IBU DAN KANDUNGANNYA PUN PERGI
Semua berburu cerita sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya, Wawan menceritakan kisahnya saat bertemu dengan kepala ruang IGD, Esti namanya, dia bercerita bahwa pandemi covid 19 sungguh menyita perhatian semua pihak, termasuk bagi nya yang memberikan pelayanan di IGD, Esti mengatakan bahwa secara jujur merasa khawatir terpapar covid 19, apalagi punya keluarga, orang tua, dan saudara di rumah. Infromasi banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar dan meninggal menambah rasa kecemasan dan ketakuan kami, tetapi itulah tugas yang harus tetap jalan, bagaimana masyarakat kalau nakes semua berhenti sesuai keinginannya sendiri, tidak bisa dibayangkan. Kami selalu berusaha strong dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kenangan terberat disaat bulan Juni 2021 dimana ledakan yang luar biasa kasus covid terjadi, pasien begitu banyaknya menanti ruang rawat inap karena sudah penuh, IGD menumpuk tidak bisa masuk, tenda dibuat, keamanan sangat minim, begitu kroditnya IGD saat itu. Sementara kami juga harus tetap melayani pasien non covid. Cuman pasien covid ? Tidak ! Kesabaran ekstra sangat diperlukan untuk menghadapi keluarga pasien, karena banyak juga keluarga yang “rewel”. Kami menyadari bahwa ke”rewelannya” pasti beralasaan mungkin karena cemas, kurang paham tentang penyakitnya, kenapa belum pindah ke ruang rawat inap dan masih banyak hal-hal yang kadang tidak tersentuh oleh kita. Belum lagi menghadapi krisis minimnya oksigen dimana-mana, sementara kami harus tetap memberikan pelayanan sesuai standar.
Paling tragis terjadi saat keluarga pasien yang meninggal tidak terima kalau pasiennya harus dimakamkan dengan protocol covid, harus menunggu hasil PCR untuk meyakinkan proses pemakaman sehingga kita harus melibatkan pihak lain untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak terelakan keributanpun terjadi, statemen di “covidkan” kadang membuat lara, tetapi ya biarlah yang penting kami tetap bekerja. Kondisi seperti ini dengan segala tekanan, fisik dan psikis mungkin salah satu yang membuat imun kami menurun, hingga akhirnya saya pun terapapr juga, tumbang, harus isolasi mandiri.
Memang pandemi ini banyak membawa cerita, misalnya dokter Anggun yang mendadak harus dikirim ke rumah sakit darurat covid, babat alas ceritanya jaga pertama kali RSDC dibuka, saat itu semua tidak ada yang mau berangkat, semua tahu dengan keterbatsan fasilitasnya, boleh dikata sungguh minimalis dibandingkan dengan jumlah pasein yang ada, yang cukup membuat perasaan was-was dan cemas, pulang dari sana tubuh nya bergejala, hasil tes PCR keluar menunjukkan psotif, sempat desaturasi sampai 92%, hatinya semakin galau mengingat saat itu rumah sakit penuh, kekosongan oksigen dimana-mana , terpaksa harus menjalani isoman dengan perasaan was-was, posisi prone dan berbagai cara dilakukan hanya sekedar untuk bisa bertahan hidup, memang pandemi ini membtuhkan kesabran dan kerja sama dari semua orang, disinilah keaslian sifat manusia muncul akan kemanusiaan atau lenyap hanya ego yang terdepan.
Banyak sekali cerita yang mengiringi pandemi ini, Tanti seorang medical representatif menceritakan mengenai beratnya sisi ekonomi yang harus ditanggung, suaminya dengan segala planing di bidang entertain, kandas, semua dibatalkan, harus beralih berjualan apapun dilakukan untuk menyambung hidup, dan lebih berat disaat dia sendiri terkena, memikirkan suami, anak dan keluarga. Pandemi telah membuka mata hati, betapa kita harus selalu melihat kebawah, banyak sekali orang yang lebih menderita lebih tidak beruntung dari, bersujud dan bersyukur untuk kehidupan saat ini.
