on 07 Maret 2026, 06:33
  • #novel #hospital_crash #igun

Fase 2

 

KRISIS 

DI UJUNG NAFAS

 

Rumah sakit penuh hiruk-pikuk seperti biasa, bagai krisis di ujung tanduk, krisis yang selalu mengintai, menunggu saatnya untuk menguji ketahanan dan keberanian mereka yang berjuang di garis depan.

Di ruang IGD, semua terlihat sibuk, tapi tidak dengan dokter Dita. Ia baru saja duduk di kursi jaga, memperbaiki rambutnya yang terurai rapi, sambil memeriksa ponselnya. Matanya sesekali melirik dokter Vito, yang sedang berdiri di dekat pintu masuk, sibuk menyapa pasien dengan senyum menawan yang khas.

Dokter Dita adalah sosok yang tidak pernah gagal menarik perhatian, baik disengaja maupun tidak. Sebagai seorang dokter yang masih muda, ia selalu tampil modis, dengan rambut terurai rapi dan sedikit polesan lipstik merah muda yang menambah kesan manis pada wajahnya.

Namun, di balik penampilan cerianya, ia menyimpan segudang keraguan tentang kemampuannya sendiri sebagai seorang dokter.

Dita dikenal di antara rekan-rekan sejawat dan perawat karena sifatnya yang kerap mencari perhatian. Ia memiliki kebiasaan khas—tertawa agak terlalu keras ketika dokter Vito melontarkan lelucon receh, tentu mencari perhatiannya atau berbicara dengan suara yang sengaja dibuat lembut saat meminta bantuan kepada dokter Vito.

Bahkan, tidak jarang ia muncul di ruang pantry dengan alasan sepele, seperti "mencari charger" atau "ingin konsultasi" hanya untuk mengintip kehadiran dokter Vito yang lagi tidak jaga santai ngopi di pantry IGD.

Dalam hal keterampilan medis, Dita sering terlihat tidak terlalu percaya diri. Tindakannya kadang lamban, dengan banyak keraguan atau terkesan bingung saat menghadapi situasi darurat. Intubasi, misalnya, adalah salah satu tantangan yang selalu membuat tangannya gemetar, meskipun ia sudah mencobanya berkali-kali. Namun, Dita bukan tipe yang menyerah. Meski sering gagal, ia punya tekad untuk memperbaiki diri, meskipun hasilnya belum selalu terlihat nyata.

Namun, ada sisi lain dari dokter Dita yang membuatnya disukai banyak perawat dan sejawat dokter. Di antara kecentilannya, dokter Dita memiliki hati yang tulus.

Ia sering membawakan camilan untuk perawat jaga malam, atau dengan sabar membantu mereka saat harus mengurus pasien yang berjubel.

Kebaikan hati itu pula yang membuat banyak perawat tetap mendukungnya, meskipun mereka tahu dokter Dita kadang lebih sibuk merapikan rambutnya daripada memikirkan diagnosis pasien.

Di dalam hatinya, Dita menyimpan perasaan kagum yang bercampur dengan cinta buta terhadap dokter Vito. Baginya, Vito adalah sosok sempurna, tampan, kaya, dan penuh percaya diri. Meski Dita tahu Vito sering menggoda banyak orang, ia tetap berharap suatu saat perhatian Vito akan sepenuhnya menjadi miliknya.

Namun, ada kalanya Dita merasakan kekosongan di tengah semua perhatian yang ia cari. Ketika berada sendirian di ruang jaga, ia sering merenungkan perjalanan hidupnya, bertanya-tanya apakah ia benar-benar layak menjadi dokter. Meski begitu, ia selalu berusaha menyembunyikan rasa insecure-nya di balik senyum cerah yang ia pasang setiap hari.

Dita adalah gambaran nyata bahwa menjadi dokter bukan hanya soal ilmu dan keterampilan, tetapi juga perjalanan panjang untuk memahami diri sendiri. Di balik segala kelemahan dan kecentilannya, ia adalah seorang wanita muda yang masih mencari tempatnya di dunia yang keras ini, sambil berusaha menjaga hatinya tetap baik kepada orang-orang di sekitarnya.

“Dokter Dita, ada pasien di bed 3. Itu pasien mesti dokter yang tangani,” ujar perawat Prita. Dia sambil melirik dokter Vito yang belum pulang setelah sebelumnya ngopi di pantry dengan nada menggoda. “Oh iya, dokter Vito juga baru selesai mengisi rekam medis pasien, mungkin bisa diajak konsultasi, tuh.”

