EVERY CLOUD HAS A SILVER LINING
(Sebuah Kisah Wanita yang Tabah)
“Sar, pandemi ini telah banyak membawa perubahan yah” Phylia, tiba-tiba mengajak diskusi mengenai hal yang tidak biasanya, “Memang kenapa, kok kamu tidak biasanya mengucapkannya seperti itu,” Sari sedikit bingung, “Ya, tidak apa kan, karena banyak hikmat dari masa seperti ini, beruntung juga kita masih diberikan kesempatan untuk bisa sampai saat ini,” sedikit sedih yang terlihat di wajah Phylia. “Bersyukur sih, tetapi bagiku tetap ini sesuatu hal yang banyak aku kenang, kamu tahu khan, sesuatu yang telah pergi, tidak bisa kembali,” Sari menampakkan wajah sedih. “Hai kalian lagi ngapain, kok serius amat,” Dika bersama Bowo toba-tiba ikut nimbrung dengan mereka berdua.
“Iya nih Dika, lagi ngomongin mengenai pandemi yang belum usai ini”, Phylia masih dengan kegalauannya.
“Memang susah sih, kalau seperti ini, kalian tahu kan bedanya pandemi dengan endemi, pandemi ini menyeluruh, golobal antar negara, zaman seperti ini dengan kebebasan orang berbicara dan berbuat menurut asumsinya, satu hal mengenai dikeluarkan mengenai tata cara penyebaran, semua menghantap dengan pendapatnya, masyarakat dibuat pusing, apalagi kehidupan sekarang dengan tingkat mobilitas tinggi, pandemi ini akan sulit diprediksi kapan mau berakhir,” Dika menyampaikan pendapatnya.
“Ya termasuk dengan asumsimu khan Dika, ?”Bowo menggoda Dika. “Begitulah….”
“Kalau mengenai perubahannya bagaimana menurutmu Dika,” Phylia masih penasaran, mengenai efek yang ditimbulkan.
“Perubahan sudah jelas, pasti ada, orang yang bebal kalau tidak berkaca dengan kematian yang begitu mudah, dan menganggap pandemi ini biasa saja, teman, tetangga, saudara yang bebrapa hari yang lalu masih berkomunikasi atau bertemu bersendagurau, tiba-tiba mendapatkan kabar telah pergi karena pandemi, seperti di dalam sebuah pengajian di youtube, biasa kyai favoritku Gus Baha mengatakan, paling dekat dengan kita itu apa, keamatian, jadi kalau manusia menghadapi itu masih tetap biasa saja, jangan-jangan dia manusia yang bebal, sekali lagi jangan-jangan.” Dika tersenyum.
“Perubahan yang seharusnya terlihat apaan,” Phylia masih terus penasaran, “Minimalnya bagi orang-orang tertentu, rasa takwa itu akan meningkat, tetapi mari kita lihat lebih luas, ketakwaan seperti apa yang seharusnya dilakukan, kalau menurutku, takwa terkait ajaran untuk berikhtiar, jadi rajin mencuci tangan, senang menggunakan masker. Kondisi ini bukan karena perintah pemerintah tetapi karena tuumbuh dari dirinya berikhtiar yang didasari lillah.” Tersenyum Dika.
“Wow…keren banget Dika, memang orang itu harus bisa berbuat baik yah, berbuat baik yang pertama harus dilakukan yang berbuat yang terbaik untuk diri sendiri, yaitu dengan prokes pribadi yang baik, mestinya kalau kita sehat, beribadah dan mau apapun menjadi lebih enak yak, keren Dika,” Sari memuji Dika dan yang dipujipun memberikan senyuman menggoda, “Kalian ini loh, aku kok jelas makin curiga terhadap kalian yah” Phylia menaruh kecurigaan kepada mereka berdua. “Gini saja, coba untuk menjawab pertanyaan Phylia, gali dulu bagaimana kisah dan mungkin kesan yang bisa diberikan oleh orang-orang terhadap pandemi ini,” Dika memberikan usul, “Oke,,,tidak masalah,”Phylia senang sekali, “Ya aku ikutan juga lah….” Bowo walau malas mau ikutan juga, “Yes…aku ikutan juga,” Sari senang sekali bisa ngobrol dengan pasien lebih lama, lumayan bisa latihan komunikasi.
“Apaan ini….kok ikutan semua…?” Wawan penasaran,
“Dah ikutan saja….” Bowo,
“Memang kalau kamu mau tiduran di lab anatomi, aku harus ikutan juga…ogah…” Wawan, tumben bisa bergurau, setelah dijelasin Phylia diapun yes.
Dika diwaktu sore itu berjalan menuju ruang Cendrawasih untuk memeriksa pasien-pasien yang akan dilakukan operasi di hari besok, lumayan ada lima pasien, karena sudah biasa semua telah diperiksanya dengan lengkap, kini dia sedang membolak-bali rekam medis pasien, terlintas kemudian obrolan tadi dengan kelompok co ass nya mengenai tema pandemi membawa pesan, tiba-tiba bengong memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya.
“Mas Co….mau periksa rekam medis, atau mau bengong, jangan-jangan mikirin ceweknya ya…” Pipit perawat di Cendrawasih mengagetkan Dika yang berada di depannya.
