TERNYATA DIA SAUDARAKU
Lain lagi seorang Niara, seorang gadis yang ditinggal keluarganya, Bapak dan Mamahnya meninggal karena keganasan covid 19, mamahnya meninggal di rung IGD karena keterbatasan tempat ICU sehingga tidak bisa mendapatkan pelayanan yang optimal, disusul kemudian dengan Bapaknya yang meninggal bebarapa hari kemudian di ruang ICU, sedih, pilu, jelas pasti terjadi, apalagi saat dirinya dan adiknya juga terpapar covid, ketidak pastian karena sendiri, dia hanya bisa mengharapakan masyarakat untuk menjaga prokes dengan baik, taat, tetap tenang, makan yang cukup, karena pandemi ini belum berakhir, jangan sampai merasakan kehilangan seperti yang dia rasakan.
Dokter Akbar bercerita tragis juga, sebagai dokter jaga di ICU, malam itu adalah jadwal berjaga di ruang ICU, terasa seperti jaga jaga sebelumnya di masa pandemi yang selalu diwarnai kekhawatiran apa yang akan dilakukan malam itu dan apa yang bisa saya lakukan untuk pasien malam itu. Sepanjang perjalanan berangkat menuju RS, hanya berdoa semoga apa yang saya lakukan malam nanti diberikan kelancaran dan membuat pasien menjadi lebih baik. Malam itu semakin terasa mencekam ketika mendapat laporan salah satu pasien covid di icu mengalami penurunan saturasi dan hasil pemeriksaan memang indikasi untuk dilakukan intubasi. Sembari menyiapkan alat, bibir ini tak henti bergumam, memanjatkan doa, "mudahkanlah, lancarkanlah, semoga ikhtiar yang akan dilakukan dapat membantu pasien untuk kesembuhannya", kuawatir sudah pasti, karena intubasi merupakan tindakan yang sangat beresiko untuk penularan, disatu sisi pasien dengan covid yang sampai dilakukan intubasi minim sekali untuk bisa survive. Saat masuk ke ruang isolasi pasien masih bisa menjawab salam, saya minta untuk berdoa, singkat cerita proses intubasi berjalan lancar, saturasi kembali naik, tetapi tidak beberapa lama pasien mengalami henti jantung dan terus dilakukan tindakan RJP, sungguh tindakan yang berat untuk tenaga kesehatan, resiko penularan sangatlah besar. Hingga beberapa kali dilakukan pasien tidak tertolong. Saat itu untuk kesekian kalinya, saya mengalami pergolakan batin, "apakah sudah benar yang saya lakukan?", tapi ya memang hasil bukan kita yang menentukan, tidak berhenti sampai disana, keluarga pasien tidak bisa dihubungi, berkali kali dihubungi tetap tidak bisa, sampai pagi hari, saat hendak sholat subuh, terdapat notifikasi di salah satu grup wa keluarga besar, ternyata ada kerabat jauh yang meninggal, saya lihat namanya, waktu dan tempat meninggalnya, ternyata sama dengan pasien saya semalam. Saat itu saya langsung menelpon istri untuk memastikan kabar tersebut, dan ternyata ya benar, itu adalah pasien saya semalam, sungguh tragis covid dan kematian telah mempertemukan tali persaudaraan, orang yang selama ini selalu mendoakan anak saya ternyata yang saya tolong karena sakitnya, walaupun akhirnya meninggal. Pandemi ini telah mempertemukan tali persaudaraan.
Ternyata kisah pandemi ini bukan hanya saja disekitar tenaga kesehatan loh, salah seorang guru menceritakan kisahnya, mengenai lika-liku dimasa pandemi ini, keharusan penguasaan IT, dimana semua sistem pengajaran harus menggunakan online, kesabaran menghadapi komplainan orang tua akibat murid lebih banyak dirumah, tuduhan tidak mengajar tetap dibayar dan ketidak sesuaian harapan sistem pengajaran secara online, dimana murid yang malas mengerjakan tugas, alasan pulsa, masih saja tidak ada peningkatan, ini sebuah problem tersendiri, membutuhkan kesabaran tersendiri. Program kompetensi dasar yang harus dicapai pun dipilih, materi esensial saja, alhasil tujuan pembelajaran tidak berhasil maksimal. Belum lagi berbicara pendidikan karakter, sungguh diluar dugaan kami sebagai guru, sopan santun pun diabaikan oleh anak didik. Kami hanya menangis dalam hati, tanpa kulihatkan pada anak didik, kami harus sabar untuk, membangun karakter anak dari dasar. Ini yang terpikir untuk saat ini, mungkin jangan membicarakan mutu siswa kami, tapi karakter siswa kami. Karakter siswa kami yang menjadi prioritas kami, walau kita tetap ingin mencerdaskan anak didik kami dengan target Kompetensi Dasar, mata pelajaran harus tercapai, karena tuntutan kurikulum. Ternyata kendala pendidikan dimasa pandemi sangatlah besar, hidup adalah pilihan, ternyata karakter memang memegang peranan yang cukup besar.
