PERSIMPANGAN MIMPI DAMAR
Damar semakin yakin dengan mimpinya, ingin terbang tinggi menjauh dari sarang, tetapi ada satu hal yang mengganjal, adiknya Syam. Kalau dia pergi jauh bagaimana Saym. Damar sangat menyayangi adiknya yang satu ini. Selama ini Damar menjadi tumpuan tempat mengadu Syam, tempat Syam mengadu kalau ada masalah, tempat Syam menangis berbagi kesedihan. Pada hakekatnya Syam merasakan hal yang sama dengan Damar, tetapi dia lelaki, kadang terlihat lebih kuat dan kadang mempunyai pelampiasan lain. Pelampiasan Syam adalah berkumpul dan bermain musik dengan teman-temannya. Kondisi ini sebenarnay yang tidak disukai oleh Damar, bukan tidak percaya kepada adiknya, tetapi kadang faktor lingkungan lebih banyak menumbuhkan hal yang kurang baik selama masa transisi remaja, perlu pendampingan yang baik dan bersahabat.
Syam ini sebenarnya mempunyai otak yang encer, dia bisa masuk salah satu SMA favorit didaerahnya, tetapi mungkin itu, cara Syam mencari pelampiasan kesalnya berbeda dengan Damar.
“Damar... kamu ini bagaimana, sebagai kakak tidak bisa mendidik adik mu”
Itu kata-kata yang keluar dari mulut Papah nya, dengan tegas dan sedikit membentak. Itu terlalu sering kalimat ini keluar dikala Syam membuat kesalahan. Kata-kata ini kembali terulang disore hari itu, Damar bingun, kenapa saya diomelin kembali ? Ternyata ada surat teguran dari sekolah, selama ini Syam telah membolos selama tiga hari berturut-turut. Papah merasakan malu yang teramat sangat dikala dipanggil ke Kepala sekolah.
Papah merasakan nama baiknya telah tercoreng, kemarahan ini ditumpahkan kepada Damar sebagai kakaknya langsung. Damar begitu syok dengan kondisi ini, emang aku ini siapa, kok kesalahan Syam ditimpakan kepada ku, atau aku dan Syam bukan anak kandung papah, kalau anak kandung kan semestinya papah marah dengan dirinya sendiri. Itu yang tertanam di dalam otaknya, kondisi ini semakin menguatkan dirinya untuk terbang tinggi, terbang menjauh dari sangkar. Inilah salah satu cara positif dari Damar ingin meninggalkan rumah dengan cara benar, ingin kuliah yang jauh sesuai mimpinya, mimpi yang selama ini dia rindukan, dia ucapkan, mimpi yang selama ini dia ingin dan cita-citakan.
Menjadi seorang dokter.
Tekad Damar telah semakin kuat, semakin menancap di dalam hatinya, didalam langkahnya. Damar bukan hanya sekedar bermimpi, tetapi terus berusaha mengejar mimpi. Sepulang sekolah bimbingan pelajaran dikejarnya, kursus pelajaran menuju masuk perguruan tinggi diikutinya, walaupun jauh dari Damar tinggal selama ini, semua demi mimpi untuk terbang tinggi menjauh dari Sangkar. Sebuah bimbel yang terkenal dengan hasil hampir 100 % dijamin masuk perguruan tinggi favorit di ikutinya, sampai akhirnya Damar bertemu dengan cowok tengil di halte bus.
Menjelang akhir tahun di SMA, formulir penelusuran siswa berbakat hadir disekolahnya. Damar menjadi salah satu siswa yang terpilih untuk bisa mengikutinya.
Sebuah kesempatan untuk bisa terbang tinggi, itu yang terpatri di pikirian Damar, tetapi hati Damar mengalami kebimbangan yang begitu besar, undangan ini berasal dari salah satu perguruan tinggi favorit tetapi bukan fakultas kedokteran.
Ada kebimbangan di dalam pikirannya, yang pertama adalah sesuai impian untuk menjadi seorang dokter, yang kedua sebuah formulir pendaftaran yang telah hadir mendahului, sebuah formulir pendaftaran siswa berbakat dari sebuah Institute perguruan tinggi yang menterang dan terkenal di dunia pendidikan negeri ini. Hati Damar semakin bimbang dan ragu, mendesak itu yang terbersit serta keinginan terbang tinggi. Setelah melalui pergolakan batin yang kuat akhirnya Damar mengambil formulir ini, yang mendorong terkuat hanya “aku ingin terbang tinggi”.
Hari berjalan dengan rentangan perjuangan Damar untuk terus terbang tinggi, setelah mengisi formulir pendafataran siswa berbakat itu, tidak mengendurkan Damar untuk terus belajar dan mengikuti berbagai kursus bimbingan belajar atau bibel. Formulir itu justru terus memotivasi dirinya untuk terus bisa terbang tinggi. Setelah waktu berjalan seminggu kemudian, tidak disangka datang juga sebuah formulir pendaftaran penulusuran siswa berbakat dari sebuah Universitas terkenal di pulai Jawa, fakultas kedokteran ada didalamnya.
“Damar, tadi Ibu lihat ada formulir dari Universitas di Semarang, apa kamu tidak ingin mencobanya” demikian di siang hari saat jalan menjelang sampai kekantin. Damar mendapat berita dari Ibu Susi, guru BP disekolahnya. Damar seketika berhenti, tentunya begitu kaget dan bingung. Aku sudah mendaftar kemarin, bagaimana ini, apa aku bisa mengikutinya lagi. Damar seketika berhenti menatap Ibu Susi yang ada didepannya. “Terima kasih informasinya, Bu.” Masih dengan perasaan yang kaku.
“Sudah sana segera ke kesiswaan, ambil formulirnya, segera mendaftar, waktu pengumpulannya tinggal besok loh” demikian Ibu Susi memberikan gambaran. Damar semakin kaget, mepet sekali waktunya, apakah ini sebagai tanda saya tidak boleh mendaftar. Demikian pikiran yang berkecamuk didalam pikiran Damar.
Bukan Damar namanya kalau cepat menyerah, segera dia balik kanan tidak jadi kekantin dan segera menuju ke ruang kesiswaan.
Aku kok gemetar sekali yah, sambil memejamkan matanya Damar melangkahkan kakinya. Hati dia merasakan deg-degan, dia berpikir ini universitas ternama di Semarang, semestinya di situ ada fakultas kedokterannya, mungkinkah ini jalan keluar dia untuk bisa terbang tinggi, tentunya tergantung dengan kebijakan sekolahnya, karena Damar tahu dia sudah mengambil formulir sebuah instittute perguruan tinggi.
“Permisi.....” Damar mengetok pintu ruang kesiswaan.
“Damar, kebetulan kamu datang, sini masuk” demikian Pak Budi menyambut Damar di depan pintu.
“Ini ada formulir penelusuran siswa berbakat dari Universitas di Semarang, kebetulan ada fakultas kedokterannya, bukannya kamu ingin masuk kedokteran” Pak Budi ternyata sudah tahu kalau Damar ingin menjadi seorang dokter, ada kemungkinan Pak Budi pernah ngobrol dengan Ibu Susi.
“Iya Bapak, terima kasih, tetapi saya sudah mendaftar di institute kemarin” Damar dengan gemetar menerangkan kepada Pak Budi.
“Tidak apa, kamu daftar saja, ini panggilan pertama loh dari universitas di Jawa, dan kamu salah satu andalannya, siapa tahu jodoh ada di kamu, soalnya belum pernah ada loh.” Demikian Pak Budi dengan antusiasnya kepada Damar tanpa menimbangkan resiko jika Damar bisa diterima di keduanya. Mungkin menurut beliau ini kesempatan dan lainnya juga belum tentu.
Mendapatkan jawaban dari Pak Budi, Damar seketika memejamkan matanya dan meletakkan kedua tangannya di dadanya, dalam diam dan menunduk dia berdoa, mungkin ini jalan yang Eangkau tunjukkan ya Allah, mudahkanlah.
Damar segera mengambil formulir itu, dia begitu senang setelah pihak sekolah mengijinkan untuk mendaftar di universitas ini. Pilihan yang lebih dari satu.
Sebuah penantian untuk segera terbang tinggi selalu menghantui pikirannya, kapan aku bisa segera terbang tinggi dan pergi meninggalkan rumah ini, inilah yang selalu muncul di alam pikirannya kalau Damar sedang sendiri, kadang ini sebagai pemicu diri Damar dalam belajar, aku harus belajar keras agar segera bisa terbang tinggi. Inilah sisi positif Damar, menyadari masa depan tidak menjatuhkan kepada pilihan yang salah, ingin terbang tinggi hanya dalam mimpi-mimpi.
Semakin hari dijalani semakin banyak tekanan psikologis yang dirasakan Damar.
Komentar(0)
Tinggalkan komentar