on 08 Maret 2024, 10:06
  • #ramadan #igunwinarno #puasa #romantisme

PUASA MENJAGA ROMANTISME
Ramadan itu bulan yang penuh dengan rahmat, bulan yang melimpah. Sudah tentunya sebagai umat muslim harusnya merindukan datangnya bulan ramadan.


Kalangan tenaga medis, bulan Ramadan juga dianggap sebagai bulan kerinduan, bulan untuk melakukan introspeksi diri, seberapa optimalkah sudah bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pasien-pasien kita.


Membentuk kepanitiaan Ramadan salah satu cara untuk mengorganisir kegiatan, meramaikan dan tentunya syiar agama yang bisa dilakukan.
Mengambil tema “Bersihkan diri, bersihkan hati sebagai jalan untuk mengabdi” kiranya tepat untuk dilakukan.


Bulan Ramadan jelas bulan keberkahan dan didalamnya umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, dan puasa ramadan yang didasari rasa iman dengan mengharapkan ridho Allah semata akan diampuni dosa-dosanya dimasa lalu. Masya Allah, mengapa kita tidak merindukan ramadan? Sungguh kita dalam kerugian.


Menyambut kedatangan bulan keberkahan ini, memulai dengan pengajian yang disampaikan Ust. M. Syamsudin, S.Ag, M.Pd, banyak menyampaikan bagaimana menjalankan romantisme dalam kehidupan rumah tangga, panggilan yang mengakraban, tindakan yang menimbulkan kemesraan diantaranya cium tangan, cium pipi. 


Hal ini juga banyak dicontohkan oleh Rosulullah SAW. “Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarga” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasul pun mewujudkan rasa romantisme kepada istrinya Khadijah dengan sebutan ya habibi (wahai kekasihku), dengan Aisyah memanggilnya humaira yang merupakan panggilan rasa sayang dalam budaya Arab.


Romantisme dengan keluarga ini juga sebagai wujud untuk menghindari banyaknya kesalahan yang ditimbulkan kepada orang terdekat kita. Romantisme inipun bisa dibentuk dengan kita berpuasa, karena puasa ini bisa melembutkan hati.


Inilah kesempatan kita di bulan Ramadan untuk mendapatkan rahmat ampunan dari Allah SWT, dengan jiwa yang bersih inilah semoga akan terjaga nilai romantisme dalam diri kita.
Manfaatkan dengan baik.
by igun Winarno

Komentar(0)

Tinggalkan komentar