Karyawan swasta juga menyampaikan ceritanya, bahwa hal buruk bisa membawa banyak hikmah dalam kehidupan, dengan pandemi ini aku tau, Alloh memberikan aku waktu lebih untuk bisa bersama anak-anak, bekerja dari rumah walaupun sama capenya tapi terbayar dengan waktu yang dihabiskan dengan anak-anak, pandemi membawa pesan bahwa apa yang kita lakukan sangat berdampak terhadap sesama, kesadaran diri terhadap kesehatan diri sendiri dan orang di sekitar kita, pandemi membawa hikmah bahwa Alloh bisa saja mengambil apapun yang kita punya dalam sekejap. ada yang kehilangan orang terkasih, kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan-kesempatan lain dalam hidup agar kita tau tak ada yang abadi di dunia ini. Pandemi membawa pesan bahwa bumi ini butuh istirahat dari kepulan asap kendaraan, kebisingan dan keramaian, pandemi membawa misi bahwa kesehatan adahal salah satu hal terbesar yang perlu kita syukuri .
Ini kisah yang cukup menghiasi kehidupan remaja, adalah Indi seorang pelajar SMA yang sedang mempersiapkan waktu perpisahannya, mereka sudah membayangkan acara perpisahan disekolahnya, disaat itu saling tertawa, bercanda untuk melepas diri mereka menuju masa depan masing-masing, lagu HIVI tentang judul Remaja sudah mereka hafalkan dan berlatih bersama untuk acara perpisahan, baju baru yang rencana akan dipakai sudah dipesan belanja online. Tiba-tiba sore itu mendapatkan sebuah pengumuman mengenai kelas diliburkan selama dua minggu, semua bertanya-tanya, ada apa ini, mengapa seperti ini, jalan-jalan tiba-tiba ditutup dipasangi police line, masih juga berpikir ada apa, kok bagaikan adegan disebuah film mengenai penutupan suatu kota karena adanya wabah yang mematikan. Tapi sifat remaja, merekapun senang-senang saja berlibur dua minggu, dua minggu kemudian harapan mereka akan kembali seperti biasa, tetapi kembali ada sebuah pengumuman mengenai perpanjangan waktu liburan dan harus mulai belajar di rumah secara online, barulah mereka tersadar, ini sebuah pandemi, ternayata hari itu hari terakhir mereka bertemu, acara perpisahan yang telah direncanakan tidak sempat mereka nikmati, semua sudah kembali dengan kesibukannya masing-masing dari mulai ujian akhir, uajian masuk perguruan tinggi sampai semester tigapun mereka tidak jadi ketemuan, memang Tuhan maha berkehendak, semua yang telah direncanakan akan sirna kalau Tuhan berkehendak lain.
Pandemi ini juga sangat terasa bagi Dika, pandemi yang berlangsung lama ini sungguh telah menimbulkan masalah baginya, salah satunya di bidang kesehatan & pendidikan. Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah proses pendidikan di bidang kedokteran, khususnya mahasiswa kedokteran yang sudah berada di tingkat profesi, pelayanan berbasis pendidikan, pencapaian standar kompetensi (keterampilan/skill) tidak dapat terpenuhi dengan metode pembelajaran daring. Juga terkait dengan prolonged study, pemanjangan masa studi akibat pandemi juga cukup membuat para koas stres dikarenakan tetap harus membayar UKT. Belum lagi stressnya bila mengalami tracing, hidung bolak-balik kena culek. Berharap saja pandemi ini segera berakhir.
“Aku juga loh kena beberapa kali colok” Bowo menyampaikan kondisi yang sama, “Dasar dung-dung, kita khan sekelompok co ass, kalau hidung kalian dicolok tracing, mestinya kita semua juga kena colok juga khan,” Phylia emosi melihat Bowo, karena saat memperagaan colok, dia memperagakan jari tangannya masuk kedalam hidungnya, semua diam. “hahahahahahahahah….” Akhirnya tertawa bersama. (Senin, 17/11/2021. 14.50)
Kumpulan cerita pandemi membawa pesan ini, merupakan kumpulan cerita yeng teredit dari RADAR JUANG, suatu waktu semoga akan menjadi cerita buku tersendiri, dimana banyak kisah tentang kehilangan dan mengerti akan kebesaran Tuhan. (by goens GN)
Komentar(0)
Tinggalkan komentar