AIR WUDHU DAMAR
Sebenarnya bukan permasalahan tidak di perbolehkan ikut pergi bersama papah dan mamah oleh Damar, tetapi sebuah perlakukan ketidakadilan, tidak adanya persamaan diantara mereka, yang Damar permasalahkan. Ini kejadian sudah berulang beberapa kali sudah sampai kepuncak kekecewaan Damar.
Damar kini sudah berjanji untuk dirinya sendiri tidak akan menggantungkan kebahagiaan dirinya kepada siapapun kecuali menggantungkan kepada Nya. Segera dengan pelan berdiri, merapikan rambutnya yang ikal, sambil mamandang cermin yang ada di kamarnya, Damr terus beranjak menuju ke kamar mandi, menyelasaikan kebutuhan dasar hidupnya dan setelahnya mengambil air wudhu dengan pelan dan khusuk, mencuci tangannya sambil memohon doa, ya Tuhan sucikan tanganku dari perbuatan yang kotor, kemudian berkumur membersihkan mulutnya diulanginya sebanyak tiga kali, kemudian membuangnya, dilanjutkan dengan membersihkan hidungnya dengar air wudhu sambil sedikit menghirup airnya terus dikeluarkannya, setelahnya dengan air yang terasa sejuk membasuhkannya ke wajah yang sedari tadi sembab sambil berniat untuk wudhu mensucikan segala hadas yang kecil, setelah berniat Damar berdoa semoga siraman air ini memancarkan aroma kebahagiaan dan kecerahan di wajahnya.
Damar melanjutkannya dengan membasuk kedua tangannya sampai sikunya, diteruskan dengan mengusap kepalanya, telingannya dan diakhiri dengan membersihkan kedua kakinya.
Proses wudhu selesai hati sedikit mulai merasakan kenyamanan, diteruskan Damar dengan berdoa setelah berwudhu dan terus keluar kamar mandi berjalan pelan tanpa menengok kanan dan kiri terus kembali masuk kamarnya. Damar mengenakan mukena putihnya, mukena pemberian mamahnya, yang mengharapkan Damar untuk menjadi anak sholikhah, Damar terus bisa tersenyum dan segera melaksanakan sholat dengan khusuk.
Perjalanan hari ini begitu berat bagi Damar, menyisakan noktah hitam yang semoga terus menghilang, waktu terus berjalan yang begitu melelahkan hati Damar, perjalanan hati ini berakhir dengan sebuah tekad yang semakin kuat untuk menjadi pemenang tidak menggantungkan dirinya kepada selain tempat bergantung, Tuhan.
Suara adzan subuh telah membangunkan tidur Damar, semalam setelah melaksanakan sholat hati Damar sudah mulai merasakan ketenangan dan diapun bisa merebahkan badannya di kasur dengan hati yang mulai tenang, tanpa terasa mata terus mengikuti jalan lelahnya hati mulai berkedip pelan dan terus terpejam tidur dalam kenyamanan. Damar yang telah merasakan ketidakadilan berujung kembali memasrahkan kepada Tuhannya.
Damarpun tidak menyia-nyiakan waktunya terus bernajak menuju kamar mandi membersihkan dirinya dan terus sholat subuh.
Pagi setelah mandi dan berdandan, Damar segera berangkat sekolah, kondisi rumah masih sepi, Damar hanya berpamitan sama si Mbok. “Mba nda makan dulu, sejak kemarin belum makan loh, nanti sakit” demikian kata Si Mbok yang sangat mengkwawatirkan kondisi Damar, Si Mbok tahu sejak kemarin Damar belum makan dan hanya berada didalam kamar terus. Damar hanya tersenyum memandang si Mbok, wanita paruh baya yang telah menemani keluarganya, begitu setia dan si Mbok mengetahui segala kejadian di rumah, termasuk ketidakadilan yang dirasakan Damar.
“Tidak Mbok, Damar harus berangkat cepat, sudah janjian dengan teman, lagian takut telat” demikian alasan Damar. Kemudian berjalan keluar dengan pelan, meninggalkan rumah itu.
Damar pun segera berangkat menuju sekolah, tanpa kembali menengokkan wajahnya, terus berjalan lurus kedepan tanpa mempedulikan sisi kanan kirinya. Kebetulan sekolah Damar tidak begitu jauh dengan rumahnya, sehari-hari Damar hanya berjalan kaki menuju ke sekolahnya, sendiri, walau kadang Damar ditemani oleh sahabatnya, sejatinya Damar lebih menyukai dengan kesendiriannya.
“Mbok.... anak-anak sudah pada bangun belum, sudah jam 6 kok masih sepi” Mamah bertanya kepada si Mbok saat dia keluar kamarnya. Sebenarnya Mamah meragukan Damar, kalau sampai belum keluar juga, Mamah mulai merasakan ke kuatirannya.
“Belum Bu, masih pada belum bangun, hanya Mba Damar yang sudah berangkat sekolah” Mbok menyampaikan apa yang diketahuinya.
“Loh Damar sudah berangkat... “ kaget mamah nya melihat kondisi ini, jelas tampak sangat kwawatir dengan kondisi Damar, si Mbok hanya mengangguk mengiyakan.
Mamah tampak sedih, sedih dengan keadaan, sedih dengan dirinya yang tidak bisa melakukan pembelaan atas perlakuan yang tidak sama diantara anak-anaknya. Mamah hanya duduk termenung di dapur disamping si Mbok. Suasana di dapur yang biasanya ramai, kini sunyi sepi hanya muncul suara kelontengan Mbok yang sedang masak.
Damar oh Damar
Kini di sekolah Damar kembali menjadi gadis yang ceria, gadis yang menjadi pusat perhatian di kelasnya, gadis yang pintar, terkenal baik dan mau membantu teman-temanya yang sedang kesusahan, tentunya dikalangan pelajar Damar juga menjadi gadis yang disenangi teman-temanya karena tidak pelit disaat ujian, Damar dengan ringan tidak seperti anak pintar lainnya mau memberikan contekan selama tidak mengganggu dirinya.
Prinsip !! mau lihat jawaban dia silahkan, itu urusan kalian selama tidak mengganggu kenyamanan dirinya.
Makanya kalau sedang ujian tidak akan ada yang berani tanya ini dan itu dengan Damar, tetapi teman-temanya akan melirik jawaban Damar dengan sesukanya, mungkin bila diperlukan bisa menggunakan teropong untuk melihat jawaban Damar...heheheh.
Sam on 2024-02-27 14:35:19
Saya yakin ini sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah seorang gadis anak tengah dari sebuah keluarga dengan anak banyak. Saya pun mengalami hal yang sama sebagai anak tengah pada saat itu. Bedanya saya masih punya kakak sesama anak tengah yang menjadi pembimbing saya. Walaupun yang akan ditegur Papah adalah kakak saya karena kenakalan-kenakalan saya ?. Terimakasih Pak Igun karena membuka kembali memori masa lalu saya dengan kakak saya. Salam hormat dan sayang saya kepada "Mbak Damar" ??