Dokter Dita tersenyum kecil, mengabaikan godaan itu. Dia melangkah ke Bed 3. Seorang pasien pria berusia lima puluhan terbaring dengan wajah pucat. Napasnya terlihat berat.

“Pasang tensi, ukur saturasi,” perintahnya singkat, tanpa banyak basa-basi. Perawat segera bergerak, tapi Prita sempat mencibir pelan.

"Tanya dulu keluhannya, Dok. Pasien sesak, napasnya berbunyi,” lapor Prita kemudian.

Dita mengambil catatan medis. Bukannya memeriksa lebih lanjut, dia langsung menghubungi dokter Tiara, Dokter Spesialis paru yang biasa menjadi DPJP pasien.

“Dokter Tiara, mohon ijin ini Dita, dokter jaga IGD, ada pasien, ini pasien dengan keluhan sesak... Eh, saturasinya...” Dita terbata-bata mencari angka yang belum sempat dia cek sendiri.

“Apa riwayat penyakitnya? Ada tanda gagal jantung? Berapa tekanan darahnya?” tanya dokter Tiara di ujung telepon, suaranya tajam dan tegas.

Dita tergagap. “Sebentar, Dok, saya cek dulu...”

Dokter Tiara menyahut tegas. “Pastikan semua data lengkap sebelum lapor lagi! Cepat tangani pasiennya, jangan lambat!” Telepon pun terputus.

Dokter Tiara menghela napas, merasa frustrasi. “Anak-anak IGD ini, kalau lapor pasien, seharusnya sudah dipersiapkan dengan baik terlebih dahulu. Data yang lengkap penting, agar saat laporan disampaikan, semuanya sudah jelas dan tidak ada kebingungan. Kenapa sih, harus seperti ini?” keluhnya, sambil menganalisis keadaan. Ia tahu, masalah ini bukan hanya di satu sisi, semua dokter jaga IGD menghadapi tantangan yang sama.

Saat Dita kembali ke sisi pasien, kondisinya semakin memburuk. Napas pasien tersengal-sengal, dan saturasinya turun drastis.

“Pasang O2, infus cairan segera!” perintah Dita, berusaha terdengar tegas meski suaranya bergetar.

Prita dan seorang perawat lainnya segera bergerak untuk melaksanakan instruksi, namun mereka kesulitan menemukan vena pasien.

“Dok, ini sulit sekali,” keluh perawat itu, wajahnya menunjukkan keputusasaan setelah beberapa kali mencoba memasang IV catheter tanpa hasil.

Dita menatap alat di tangannya, rasa frustrasi mulai memuncak. “Kenapa nggak bisa sih? Coba yang benar!” bentaknya, namun saat alat itu disodorkan kepadanya, ia terpaku, tangannya gemetar. Rasa takut dan ragu menghantamnya, membuatnya ragu untuk melanjutkan.

Keadaan semakin genting. Saturasi oksigen yang terpasang terus menurun, kini tampak di layar monitor saturasi oksigen hanya 70% dan terus merosot hingga akhirnya tak terbaca. Pasien mulai menunjukkan tanda-tanda henti napas. Dengan cepat, Prita mengambil bag-valve-mask (BVM) dan mulai melakukan ventilasi.

Tangan dokter Dita gemetar saat melihat kondisi pasien. Kenapa pasien ini bisa sampai henti napas? pikirnya panik, sambil mencoba merumuskan langkah selanjutnya dalam kepanikan yang melanda.

“Dok, pasien butuh intubasi segera!” teriak Prita, memecah kebisuan dan membangkitkan dokter Dita dari kegelisahannya.

“Panggil keluarganya dan berikan informasi dan persetujuan tindakan” dokter Dita mencoba menenangkan dirinya.

Keluarga pasien terlihat panik, wajah mereka dipenuhi kecemasan saat melihat kondisi pasien yang kritis. Mereka segera menyetujui tindakan yang akan dilakukan oleh Tim IGD, berharap semua berjalan lancar.

Dokter Dita kembali mendekat ke pasien, hati dan pikirannya bergejolak. “Persiapan intubasi, semua sudah siap?” teriaknya dengan suara tegas namun bergetar.

“Sudah, Dok. Semua sudah ready,” jawab Prita, disusul anggukan dari perawat lainnya.

Dengan napas yang tercekat, dokter Dita mengambil laringoskop. Namun, tangannya mulai gemetar hebat, membuatnya kesulitan mengarahkan alat itu. Usahanya tak membuahkan hasil. “Aduh, nggak bisa... Aku nggak bisa!” gumamnya penuh kekhawatiran, tatapan matanya penuh kecemasan.

Di tengah kekacauan, dokter Adrian muncul dengan santai. Tangannya memegang secangkir kopi yang hampir habis. “Ada apa ini? Kenapa berisik banget?”

“Dok, pasien gagal napas! Cepat bantu intubasi!” seru Prita.

Dengan tenang, Adrian meletakkan kopinya, mengenakan sarung tangan, dan mengambil alih situasi. Dalam hitungan detik, ia mengatur laringoskop, membuka mulut pasien, memasangkan dan memasukkan selang endotrakeal dengan presisi, lalu memeriksa posisinya dengan stetoskop.

“Bagus. Posisi aman. Sambungkan ke ventilator,” ucapnya singkat, jelas, dan penuh keyakinan.

Ruangan itu terdiam, semua mata tertuju pada Adrian, terkesima oleh kecepatan dan ketenangannya. Dokter Adrian adalah sosok yang memancarkan aura percaya diri setiap kali memasuki ruangan. Langkahnya mantap, senyumannya lebar, dan nada bicaranya selalu santai, bahkan di tengah krisis yang paling menegangkan sekalipun. Kehadirannya tak tertandingi, baik karena keterampilannya yang luar biasa maupun sikapnya yang kadang-kadang tengil, membuat orang kesal tapi juga kagum.

Sebagai dokter paling senior, Adrian sudah lama akrab dengan asam garam dunia medis. Tangannya cekatan, pikirannya tajam, dan nalurinya seperti kompas yang selalu mengarah pada keputusan yang tepat. Ketika orang lain mulai panik, Adrian tetap tenang, seakan-akan ia adalah dirigen yang memimpin orkestra di tengah badai. Bagi banyak juniornya, Adrian adalah legenda hidup, meski legenda itu sering muncul dengan gaya yang membuat gemas.

Tengil adalah sisi Adrian yang sulit diabaikan. Ia sering melontarkan komentar tajam dengan senyum miring, seolah sengaja ingin menguji kesabaran orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik semua itu, Adrian adalah komunikator ulung. Kata-katanya mampu mengubah kekacauan menjadi keteraturan, meredakan amarah keluarga pasien, atau mengubah suasana ruang jaga yang tegang menjadi penuh tawa.

Adrian tidak pernah ragu untuk menunjukkan keahliannya di depan orang lain, terkadang dengan gaya yang sedikit berlebihan. Ketika melakukan tindakan medis yang sulit, ia kerap membuatnya terlihat seperti hal paling mudah di dunia. Seolah, dengan satu tangan memasang infus, sementara tangan lainnya masih memegang cangkir kopi, Adrian memancarkan karisma seorang dokter yang sudah sangat menguasai bidangnya.

Namun, di balik semua sifatnya yang terkesan arogan, Adrian adalah mentor yang tanpa disadari sangat peduli. Ia tahu kapan harus mendorong juniornya hingga ke batas kemampuan, dan kapan harus turun tangan untuk menghindari bencana. Sering kali, caranya mengajarkan sesuatu terkesan keras, tapi sebenarnya itulah caranya melindungi.

Adrian adalah paradoks hidup—dokter yang terlihat santai, tapi selalu membawa beban tanggung jawab yang berat. Ia adalah pemimpin tanpa mahkota, seseorang yang mungkin membuat orang-orang di sekitarnya kesal, tapi di saat yang sama menjadi tempat mereka bersandar. Bagi Adrian, tengil adalah cara bertahan di dunia yang keras, sementara keahliannya adalah senjata yang ia gunakan untuk memastikan bahwa semua orang tetap hidup, meski badai sekalipun.

“Dokter Dita, pasien ini harus dirawat di ICU. Kamu urus administrasinya,” kata Adrian, suaranya tenang, tanpa nada mengejek, meski tatapannya memberikan kesan mendidik.

Dita mengangguk, tubuhnya terasa lemas. Perasaan gagal menghantui pikirannya.

“Perlu analisa gas adarah nda ya, Mas”

“Wuah, seharusnya diawal tadi, itu syarat klaim BPJS..heheh tetapi tidak apa, isi saja rekam medis henti nafas yang jelas dan sekarang saranku ya periksa AGD” Adrian mengingatkan tentang sayarat pasien untuk mendapatkan klaim asuransi BPJS sesuai dengan peruntukannya.

Setelah pasien dikirim ke ICU dan kondisinya stabil, Dita duduk sendirian di pantry IGD. Wajahnya muram, matanya sembab. Ia merasa tak berguna. “Kenapa aku begini? Apa aku salah memilih jadi dokter?” pikiran dan renungan yang muncul di saat perasaan galau dirinya.

Prita, yang sejak tadi memperhatikan dari jauh, mendekat dengan langkah hati-hati. “Dok, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kami semua pernah salah. Yang penting adalah mau belajar,” ujarnya lembut.

Dita tersenyum kecil, meski hatinya tetap terasa berat.

Tak lama, Adrian masuk ke pantry, melangkah dengan santai dan duduk di depan Dita. “Dita,” katanya, suara penuh keyakinan. “Kamu tahu nggak kenapa aku bisa tetap santai?”

Dita menggeleng, penasaran.

“Karena aku sudah gagal berkali-kali. Intubasi pertama, aku gemetar seperti daun tertiup angin. Infus pertama, pasien malah biru. Itu semua bagian dari proses, dan kamu baru melewatinya.”

“Tapi aku terlalu sering gagal…” suara Dita nyaris tak terdengar, penuh keraguan.

Adrian tersenyum, mata penuh pengertian. “Gagal bukan akhir, Dita. Itu hanya langkah-langkah menuju keberhasilan. Yang penting, kamu terus maju.”

“Kamu gagal, tapi pasiennya masih hidup. Itu artinya kamu punya waktu buat jadi lebih baik. Kalau nggak percaya diri, belajar lagi. Kalau nggak bisa, panggil bantuan. Jangan pernah ragu buat minta tolong.”

Call for help!

Call for help!” itu penting loh bagi seorang dokter. Adrian mencoba menenangan dokter Dita. Ucapan Adrian seperti tamparan lembut. Dita tersenyum, merasa sedikit lebih baik.

Di dunia medis, "Call for help" bukan sekadar sebuah langkah prosedural, ia adalah napas kedua di tengah krisis, sebuah pengakuan jujur bahwa seorang dokter, sehebat apapun, tetaplah manusia dengan batas kemampuan. Dalam kerumunan kabel monitor yang berdenting, suara alat ventilator yang berderu, dan tatapan panik dari keluarga pasien, kalimat sederhana itu bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.

Bagi seorang dokter, meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, tetapi lambang keberanian. Keberanian untuk menerima bahwa tidak semua jawaban ada di tangan sendiri.

Dunia ini tidak dirancang untuk dikuasai sendirian. Bahkan dalam ruang operasi yang sunyi namun penuh ketegangan, ada kekuatan luar biasa dalam kehadiran orang lain, tim yang berdiri bersama, saling menambal celah, saling menguatkan.

"Call for help" adalah pelajaran penting tentang kerendahan hati.

Sebuah pengingat bahwa gelar dan pengalaman tidak pernah membuat seseorang kebal dari kebutuhan untuk belajar dari orang lain. Bentuk penghormatan pada hidup itu sendiri, pada nyawa yang menjadi tanggung jawab dokter, pada janji luhur yang telah diikrarkan sejak awal perjalanan profesi.

“Dalam balutan seragam putih itu, semua ego dan keangkuhan luruh oleh satu tujuan bersama: menyelamatkan nyawa."

Perlu diingat juga bahwa dokter bukanlah pahlawan yang berdiri sendiri di atas bukit, melainkan bagian dari rantai besar yang bekerja bersama, saling menopang untuk satu tujuan yang lebih besar dari sekadar kebanggaan diri. "Call for help" adalah suara kecil yang sederhana, tapi membawa kekuatan luar biasa untuk menyelamatkan dunia, satu pasien dalam satu waktu.

Pembelajaran Hidup!

Malam itu, Dita mulai membuka buku-buku lama yang sudah berdebu di laci meja kerjanya. Ia tahu, jika ingin menjadi dokter yang lebih baik, ia harus berusaha lebih keras.

Adrian, yang melintas di lorong, kadang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah junior-juniornya. Ia tersenyum kecil. “Rumah sakit ini memang penuh drama,” gumamnya sambil menyeruput kopi terakhirnya itu.

=gn=

 

 

 

 

 

 

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar