BUKAN TIDAK IKHLAS TETAPI BUTUH WAKTU
Lain cerita Pipit yang disampaikan Dika, lain cerita yang dibawa oleh Sari, dia menceritakan mengenai Titin saudaranya yang kehilangan adiknya. Saat itu, Titin mengawali cerita dengan puitis bahwa seandainya waktu bisa berulang, menginginkan waktu itu berhenti di tahun 2019, dimana keluarga besarnya masih lengkap, tahun dimana bisa liburan bersama, tahun dimana sudah direncanakan untuk kembali berlibur bersama, tahun dimana sebuah wabah yang mengerikan menyerang bumi ini.
Covid-19 telah meluluhlantahkan segala persepsi mengenai kehidupan, meleburkan harapan, mendatangkan kesedihan dan merasakan artinya kehilangan. Sari pun sedikit terbawa emosi menceritakan yang dialami Titin, Titin kembali mengatakan bila dibolehkan rasanya ingin tahun 2020 tidak perlu ada sedangkan 2021 dicoret saja, inilah tahun yang penuh dengan derai tetesan air mata. Titin masih teringat dengan segala usaha keras yang telah dilakukannya, berperang di dunia medsos hanya sekedar ingin sahabat, teman dekat untuk menjaga prokes, termasuk keluarganya sendiri, sampai diantara keluarganya kalau lihat dia sudah dipastikan akan ngomongin prokes, tanpa kenal lelah mengingatkan keluarga untuk selalu menjaga diri, menghindari kumpul-kumpul, tetapi kuasa Tuhan siapa yang tahu hingga akhirnya disaat badai covid kedua dibulan Juli, menghantam keluarga nya. Sebagian besar keluarga positif covid, disaat yang sama harus kehilangan Mamah yang memang sudah mempunyai comorbid stroke dan kencing manis, ketergantungan kursi roda dan orang lain, Mamah memang sudah sakit tetapi yang terberat kehilangan adek bungsunya setelah dua minggu rasa sedih kehilangan Mamah belum sempat menghilang dari hati terdalam. Ini membuat jauh lebih drop secara psikis dan mental kehilangan dia dibandingkan kehilangan Mamah. Seorang adik yang keberadaannya selalu membuat ceria, ramai, menyayangi lainnya, akhirnya harus pergi selamanya karena pandemi ini. Ini benar-benar telah mengguncang dirinya, Titin merasakan kegagalan seorang anak, merasa gagal sebagai seorang kakak, gagal menjaga amanah Mamahnya sebelum meninggal. Jauh lebih sedih saat Papah yang sedang sakit juga secara tidak sadar dalam kondisi lemahnya mengatakan “Mengapa kamu tidak bisa menyelamatkan adikmu,” kebetulan saudara Sari ini seorang dokter, sedih sekali mendengarkan kalimat itu, “Aku telah gagal” selalu berdengung di hati dan otak Tititn. Semua kondisi itu telah benar-benar menyebabkan dirinya pada titik terendah, walau sudah mulai beranjak membaik, tetapi masih sering terngiangnya “Aku telah gagal menyelamatkan keluargaku”, sampai kini masih ada luka. Sering tanpa sadar air mata menetes disaat memanjatkan doa untuk mereka, masih tanpa sadar meneteskan air mata di saat sendirian, benar-benar merasakan mental block akan arti kehilangan dan ketidakberdayaan, takut bertemu orang yang di kenal, takut ditanya banyak hal. Kadang merasakan muak mendengarkan kata-kata, jangan sedih, kirimkan Al-fatehah saja, walau aku tahu mungkin itu ungkapan rasa sayang mereka, apalagi kadang jauh lebih menyebalkan menurutnya dikala ada yang bilang ikhlaskan saja, itu sudah menjadi takdir, “Kalian tidak mempunyai hak untuk menilai aku ikhlas atau tidak, itu hak Allah kepada umatnya mengetahui keikhlasan” itu yang muncul di hatinya kalau ada orang yang mengatakan ikhlas. Apakah mereka pikir bila aku menangis itu artinya aku tidak ikhlas dan tidak mendoakan almarhum ? Benar-benar membuat tambah jengkel, kalau tidak mengerti diam sajalah untuk membantu keterpurukkanku. Sebenarnya bukan tidak ikhlas, bukan..! Sebagai seorang muslim mengerti kalau kematian adalah sebuah takdir yang sudah ditentukan oleh Allah Sang Pencipta. Kondisiku cuman sedang sedikit menyesali ikhtiarku...ya IKHTIAR, perasaan yang muncul, masih merasa perjuangan yang harusnya Titin lakukan untuk adiknya masih kurang, ada satu usaha yang saat itu terhambat yang seharusnya dilakukan agar saat itu tidak kehilangan, tidak ada penyesalan seperti ini, bahkan menjelang kematiannya adiknya tidak ingin merepotkannya. “Aku tau kamu tetap akan pergi walau aku melakukan ikhtiar itu, tapi paling tidak aku bisa lebih keras lagi dalam berikhtiar.” Itu yang sering terngiang juga didalam pikiran Titin. Diapun menyadari sejatinya adiknya yang begitu baik tidak akan menyalahkannya, karena saat adiknya datang lewat mimpinya pun mengatakan “Jangan sedih Mbakku” dan melihat senyum adiknya sedang baik-baik saja, walau aku tahu hatinya belum bisa baik-baik saja, merasakan kengen dengan cubitanmu, coklatmu, masakan anehmu yang enak. Menurut dia pandemi yang lama ini belum membawa hikmah yang jelas, mungkin dengan pandemi ini dia menjadi semakin dekat dengan putri kesayangannya, dulu selalu sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri, tetapi pandemi ini selalu menyatukan dirinya tidak terpisahkan, mungkin ini hikmah yang terkandung, yang pasti adikku akan tersenyum melihat ini, karena diapun sangat menyanginya. Pandemi ini menurut dia, ternyata anak perempuannya lah yang telah menyelamatkan keterpurukannya, selalu ada disisinya disaat sedang sedih. Kini Titin dan anak perempuannya merasa begitu dekat dan lengket bagaikan lem Aica Aibon, entah siapa yang Aica dan siapa yang Aibon, sebuah akhir yang membawa hikmah. Satu kalimat yang keren darinya “Ikhtiar tanpa batas sampai takdir telah hadir dengan nyata”.
By goens GN
Komentar(0)
Tinggalkan komentar