RESPONSIF CAPAIAN INDKIKATOR NASIONAL MUTU
WAKTU TANGGAP SC EMERGENSI
Pelayanan yang bermutu tentunya sebuah pelayanan yang memberikan sesuatu hal melebihi dari harapan pelanggan, atau minimalnya sesuai dengan harapan dari pelanggan.
Pelayanan kesehatan yang bermutu tentunya sebuah pelayanan yang dapat memberikan output kesehatan yang optimal, diberikan sesuai dengan standar, sesuai dengan keilmuan terkini dan jangan dilupakan pula terkait pemenuhan hak dan kewajiban pasien.
Salah satu tanda pelayanan kesehatan yang bermutu itu, pelayanan yang efektif dan efisien, bisa menjamin keselamatan, berorientasi kepada pasien (patient center care), adil dan terintegrasi.
Pelayanan di rumah sakit tentunya harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh kemenkes, seperti dalam Permenkes no 30 tahun 2022 tentang indikator mutu. Dalam permenkes ini juga menyebutkan, beberapa indikator yang harus dipenuhi oleh rumah sakit, diantaranya ada 13 indikator yang dikenal dengan Indikator nasional Mutu (INM); kepatuhan cuci tangan, kepatuhan penggunaan APD, kepatuhan indentifikasi pasien, waktu tanggap operasi emergensi sectio caesaria (SC), waktu tunggu rawat jalan, penundaan operasi elektif, kepatuhan waktu visite dokter, pelaporan hasil kritis laboratorium, kepatuhan penggunaan fornas, kepatuhan terhadap alur klinis (clinical pathway), kepatuhan terhadap upaya resiko jatuh, kecepatan waktu tanggap komplain, dan kepuasan pasien.
Pada tanggal 6 Maret 2024, kebetulan saya selaku ketua komite mutu di rumah sakit, mengadakan pertemuan evaluasi terkait pelaksanaan mutu di unit pelayanan. Pertemuan ini dihadiri unsur manajemen, komite medis, komite lainnya, kepala instalasi, kepala ruang. Tentunya juga melibatkan semua anggota komite mutu, tidak ketinggalan, direktur ikut menyertainya dalam pengarahan di awal pertemuan.
Pertemuan ini sejatinya bukan pertemuan rutin triwulan, tetapi sebagai pertemuan lanjutan dari anggota komite mutu yang ditugaskan terjun kelapangan untuk memantau pelaksanaan indikator nasional mutu (INM), indikator mutu rumah sakit dan indikator mutu unit.
Ada hal menarik terkait dengan pencapaian waktu tanggap operasi SC emergensi. Waktu dalam indikator ini didefinisikan sebagai interval waktu disaat diputuskan untuk SC pada kasus kategori satu;
1. Pasien dengan fetal distress yang menetap setelah dilakukan resusitasi.
2. Pasien dengan prolaps tali pusat
3. Pasien dengan gagal vakum/forcep
4. Pasien dengan ruptur uteri atau ruptur uteri iminens
5. Pasien dengan perdarahan antepartum aktif
6. Pasien yang mengalami solutio plasenta
7. Pasien dengan riwayat SC memasuki kala 1 aktif
sampai pasien dilakukan irisan pertama dalam proses SC. Waktu ini tidak bolah melebihi 30 menit. Mengapa demikian ? tentunya suatu usaha untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Pencapaian waktu ini ternyata dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya ketepatan waktu dari para profesional pemberi asuhan (PPA), kesiapan dan kecepatan pasien dan keluarga dalam mengambil keputusan, kesiapan data dukung untuk pelaksanaan operasi.
Menghadapi kondisi yang demikian, komite mutu melakukan koordinasi dengan terkait, bidang pelayanan, komite medis, kelompok staf medis (KSM), komite keperawatan dan instalasi pelaksana yang terkait.
Adapun langkah yang diambil diantaranya, peningkatan kecakapan PPA ruangan dalam hal ini kamar bersalin, IGD dan ruang perawatan maternal. Kecakapan dalam hal ini diartikan bahwa petugas bisa benar-benar melaksnakan early warning system (EWS) maternal dengan baik, sehingga sebelum penentuan SC oleh DPJP Obstetri, petugas secara team work yang baik telah mempersiapan data dukung dan memberikan edukasi perkembangan proses persalian. Edukasi ini termasuk didalamnya adanya kemungkinan terburuk dilakukannya tindakan operasi sectio caesaria (SC) sehingga disaat DPJP Obstetri memutuskan SC, pengambilan keputusan persetujuan bisa lebih cepat.
Petugas dalam melakukan proses transfer intrahospital diharapkan juga bisa memberikan data yang terperinci, sehingga dalam analisa berikutnya bisa menemukan titik fokus kelemahan ada dimana. Data ini terkait dengan kapan pasien sampai ke kamar operasi, kapan dianestesi, kapan dilakukan irisan. Data kondisi ini akan memudahkan dalam pengambilan kebijakan selanjutnya, karena telah ditemukan titik fokus permsalahannya.
Langkah lain yang dilakukan adalah dengan menyusun standar prosedur operasional (SPO) dalam hal pemenuhan target waktu ini. SPO sectio caesaria emergensi kategori satu ini pun bukan hanya sekedar disusun, tetapi harus disosialisasikan, dipahami dan dilaksanakan oleh semua unsur yang terkait dalam kegiatan.
Harapan sangat besar dalam evaluasi dari Komite Mutu ini dan berkolaborasi dengan KSM Obstetri dan semua yang terkait dalam pelayanan maternal, berdampak banyak dalam mencapai standar nasional mutu dan output yang lebih jauhnya adalah peranan dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak. Ayo, kita pasti bisa.
By Igun Winarno
Komentar(0)
Tinggalkan komentar