BAGIAN 1
TANGIS YANG BERMIMPI
Damar, itu seorang gadis lembut, penuh dengan perasaan, tetapi jangan disalah sangka kelembutan hatinya tidak berbanding lurus dengan tekadnya, tekad untuk beda dengan lainnya, tekad untuk menjadi pemenang, tekad untuk menjadi pusat perhatian.
Keras.
Tekadnya begitu keras, bagaikan ombak yang tidak pernah lelah menerjang batu karang, cuman satu tujuan, menjadi pemenang untuk bisa menjadi pusat perhatian.
Sore itu, langit bersinar dengan terang dan indah memancarkan lembayung senja sore hari, sinar mentari sore menghasilkan bayangan sendu Damar, yang sedang berjalan dengan rambut ikal panjangnya menjeluntai diterpai angin senja dengan perasaan yang gundah. Bayangan itu dengan setia menemani langkah pelan Damar menuju halte bus. Bayangan itu sangat pengertian, berusaha hanya menemani dan menjadi pendengar curahan hati Damar tanpa mau menggangu isi pikiran Damar dengan memberikan saran atau kritik untuk nya.
Damar.. oh Damar gadis kesayangan bayangan.
Damar pun tersenyum, inilah yang aku suka disaat pagi dan senja, engkau teman sejatiku, mau temani aku tanpa kau usik diriku, kata hati Damar yang bisa membuat tersenyum dan terus berjalan lesu sendiri menyusuri trotoar jalan Jenderal Soedirman. Sebuah jalan utama di kota, yang tampak ramai dan kadang timbul kemacetan. Sebuah jalan yang dilalui semua angkutan menuju daerah atau tempat penduduk kota dari dan menuju tempat yang di tuju.
Kelesuan dan cengkerama dengan bayangan senja telah membawa Damar tanpa dia sadari sampai ke sebuah halte bus, melangkahkan kaki mencari tempat duduk. Damar memandang tanpa rasa takjub sebuah halte bus yang sudah tampak lusuh, disana-sini tampak coretan, tembok pun sudah mulai hitam terlukis kootoran telapak tangan yang mungkin melukis dinding tanpa disengaja. Damar sudah rutin sehari empat kali, di hari Senin, Rabu, Kamis dan Jumat, hampir selalu duduk di halte bus sepulang kursus bimbingan pelajaran. Bus79, itu yang selalu dia tunggu, walau kadang bus sudah penuh, Damar akan memaksa untuk bisa masuk, tidak mau ketinggalan di jam yang biasanya. Damar selalu ingin pulang tepat waktu pulang samapi di rumah.
Saat ini Damar duduk di kelas 3 sebuah SMA di kota itu, sebuah kota besar, Ibu Kota. Damar mulai memperdalam dirinya, mempersiapkan diri untuk bisa masuk perguruan tinggi favorite sesuai impiannya sejak kecil.
Aku harus masuk perguruan tinggi favorite, fakultas kedokteran agar Papah bangga dan sayang padaku, demikian yang ada dalam bayangan dirinya.
Halte bus itu mulai terisi banyak orang, Damar segera mencari tempat duduk menunggu di pojok halte. Disitu masih kosong kursi yang tersedia, setelah menata duduknya, Damar tampak acuh segera membuka tas rangselnya kemudian mengambil sebuah karya novel yang sering dia baca, sebuah karya Agatha Cristie. Sebuah novel yang bercerita tentang detektif.
“Permisa, masih kosong, bisa duduk disebelah sini” seorang cowok pelajar SMA dengan tas ransel dipunggungnya meminta ijin Damar untuk duduk disampingnya. Mungkin pelajar ini merasa nyama duduk bersama-sama anak SMA, karena saat ini Damar juga mengenakan seragam kebesaran SMA, atasan putih dan bawahan abu-abu.
