GILIRINANKU PUN TIBA
Phylia menyampaikan cerita dari seorang Yuni, perawat yang bertugas di ruang ICU. Menurut Yuni, pandemi ini tidak terbayangkan sebelumnya, dengan segala rasa takut, cemas, khawatir, stress dan segala pikiran buruk, yang pada akhirnya berujung pada penerimaan apa yang terjadi pada dirinya. Memiliki orang tua dengan komorbid dengan tempat tinggal berjauhan membuatku berada di persimpangan. Di satu sisi Yuni takut akan menjadi carrier virus, mengingat pekerjaannya sebagai perawat, namun di sisi lain ada rasa rindu dan ingin berada di dekat mereka. Waktu itu Yuni memutuskan untuk meredam egonya dan berkomitmen untuk tidak berkunjung demi menjaga mereka agar tidak terpapar covid. Ibu yang memiliki hipertensi dan riwayat penyakit jantung, bapak dengan Ca tonsil dan saat itu sedang menjalani kemoterapi menjadi alasan kuat untuk meminimalkan pertemuan. “Ramadhan tidak pulang seperti kebiasaanku, menjelang lebaranpun aku sudah berpamitan pada bapak dan ibu untuk tidak pulang, larangan mudik dan resiko menjadi carrier covid 19, sebagai alasan, dimalam takbiran aku menangis, rindu yang teramat sangat, dengan segala kenangan sebelumnya tak kuat menahanku, pagi setelah sholat ied segala kenangan kembali muncul, semua hampa, tanpa bia sungkem kedua orangtuaku, dengan air mata ini aku memohon suamiku menghantarkaku pulang, salah memang. Setahun berjalan pendemi ini belum berakhir, Aku kembali menangis seperti dulu, menangis bukan karena pandemi belum juga berakhir, namun karena aku bersyukur dengan kenekatanku pulang waktu itu. Ya, karena lebaran tahun ini, tidak bisa lagi sungkem dan mamandangnya lagi, Bapak telah pergi, entah penyesalan macam apa yang akan kurasakan jika waktu itu aku tidak nekat pulang. Ledakkan kasus covid akhirnya benar-benar terjadi, ICU selalu dalam kondisi penuh, melihat kematian demi kematian di depan mata datang silih berganti, membuat hati ini menangis. Sesaat melihat pasienku mengalami perbaikan dan sesaat kemudian harus mendampinginya melalui sakaratul maut...aaargh, betapa kematian ini begitu dekat. Berusaha memberikan yang terbaik, meski dengan segala keterbatasan yang ada kadang membuat batin ini berteriak. Pernah suatu pagi, kami kehabisan oksigen sementara ada 4 pasien on NIV dengan alat bantu nafas dan lainnya on NRM dengan volume yang besar. “Yun, segera masuk, dampingi pasien-pasien kita, lepas sungkup yang terpasang sampai stok datang, oksigen fokuskan untuk pasien dengan prognosis bagus”. Begitu perintah kepala ICU pagi itu, dengan segala rasa yang berkecamuk kupakai hasmat dan APD lengkap. “Saya sudah mau meninggal ya mba? Kok oksigen saya dilepas?” Tanya pasienku, aku menagis saat itu, seandainya dia aku ? Hanya kata semangat yang bisa kuucap dan mengajaknya berdoa semoga Allah memberikan pertolongan. Akhirnya terjadilah saat itu, pasien yang tadinya Allert perlahan tapi pasti berangsur menurun, desaturasi penurunan saturasi, ya sepertinya malaikat maut sudah menyapanya, sedih, saat tidak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya, hanya terus membisikkan nama Allah di telinganya di antara air mata yang mulai mengalir di pipi membasahi baju hazmat yang terasa pengap, berharap kematiannya berpahala syahid dan ia akan tenang di pangkuan-Nya.
Satu-persatu anggota ICU terpapar silih berganti, hanya seolah kapan menunggu giliran, cemas, takut itu pasti, efek lelah dan kegalauan ini berimbas kepada sistem imunku, akupun mendapatkan giliran juga, PCR positof, rumah sakit penuh, marah dan kecewa sempat menghampiri, aku sudah berusaha menjalankan Prokes dengan ketat, tapi kenapa masih terpapar? Entahlah saat itu aku yakin aku tidak terpapar dari pasien di RS karena aku termasuk ketat dalam penggunaan APD. Tapi darimana? Aku nyaris tidak pergi kemanapun selain ke RS selama serangan gelombang kedua ini, aku juga merasa sudah berusaha sebaik mungkin menjaga tubuhku, hingga aku tahu bahwa ada kerabatku yang mengalami anosmia, tapi tidak memeriksakan diri bahkan cenderung cuek dan menganggap sepele. Ingin marah rasanya, tapi untuk apa? Hanya mencoba ikhlas dan mengambil hikmahnya, yah minimal aku bisa beristirahat sejenak dari panasnya hasmat dan pandangan berkabut di balik Google pelindung wajah, 3 minggu aku dalam kondisi positf, cukup lama, walau kadang membuat stres memikirkan teman-temanku yang sedang berkja keras, inilah hikmah paling tidak aku bisa bersama anak-anak selama hampir 3 minggu meskipun tetap tidak bisa memeluk mereka karena mereka tidak terbukti positif. Kejadian ini memberikan hikmah bagiku untuk bisa menghargai waktu, setiap tarikan nafas itu adalah rahmat yang Allah berikan, banyak yang berjuang dengan keras hanya karena tarikan nafas begitu berat, menyadari dan mensyukuri betapa nikmat Allah begitu besar selama ini dan kita telah melalaikannya. Tidak kalah penting dan berharganya kebersamaan bersama dengan orang-orang tercinta, karena kita tidak pernah tahu sampai kapan masih akan bersama. Dan betapa kita kecil di hadapan-Nya, lalu apa yang akan kita sombongkan?
by goens GN
Komentar(0)
Tinggalkan komentar