KEJADIAN YANG BERUNTUN
Pencarian mereka terus berkembang, mereka malah semakin asyik mencari mendengarkan berbagai kisah terkait pandemi, Bowo menceritakan saat mendapatkan kisah ini dari salah seorang perawat rumah sakit juga, saat pandemi kehilangan Ibu dan Kakaknya. Dian namanya. Dian bekerja sebagai seorang perawat di bagian anak, menceritakan saat itu masih jelas terbayang di hari Senin, masih memakai baju seragam perawat putih-putih, mendapatkan kabar Ibunya sakit, “Aduh Ibu punya comorbid penyakit jantung, kencing manis, bagaimana ini kalau ternyata positif” demikian yang terngiang didalam isi otaknya. Pulang kerumah mendapati Ibunya dalam kondisi lemah, setelah semalaman mengalami diare, disuruh makan dan minum tidak mau, apalagi disuruh ke rumah sakit juga tidak mau, mungkin trauma pernah dirawat di ICU sebanyak 3 kali, kebetulan keluarga dia banyak yang menjadi seorang perawat dan ibunya di rawat di rumah. Pada saat yang sama keluarga kakaknya disebelah rumah ibu, mengalami gejala batuk, pilek, panas, dihati mereka bertanya-tanya, apakah ini gejala corona ? Ada keraguan, menerima kedaan kemungkinan corona, harus isolasi mandiri, perasaan berontak masa iya kena corona. Kondisi Ibunya makin memburuk, lemah dan sesak, demikian juga kakaknya batuk makin hebat dan mulai merasakan sesak nafas. Setalah dua hari merawat ibunya, Dian juga merasakan hal yang sama, panas, batuk, demam, dan lemas. Kondisinya semakin ngedrop dikala mendapatkan kabar anak dan suaminya juga mengalami hal yang sama. Ini ujian Allah yang dirasa berat olehnya. Sesuai petunjuk yang harus dikerjakan, seluruh keluarganya dilakukan tes PCR dan memang benar saja semuanya positif, kami semua merasakan berat, ditambah dengan mendengar saat itu banyaknya orang yang tidak kuat bertahan lama dengan corona. Perjalanan waktu terus bertambah, kondisi ibunya semakin menurun tetapi masih belum mau dibawa ke rumah sakit, demikian juga kondisi Dian makin bertambah buruk, makan tidak enak dan semakin lemah disertai dengan batuk kering yang hebat, tidak mau berhenti-henti sampai mengeluarkan darah.
Waktu terus berjalan, kakaknya sudah dibawa ke rumah sakit, dengan kondisi lemah, batuk hebat disertai dengan sesak nafas yang semakin berat. Dirumah Ibuku dirawat oleh keponakannku, disaat dia merasakan sesak yang hebat, dia berbagi oksigen dengan Ibunya, sampai suatu kondisi Ibunya semakin tidak kuat dan akhirnya dipaksa dibawa ke rumah sakit, digendong oleh keponakannya menuju kendaraan dibawa ke rumah sakit, dia hanya bisa memandangi dengan lemah dan tidak terasa mengalir deras air mata sebagai tanda kesedihan yang sedang dialaminya.
Esok harinya Dian semakin tidak kuat, semakin memberat yang dia rasakan, mendapat kabar rumah sakit tempat dia bekerja penuh, antrian di IGD begitu panjang, banyak pasien sejak semalam hanya diselasar IGD, kondisi yang tidak sebanding antara kebutuhan dan ketersediaan, untung saja Ibu dan Kakanya sudah bisa masuk ruangan. Dian akhirnya dirujuk ke rumah sakit yang jauh dari rumahnya, dia masih memikirkan kondisi anak-anak dan suaminya, mungkin ini salah satu yang membuat dirinya semakin ngedrop, dua hari dalam perawatan, suaminya menyusul dirawat di rumah sakit didalam ruang isolasi yang sama, kondisi ini benar-benar sangat berat yang Dian rasakan, ditambah adanya sebuah kabar duka, kakaknya sudah tidak kuat dan menjadi salah satu korban yang meninggal dimasa pandemi corona.
Doa merupakan senjata yang dia miliki, terus dilakukan hanya memohon kepada Allah, pasrah. Roda waktu terus berputar, merasakan sendiri gejala dirinya kadang terbersit jangan-jangan akan menyusul kakaknya, makan, minum sungguh tidak bisa sama sekalai sedangkan dada sudah terasa semakin berat, saturasi kadang terlihat hanya berada di kisaran 75-85%, hanya kepasrahan kepada Allah disaat itu. “Ya Allah, kalau memang aku masih Engkau ridhoi hidup di dunia ini maka sembuhkan dan selamatkan nyawaku”, enam hari sudah dia berada di rumah sakit, rasa bosan sudah mulai menyerang, disaat inilah mendapatkan kabar Ibunya meninggal dunia di ICU, lemas sudah dirinya, pandemi ini begitu kejam, ini yang dia rasakan, dia menangis sedih tidak bisa menghantarkan Ibunya. Air mata tidak bisa terbendung, terus mengalir untuk memuntahkan rasa kesedihan yang mendalam, kehilangan berturut-turut orang yang disayanginya.
Penyesalan banyak menghantuinya, prokes-prokes, kadang terlewat meremehkan. “Hidup ini tidak tahu sampai kapan, jangan menunda-nunda untuk selalu membahagiakan orang-orang yang kalian sayangi, keluargamu dan khususnya orang tuamu mumpung selagi masih ada”, ini pesan Dian didalam pandemi, “Doa yang tulus selalu untuk Ibu dan Kakakku, Allah menjanjikan syurga untuk mereka, aamiin”
By goens GN
Komentar(0)
Tinggalkan komentar