Damar hanya melirik dan diam kembali dengan kesibukannya membaca novel, Damar melihat jam di tangannya yang mungil, sepertinya bus masih 15 menit lagi baru datang, demikian yang ada dalam pikiran Damar setelah melihat jam ditangannya.
Cowok disamping Damar begitu gelisah, dia merasa dicuekin dengan Damar disebelahnya, cewek yang baru saja ditemuinya, cewek yang begitu asyik dengan dunianya, cewek yang merasa disekitarnya kosong tidak ada manusia.
“Kenalin dong, aku Angga, dari SMA 68” akhirnya tidak sabar mengajak kenalan dengan mengulurkan tangannya kepada Damar. Ini apaan sih, duduk tinggal duduk saja, pakai acara kenalan saja, ganggu orang baca tahu, Damar mulai merasakan bete dengan kenalannya, pasti nanti akan ada kelanjutan obrolannya, itu yang ada didalam otaknya.
“Ya, saya Damar” katanya masih cuek dan mau langsung kembali membaca novelnya, ternyata Angga benar saja kembali melanjutkan keceriwisannya.
“Dari SMA mana, kok bareng di halte ini juga” Angga mulai agresif mengajak berkenalan, justru kondisi ini yang semakin menambah bete Damar.
“Emang kenapa, toh ini halte umum kan, bukan halte kamu, boleh saja dong aku nunggu bus disini” cuek saja menjawab pertanyaan Angga.
Angga merasa mati kutu, “hem...hemmm.... boleh saja sih”
Ini gambaran kecil Damar dalam berjuang mewujudkan mimpi, untuk bisa menjadi yang terbaik agar bisa dilihat oleh Papahnya, bisa dibangga-banggakan, bisa merebut kasih sayang walau hanya 50%.
Damar ini seorang gadis anak ke tiga dari enam bersaudara, anak tengah. Posisi sebagai anak tengah menurut Damar merupakan sesuatu yang tidak mengenakan, menjadi anak yang kurang mendapatkan perhatian.
“Papah mau pergi kemana, saya ikutan” suatu sore sepulang sekolah saat melihat papah nya mau keluar menuju garasi mobilnya. Damar sangat tahu, papahnya akan pergi, saat Damar keluar dari kamarnya, dia melihat papah dan mamah nya sudah rapi memegang kunci mobilnya dan berjalan menuju ruang garasi.
“Nda usah ikut, Papah hanya pergi jalan sama Mamah, ada keperluan” dengan tegas menolak rengekan Damar. Perasaan sedih itu pasti, Damar merasa sangat jarang sekali bisa ikut pergi dengan papahnya, Damar langsung diam seribu basa.
“Masa... Damar ...sekali-kali tidak boleh ikut, Pah” Damar masih merengek ingin ikut jalan dengan papah dan mamahnya.
“Sudah dibilangin, papah hanya sama mamah ada keperluan, sudah kamu di rumah saja” Papah sudah mulai dengan suara kerasnya, dan Damar merasakan sedih, terus duduk di kursi tengah ruang tengah, hanya memandangi televisi yang jelas tidak sedang menyala.
“Sudah disuruh masuk ke kamar malah diam saja” papahnya mulai marah melihat kelakuan Damar yang keras, tidak mau menurut untuk masuk ke kamarnya. Ini ada apaan sih, kenapa mesti masuk ke dalam kamar, ada yang aneh, demikian yang timbul didalam pikiran.
Damar segera masuk ke dalam kamarnya, didalam kamar buku dimeja tertata rapih, buku-buku pelajaran berjajar tersendiri secara rapih, buku-buku novel dan cerita lainnya juga tertata rapi dalam kelompok sendiri. Ruangan kamar Damar tertata begitu bersih dan rapih, kasurnya tertata rapi dengan sprei berwarna biru muda, demikian juga dengan bantal dan gulingnya, sangat maching warna nya. Inilah profile Damar yang rapih dan sesuai dengan aturan.
to be continue...
Komentar(0)
Tinggalkan komentar