungkinan adanya wahana-wahana yang lain, diantaranya wahana pendidikan, penelitian dan edukasi.

Kompleksitas inilah yang harus dikelola dengan baik, terutama dari sisi tata cara berkomunikasi. Bagaimana rumah sakit bisa membangun komunikasi yang baik, efektif, komunikasi yang suportif, komunikasi yang membuat orang yang mendengar merasakan “happy”.

Cukup itu saja, tentunya tidak juga, tetapi komunikasi itu harus terjalin dengan tidak menimbulkan misprespsi. Pencegahan mispersepsi ini tentunya sangatlah penting, terutama tertkait dengan masing-masing profesional pemberi asuhan (PPA) dalam berinteraksi terkait dengan pasien. Tujuan disini tentunya untuk keselamatan pasien.

Mispersepsi, terjadinya kesalahan pendengaran akan menimbulkan kondisi lain yang dikehendaki, seingga akan membahayakan obyek, dalam hal ini pasien.

Komunikasi di rumah sakit sendiri bisa dilakukan berbentuk verbal, elektronik, atau tertulis.

Komunikasi yang buruk dapat membahayakan pasien, rentan terjadi kesalahan, misalnya terkait perintah lisan atau perintah melalui telepon. Komunikasi verbal, saat menyampaikan hasil pemeriksaan kritis yang harus disampaikan lewat telepon atau instruksi pengobatan. Bila dilakukan dengan buruk bisa mengakibatkan mispersepsi atau salah makna, sehingga asessment yang dilakukan tidak tepat dan rekomendasi yang diberikan juga tidak tepat.

Faktor pemicu komunikasi yang buruk, bisa disebabkan karena faktor pendengar, pemberi pesan, bisa juga isi pesan yang mengandung kemiripan (look alike, sound alike).

Perlu diingat bahwa meningkatkan peran komunikasi yang efektif merupakan sasaran yang kedua dari 6 (enam) Sasaran Keselamatan Pasien (SKP). Kontekstual ini menunjukkan komunikasi yang efektif sangatlah diperlukan di rumah sakit.

Komunikasi dikatakan efektif bila berhasil mencapai tujuan yang diharapkan, seperti diterima, dipahami, mengubah persepsi, dan mengubah perilaku atau melakukan aksi sesuai tujuan.

Tahapan Komunikasi

Kata tak kenal tak sayang, memang sangatlah penting untuk membangun komunikasi yang efektif, inilah bebrapa tahap komunikasi dengan pasien;

  1. Dahului dengan ucapan salam dan apresiasi terhadap lawan bicara dalam hal ini pasien, apresiasi bisa bentuk apa saja, doa atau hanya sekedar cerita
  2. Jangan lupa perkenalkan diri, tanyakan identitas lawan bicara, lihatlah gelang pasien, sehingga informasi yang direncakankan tidak akan mengalami salah sasaran.
  3. Kontak semacam ini bisa dilanjutkan dengan berjabat tangan untuk lebih mendekatkan diri dengan pasien, makanya jangan lupa cuci tangan sebelum kontak dengan pasien.
  4. Setelah pengkondisian dilakukan dengan baik, segeralah lakukan komunikasi terkait dengan keluhan pasien, pemeriksaan dan edukasi yang diberikan.
  5. Jangan lupa setelah selesai, melakukan review sederhana terhadap komunikasi yang telah dilakukan, ini untuk membangun psikososial pasien, merasa diperhatikan dan menumbuhkan spirit kesembuhan atau untuk menilai apakah sampai dan diterima informasi yang sudah kita berikan.
  6. Komunikasi lanjutan dari profesional pemberi asuhan (PPA) tentunya merangkum menjadi sebuah asesmen dan perencanaan yang akan tertulis didalam rekam medis. (Bnetuk komunikasi tertulis).

SBAR

Secara umum langkah ini, bisa diperhatikan dengan metode SBAR (Situtation, Background, Assesment, dan recommendation).

Berikut penjelasan mengenai startegi SBAR:

•    S: Situation, PPA menjelaskan menjelaskan situasi terkini yang terjadi pada pasien. Jadi dalam progres perkembangan pasien, kondisi disaat inilah yang menjadi prioritas.

•    B: Background; Yakni informasi penting apa yang berhubungan dengan kondisi dan latar belakang pasien terkini. Tentunya, ada saat ini ada saat sebelumnya, inilah kondisi yang terkait dengan apa yang ditemukan disaat ini.

•    A: Assessment; Yakni hasil pengkajian kondisi pasien terkini/ terakhir. Semua yang didapatkan dilakukan pengkajian secara mendalam, atau yang menjadi prioritas disaat informasi ini disampaikan.

•    R: Recommendation; Yakni rekomendasi yang diberikan terkait dengan temuan disaat ini dan hasil asesment secara keseluruhan. Rekomendasi inilah sebagai dasar untuk melakukan tindakan, apa yang harus dikerjakan terhadap pasien.

Sistem informasi komunikasi efektif semacam SBAR ini bisa dilakukan juga pada komunikasi pelaporan angka kritis, pelaporan kondisi emergency, pelaporan perencanaan operasi dan lainnya.

CABAK

Komunikasi efektif antar PPA bisa berbeda dilakukannya, terutama yang terkait dengan komunikasi dengan bertelepon. Secara umum komunikasi secara verbal ini sering menimbulkan kesalahan. Untuk mereduksi kesalahan, bisa dilakukan dengan sistem CABAK (Catat, Baca dan Konfirmasi).

Ca-catat; disaat menerima pesan yang diberikan, kita langsung lakukan pencatatan pada tempat yang seharusnya catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT).

Ba-Baca; yang kita tuliskan ditempat seharusnya, langsung bacakan kepada pemberi pesan

K-Konfirmas; segera meminta korfirmasi, benar atau salah yang telah kita bacakan, demikian juga pemberi pesan harus secepatnya melegitimasi pesan yang disampaikan dengan memberikan tanda tangan di dalam CPPT

Inilah sebuah komunikas yang efektif yang bisa dilakukan didalam rumah sakit. Semua tergantung kesadaran dari masing-masing PPA untuk menjalankannya. Sebagai titik fokus kita adalah keselamatan dan kepuasan pasien.

“Sebuah budaya keselamatan pasien hanya akan terbentuk jika semuanya menyadari dan terus dilakukan secara berulang dan terus berulang” – Igun

Malam 30 April 2024

Igun Winarno

 

 

 

 

 

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar