on 04 Februari 2022, 16:43
  • #nyeriintervention

NYERI SEBUAH MUSIBAH ATAU ANUGERAH

Manusia diciptakan dalam bentuk sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, ini sudah dipahami bagi yang beriman, karena hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS At-Tin ayat 4 yang artinya “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Kalau kita perhatikan mesin anestesi atau mesin ventilator untuk bantu nafas atau bedside monitor, bisa juga lah kita perhatikan kendaraan atau alat elektronik lainnya, manusia menganggap membuat itu dengan sempurna dengan berbagai alarm tanda bahaya yang ada di dalam alat yang mereka ciptakan. Ini cipataan manusia, kalau manusia jelas ciptaan Tuhan, manusia mau menyaingi Tuhan, tentu sangatlah jauh.

Telah dijelaskan dengan gamblang, manusia itu ciptaan yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya, sehingga manusia pun tentunya sudah ada sistem alarm yang keren dan jauh lebih keren dibandingkan segala alat elektronik ciptaan manusia tadi. Perkaranya manusia sebagai makhluk yang menjalaninya memahami alarm ini atau tidak. Kalau dalam sistem hemodinamik jelas kita akan mengenal sistem kompensasinya, kalau masalah nyeri, inipun sistem alarm tanda bahaya bagi sistem tubuh kita, kita berpikir untuk mengenali, memahami dan menghindarinya atau tidak, manusia sudah diberikan akal untuk berpikir dan merasakannya.

Topik ini terkait nyeri sebuah musibah atau anugerah, ini tergantung kita akan menilainya dari sisi mana. Nyeri merupakan sebuah alarm tubuh yang menyatakan ada sesuatu hal yang tidak beres, sehingga kita sadar, ada bahaya, alarm ini akan dikirimkan ke otak, kemudian diolah dan dimunculkan dalam sebuah gerakan motorik dengan kita berteriak aduh, sakit, wajah mengerang, cemas, stres ataupun menghindar dari sumber nyeri untuk mencegah luka yang lebih parah dan berbahaya. Itu sistem yang normal yang telah Tuhan ciptakan dalam diri manusia.

Al Quran sudah menjelaskan di dalam Surah An-Nisa' Ayat 56, “ Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat – ayat kami .kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus ,kami ganti kulit mereka dengan  kulit yang lain, supaya mereka  merasakan azab. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (QS.An-Nisa’:56).

Syaraf-syaraf stimulus nyeri sebagian besar ada di kulit, oleh karena itu di saat dimasukan neraka dan kulit terbakar untuk bisa merasakan azab, sampai disitu untuk membuktikan bahwa kulit mengandung pusat syaraf untuk merasakan nyeri ? Bebrapa tafsir dijelaskan bahwa kulit yang terbakar akan rusak ujung sensorik nya sehingga tidak merasakan nyeri lagi, oleh karena itu kulit ini kembali akan berganti menjadi kulit kembali setelah terbakar agar tetap merasakan nyeri sebagai azab, ini begitu kerennya mengenai pemahaman nyeri menurut agama.

Sebagaimana kita ketahui tentang jaras nyeri di awali dengan TRANSDUKSI adanya suatu rangsang saraf sensori dari luar kemudian diolah menjadi sinyal listrik atau potensial aksi oleh nosiseptor. Rangsangan saraf sensori ini bisa berupa panas, rangsang mekanis, suhu atau kimiawi. Sinyal listrik yang telah diubah oleh nosiseptor ini akan dibawa, di TRANSMISI kan secara afferen melalui saraf neuron, kemudian di MODULASI dan di PERSEPSI kan sebagai nyeri di dalam otak. Perasaan nyeri ini bersifat subyektif karena terkait dengan pengalaman obyek terhadap rangsangan yang diterima. Bisa saja dengan rangsangan yang sama dua obyek akan merasakan nyeri yang berbeda.

Nyeri itu sebuah alarm tubuh akan adanya sebuah bahaya, bisa dibayangkan kalau manusia tidak bisa merasakan nyeri dan sakit. Tetapi sebatas mana perasaan nyeri ini bisa di tolerir, tentunya kalau sampai mengganggu dan menurunkan produktivitas manusia, perlu mendapatkan bantuan untuk meringankannya. Bantuan ini bisa berupa ketenangan obyek dalam menghadapi nyeri, obat pendukung, obat penghambat nyeri, fisioterapi, radiofrekuensi, ataupun dengan intervensi untuk menangani syaraf nyerinya.

Jadi nyeri ini sebuah anugerah atau musibah ? silahkan pembaca untuk menilai kondisi ini, tetapi sebagai pedoman setiap Tuhan menciptakan sesuatu pasti terkandung hikmah didalamnya. (By goens GN)

 

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar