on 04 Februari 2022, 18:47
  • #mother'sbestfriend

DAMAR ADALAH DAMAR

Bagian 2

Tidak bebrapa lama Damar masuk ke dalam kamarnya, aku kok curiga ada yang disembunyikan yah, itu rasa penasaran yang ada di dalam otaknya, setelah dia mengintip Papah nya sudah tidak ada dan sepertinya sudah masuk mobil, dia keluar kamarnya dan mengintip mereka, Damar sangat sedih dan langsung menangis lari masuk ke kamarnya, menjatuhkan badannya di kasurnya yang empuk, mengambil bantalnya dan menelungkupkan kepalanya.

Damar begitu kecewa dan sedih, dia yang telah merengek-rengek meminta Papah nya untuk ikut, ternyata tidak dibolehkan, tetapi ada yang disembunyikan, ternyata kakak sulungnya yang diajak dan dia sudah menunggu di luar, Damar sebenarnya sudah curiga saat papah marah dan mamah hanya diam, mamah tidak berani bilang apa-apa dan Damar tahu mamah ada yang dirasa, ada yang ditahan, hal ini terlihat dari sorot matanya yang memerah.

Damar terus menangis, merasa kehidupan ini tidak begitu adil, merasakan mengapa mesti harus dilahirkan kalau tidak bisa diperlakukan sama. Air mata terus mengalir menangis tiada henti, kesedihan terus membekas dan dendam mulai tertanan.

Mata Damar bengak dan basah sudah membasahi bantal tempat dia menelungkup.

Damar tetap di kamar, suara adzan magrib terdengar mengalun dengan indah tetapi hati Damar sedang sakit, tidak dipedulikan suara itu dan Damar untuk tetap di kamar, menangisnya Damar telah membuat matanya semakin bengkat, mungkin aku harus pergi saja dari rumah ini kalau memang aku tidak didinginkan, ini yang sempat terbersit di dalam hatinya.

Waktu terus bergerak, dirasakan Damar begitu lambat, ingin rasanya segera berganti hari, untuk bisa berbuat, berbuat yang diinginkannya, tetapi benar waktu terasa lambat bergerak, tidak terasa bunyi lonceng di ruang tengah berbunyi dengan kencang, terdengar Damar, delapan kali jam dingding itu berbunyi,  teng ...teng ...teng ...teng ...teng ...teng ...teng ... teng, bunyi yang menunjukkan waktu telah berada pada jam 8 malam. Suara tangis Damar sudah tidak terdengar sekarang, Damar membuka bantal penutup kepalanya dan duduk dipinggir tempat tidurnya, lama dia termenung memikirkan nasih dirinya dan rencana kedepannya mau ngapain.

Damar kemudian berdiri bernajak dari tempat tidurnya jalan menuju kursi didepan meja belajarnya, kemudian duduk memandang cermin di depan meja belajarnya, sambil kedia telapak tangannya menyangga dagunya memandangi wajah yang tampak jelek sekali. Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah di depan terbuka, dan ramai di ruang tamu, adik-adik Damar sangat bahagia melihat orang tua mereka telah pulang, sedang kakak Damar tidak ada disitu.

“Papah ..mamah..... “ mereka sangat berbahagia melihat orang tua mereka pulang, kok hanya kakak yang diajak yah, kami tidak, itu yang terbersit di di hati Syam adik Damar.

“Loh... kalian cuman bertiga, Damar mana” Mamah bertanya dengan suara yang sedikit tertahan, mamah sangat memahami jiwa pemberontak Damar, keras kalau sudah mempunyai keinginan.

“Di kamar terus Mah, dari sore tidak pernah keluar kamar, pintu kamarnya terkunci” Syam menyampaikan kepada mamahnya kalau Damar terus berada didalam kamar, keadaan ini sebenarnya telah membuat bingung adik-adiknya, terutama Syam yang begitu dekat dengan Damar, dia sangat menyayangi kakaknya ini dan Syam sangat mengkwawatirkan kondisi Damar. Sebenarnya Syam beberapa kali telah mengetuk pintu kamar Damar, tetapi sepi tidak mendapatkan jawaban dari Damar.

“Damar, ini Mamah, buka pintunya, Mamah bawa sesuatu buat kamu” Mamahnya dengan pelan mengetuk pintu kamar Damar, tetapi tetap sepi tidak ada jawaban suara Damar dari dalam, hanya terdengar suara kursi yang bergerak. Suara kursi bergerak ini telah cukup memberikan tanda Damar tidak apa-apa, Mamah sebenarnya tahu, diantara semua anaknya, Damar yang paling rajin beribadah sehingga tadi sangat terkejut mendengar tidak keluar.

“Kenapa Mah....” Papah menanyakan ke Mamah mengapa didepan pintu kamar.

“Ini Damar tadi sempat mamah belikan sesuatu, mau mamah berikan ke Damar kok pintunya di kunci” Mamah menyampaikan maksudnya dan mengapa berada di depan pintu Damar. Papah hanya mendengarkan, tetapi hatinya, ini anak tidak sopan dibelikan oleh-oleh malah pintunya tidak dibuka, segera menuju ke depan pintu dan tanpa ba-bi-bu, langsung mengetok pintunya dengan keras.

“Damar... buka pintunya... Damar buka pintunya, ini Mamah bawa sesutau buat kamu... malah pintunya tidak kamu buka... tidak sopan kamu” Papah tampak marah saat mengetok pintunya, tangannya kembali terangkat akan mengetok lebih keras lagi, tetapi dicegah oleh mamah.

Kondisi ini telah membuat keributan diantara mamah dan papah, keributan ini disaksikan oleh adik-adik Damar, karena merasa tidak enak Mamah mengajak masuk ke dalam kamar, entahlah apa yang dibicarakan diantara mereka di dalam kamar.

Malam terus bergelayut dengan sepi, memadu rindu, rindu dengan semilir angin ibu kota yang sudah mulai terasa tidak segar lagi, jam satu malam semua telah berada didalam kamarnya masing-masing menikmati tidur sebagai anugerah Tuhan.

Damar masih duduk sendiri menuliskan kata dalam buku catatan harian nya, semua tertulis dengan jelas kisah di hari ini, pada bait terkahir dia menuliskan,

ini aku Damar, gadis yang merasakan kepiluan, sehari telah merintih merasakan sesak yang tidak berujud sesak yang tidak berbatas. Beban ku mulai meluruh seiring habisnya air mata yang sedari tadi mengalir tidak bisa aku cegah. Aku tahu, Tuhan mendengar jeritanku, walau sejenak telah melupakan Nya, tetapi aku tahu Dia tidak akan pernah marah, aku meraskan belaiannya, aku meraskan lembutnya. Damar adalah Damar, yang akan terus melangkah mencari kebahagiaannya sendiri, tanpa bergantung siapapun hanya kepada Mu saja aku menggantungkan kebahagianku, diwaktu 01.00 WIB, September 1991. Damar.

Komentar(0)

Tinggalkan komentar