Robby seorang karyawan swasta lain-lagi bercerita, prokes ketat sudah dijalani, malah kecenderungan terlalu protek, akibat pengaruh ganasnya berita di medsos, vaksin pun sudah dilakukan tetapi faktor lelah perjalanan luar kota, diapun mengalami gejala mulai terasa sperti flu dan batuk parah lalu demam, saat di lakukan test PCR ternyata POSITIVE, istri juga akhirnya terkenan, tiga minggu perjuangan dalam kondisi positif, informasi silih bergantian rekan yang terpapar dan meninggal membuat semakin cemas memikirkan sikecil yang berada di rumah kakeknya. Pesan yang ingin saya sampaikan kepada semuanya, adalah selalu jaga tubuh ini agar selalu fit dan bugar, istirahat yang cukup dan jangan begadang.
Seorang perawat IGD yang terpapar ikut menyampaikan kisahnya, pertama diawali dengan kekhawatiran dirinya yang obesitas, melihat masyarakan yang menyepelekan dan tidak taat prokes kadang membuat dirinya sedih, jengkel. Mengapa tidak menurut saja, barang mudah hanya sekedarcuci tangan, mengenakan masker, menghindari kumpul-kumpul, tetapi ya sudahlah, dengan galau dia menceritakan. Hingga akhirnya diapun terpapar dan mengalami kondisi yang cukup berat, merasakan antara zona mati dan hidup, dirawat diruang ICU, perasaan down diawal-awal jelas terjadi, cemas, takut, sampai berpikiran kalau saya mati bagaimana, ibadah saya masih bolong-bolong, bagaimana mempertanggungjawabkannya, saya belum siap untuk mati, kecemasan saya berlipatganda tatkala melihat pasien disekitar saya silih berganti karena meninggal, saya berpikir kapan giliran saya, hingga suatu waktu saya mendengar dokter mengatakan saya ada kemungkinan harus dipasang ventilator, ini salah satu motivasi saya, menggunakan ventilator ada kemungkinan saya benar-benar diantar menuju kematian, karena ini berarti kondisi saya sudah benar-benar berat, semangat saya tumbuh berlipat ganda, membaik sedikit saya usahakan happy-hapy saja, makan banyak, walau masih melihat pasien silih berganti keluar dengan peti mati, sudah tidak berpengaruh dengan terhadap saya, dukungan teman-teman di ICU sangat membantu prsoses kesembuhan saya, bersyukur masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, inilah momen pandemi untuk bisa terus melakukan onstropeksi diri.
Ini cerita seorang dokter jaga di IGD, bahwa satu hal yang tidak pernah terbayangkan, pandemi kata yang hanya pernah didengar ketika masih belajar benar benar terjadi, saya yang hanya dokter umum, yang baru mulai bekerja, baru lulus 3 bulan tiba tiba pandemi covid datang, dan sampai di rumah sakit tempat aku sering bekerja. Kekhawatiran, kecemasan, rasa takut, rasa galau, capek, tidak bisa istirahat inilah kondisi yang selalui menghantui diri kami. Bulan demi bulan dilewati sambil terus bekerja berdoa yamg terbaik agar supaya diri sendiri tidak tertular apalagi keluarga dirumah. Hingga pandemi sampai disuatu titik yang seperti bencana setiap hari selalu saja kita menyakisan orang kembali kehadapan yang Maha Kuasa tidak hanya satu tapi lebih dari itu setiap hari kita harus menjelaskan kepada keluarga dengan perasaan yang ikut bergetar hati yang sedih pikiran yang kalut dan pikiran yang selalu menyertai bisa saja ini juga terjadi pada keluargaku...kondisi yang begitu berat, kompleks menjadi satu bertumpuk. Hari berlalu hingga saat saya berjaga ada seorang ibu sedang mengandung sang buah hati, anak pertama anak yang diharapkan, tiba tiba harus berjuang bersama melawan pandemi dan harus dirawat diruang icu dan harus berjuang bersama sang ibu 1 hari 2 hari sampai beberapa hari kemudian Allah lebih menyayangi ibu dan bayi itu untuk kembali bersama di pangkuan sang pencipta. Ini yang selalu terbayang dalam diriku. Masih teringat sampai sekarang bagaimana raut wajah suami sekaligus ayah dari ibu dan anak itu, doa yang terbaik agar selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalani hari hari yang akan bergulir dalam dunia yang hanya sementara ini, inilah pandemi membawa ingatan untuk saling berbagi kasih, mempatkan kesabaran pada posisi yang tinggi. (by goens GN)
Komentar(0)
Tinggalkan komentar