“Tidak lah Bu…., pacar saja masih ngambang… masa mikirin dia” katanya mencoba menghindar. “Ngapain melamun, pantang loh disini melamun, nanti ada setan masuk…bahaya, melamunmu bisa berlanjut menjadi ketawa…saya saja sekarang berusaha ketawa terus, berusaha ceria…kaya slogan kita,” katanya tersenyum memandangi co ass didepannya,
“Maaf Bu, mengapa kata ketawa dan cerianya….seperti sesuatu hal yang begitu berat harus dilakukan ?” tersenyum, “Kamu ingin tahu banget, atau tahu saja…..heheheh”. berusaha bercanda, “dua-duanya lah….” Mulai rileks. “Kamu baru sih yah…di rumah sakit ini…..jadi tidak tahu kisah mengenai Pipit” mendengar ini Dika bingung, tentang apaan yah. Pipit perawat Cendrawasih pun bercerita mengenai arti sebuah kehilangan, ditinggal orang yang disayang, yang menjadi harapan masa depan, Dia mengatakan bahwa menjadi tenaga kesehatan dimasa pandemi seperti mempunyai peran ganda saat bertugas. Selain berjibaku melakukan tindakan medis yang harus dilakukan untuk menolong pasien-pasien tetapi disisi yang lain harus menjadi saksi mata dari berbagai kisah-kisah pilu para pasien yang mengalami kehilangan. Saat itu kewaspadaan dan kehawatiran menjadi mengganggu dirinya, hingga hal yang ditakutkannya benar-benar datang dan terjadi. Kondisi yang berat, berdampak besar ketika rasa kehilangan sesorang sosok yang menjadi harapan hidup baginya, ya suaminya, belum lama menikah sudah ditinggal pergi. Suami yang sangat dikasihinyam menjadi salah satu korban dari ganasnya virus covid 19. Dia menceritakan kondisi suami yang dirawat di ruang ICU, proses masuk untuk mendapatkan ICU saja begitu panjang, karena dimana-mana penuh, orang berebut rumah sakit, berebut oksigen, semua cemas. Suaminya di rawat di ICU tidak lama, hingga suatu waktu dunia sepertinya dunia ini runtuh seketika, ketika dokter memanggilnya, mengajak diskusi dan menyampaikan kondisinya, dia melihat semuanya saat suaminya menarik nafasnya dengan gelisah, peralatan ventilator NIV telah terpasang, dan melihat dengan jelas ketika tiba-tiba perawat dengan baju hazmat lengkap tiba-tiba naik ke tempat tidurnya, menekan dadanya, langsung terduduk lemas di lantai ICU, nyawa suami saya tidak bisa tertolong, jantung ini seperti berhenti berdetak, semua menjadi satu, kecewa, marah, sedih, bingung berkecambuk dalam pikiran.
Hari demi hari di lalui dengan kebimbangan yang tak tahu arah, hidup menjadi sedikit kacau, tetapi dia merasa masih punya Tuhan yang menyanginya, kesedihan ini benar-benar hingga dirinya pada titik nadir terendah hingga menjadikan pasrah sebagai tumpuan menuju keikhlasan yang sejati, dia mengatakan seperti pepatah "Every cloud has a silver lining" setiap musibah banyak hikmah yang diambil. Dia mulai tersadar bahwa pandemi ini telah memberikan banyak pelajaran, pandemi mengajarkan untuk merenung tafakur, instropeksi diri, kematian tidak bisa direncanakan, kita harus mensyukuri setiap tarikan nafas yang ada sebelum nikmat itu diambil tiba-tiba, belajar kata ikhlas yang sebenarnya, yang terpenting belajar menghargai hal sekecil apapun. Allah mengetuk kita akan kuasa-Nya dan dia tersadar betapa kangennya Allah kepada kita, semakin dekat kita kepada-Nya, dia mengatakan semakin merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya, bisa merasakan dekapan Allah yang membuat kita tenang. Dia menyampaikan hal penting yang sering terlupakan yaitu mengenai support system, dukukungan lingkungan, keluarga, saudara, teman support system terbaiknya waktu itu. Mereka tidak pernah lelah untuk mendoakan, memotivasi dan mengingatkan, hingga pada akhirnya dia bisa sekuat sekarang, bisa tersenyum kembali, bisa kemali mandiri terlepas dari suport campur tangan mereka. "Stay strong and keep smile anytime" kalimat ini yang dikatakan sebelum mengakhiri kisahnya. Dika memandang keceriaan kembali dari Pipit, “Maaf ya Mba, harus menggugah kembali kenangan lalu,” dengan perasaan bersalah, “Tenang saja Mas Co, tadi khan saya sudah bilang, saya sudah berada titik nadir ikhlas, keikhlasan yang sejati, ya inilah Pipit yang sejatinya, cerita ini memang harus diceritakan, disebarkan ke orang untuk bisa menjadikan sebuah pembelajaran, Allah itu menyayangi kita dimanapun, sampai kapanpun.” Tersenyum dia dengan ceria.
(kisah yang terlempar dari RJ)
by goens GN
Komentar(0)
Tinggalkan komentar