Fase 2
“KRISIS
DI UJUNG NAFAS”
Rumah sakit penuh hiruk-pikuk seperti biasa, bagai krisis di
ujung tanduk, krisis yang selalu mengintai, menunggu saatnya untuk menguji
ketahanan dan keberanian mereka yang berjuang di garis depan.
Di ruang IGD, semua terlihat sibuk, tapi tidak dengan dokter
Dita. Ia baru saja duduk di kursi jaga, memperbaiki rambutnya yang terurai
rapi, sambil memeriksa ponselnya. Matanya sesekali melirik dokter Vito, yang
sedang berdiri di dekat pintu masuk, sibuk menyapa pasien dengan senyum menawan
yang khas.
Dokter Dita adalah sosok yang tidak pernah gagal menarik
perhatian, baik disengaja maupun tidak. Sebagai seorang dokter yang masih muda,
ia selalu tampil modis, dengan rambut terurai rapi dan sedikit polesan lipstik
merah muda yang menambah kesan manis pada wajahnya.
Namun, di balik penampilan cerianya, ia menyimpan segudang
keraguan tentang kemampuannya sendiri sebagai seorang dokter.
Dita dikenal di antara rekan-rekan sejawat dan perawat karena
sifatnya yang kerap mencari perhatian. Ia memiliki kebiasaan khas—tertawa agak
terlalu keras ketika dokter Vito melontarkan lelucon receh, tentu mencari
perhatiannya atau berbicara dengan suara yang sengaja dibuat lembut saat
meminta bantuan kepada dokter Vito.
Bahkan, tidak jarang ia muncul di ruang pantry dengan alasan sepele, seperti "mencari charger" atau "ingin
konsultasi" hanya untuk mengintip kehadiran dokter Vito yang lagi tidak
jaga santai ngopi di pantry IGD.
Dalam hal keterampilan medis, Dita sering terlihat tidak
terlalu percaya diri. Tindakannya kadang lamban, dengan banyak keraguan atau
terkesan bingung saat menghadapi situasi darurat. Intubasi, misalnya, adalah
salah satu tantangan yang selalu membuat tangannya gemetar, meskipun ia sudah
mencobanya berkali-kali. Namun, Dita bukan tipe yang menyerah. Meski sering
gagal, ia punya tekad untuk memperbaiki diri, meskipun hasilnya belum selalu
terlihat nyata.
Namun, ada sisi lain dari dokter Dita yang membuatnya disukai
banyak perawat dan sejawat dokter. Di antara kecentilannya, dokter Dita
memiliki hati yang tulus.
Ia sering membawakan camilan untuk perawat jaga malam, atau
dengan sabar membantu mereka saat harus mengurus pasien yang berjubel.
Kebaikan hati itu pula yang membuat banyak perawat tetap
mendukungnya, meskipun mereka tahu dokter Dita kadang lebih sibuk merapikan
rambutnya daripada memikirkan diagnosis pasien.
Di dalam hatinya, Dita menyimpan perasaan kagum yang
bercampur dengan cinta buta terhadap dokter Vito. Baginya, Vito adalah sosok
sempurna, tampan, kaya, dan penuh percaya diri. Meski Dita tahu Vito sering
menggoda banyak orang, ia tetap berharap suatu saat perhatian Vito akan
sepenuhnya menjadi miliknya.
Namun, ada kalanya Dita merasakan kekosongan di tengah semua
perhatian yang ia cari. Ketika berada sendirian di ruang jaga, ia sering
merenungkan perjalanan hidupnya, bertanya-tanya apakah ia benar-benar layak
menjadi dokter. Meski begitu, ia selalu berusaha menyembunyikan rasa insecure-nya di balik senyum cerah yang
ia pasang setiap hari.
Dita adalah gambaran nyata bahwa menjadi dokter bukan hanya
soal ilmu dan keterampilan, tetapi juga perjalanan panjang untuk memahami diri
sendiri. Di balik segala kelemahan dan kecentilannya, ia adalah seorang wanita
muda yang masih mencari tempatnya di dunia yang keras ini, sambil berusaha
menjaga hatinya tetap baik kepada orang-orang di sekitarnya.
“Dokter Dita, ada pasien di bed 3. Itu pasien mesti dokter
yang tangani,” ujar perawat Prita. Dia sambil melirik dokter Vito yang belum
pulang setelah sebelumnya ngopi di pantry
dengan nada menggoda. “Oh iya, dokter Vito juga baru selesai mengisi rekam
medis pasien, mungkin bisa diajak konsultasi, tuh.”
Dokter Dita tersenyum kecil, mengabaikan godaan itu. Dia
melangkah ke Bed 3. Seorang pasien pria berusia lima puluhan terbaring dengan
wajah pucat. Napasnya terlihat berat.
“Pasang tensi, ukur saturasi,” perintahnya singkat, tanpa
banyak basa-basi. Perawat segera bergerak, tapi Prita sempat mencibir pelan.
"Tanya dulu keluhannya, Dok. Pasien sesak, napasnya
berbunyi,” lapor Prita kemudian.
Dita mengambil catatan medis. Bukannya memeriksa lebih
lanjut, dia langsung menghubungi dokter Tiara, Dokter Spesialis paru yang biasa
menjadi DPJP pasien.
“Dokter Tiara, mohon ijin ini Dita, dokter jaga IGD, ada
pasien, ini pasien dengan keluhan sesak... Eh, saturasinya...” Dita terbata-bata
mencari angka yang belum sempat dia cek sendiri.
“Apa riwayat penyakitnya? Ada tanda gagal jantung? Berapa
tekanan darahnya?” tanya dokter Tiara di ujung telepon, suaranya tajam dan
tegas.
Dita tergagap. “Sebentar, Dok, saya cek dulu...”
Dokter Tiara menyahut tegas. “Pastikan semua data lengkap
sebelum lapor lagi! Cepat tangani pasiennya, jangan lambat!” Telepon pun
terputus.
Dokter Tiara menghela napas, merasa frustrasi. “Anak-anak IGD
ini, kalau lapor pasien, seharusnya sudah dipersiapkan dengan baik terlebih
dahulu. Data yang lengkap penting, agar saat laporan disampaikan, semuanya
sudah jelas dan tidak ada kebingungan. Kenapa sih, harus seperti ini?”
keluhnya, sambil menganalisis keadaan. Ia tahu, masalah ini bukan hanya di satu
sisi, semua dokter jaga IGD menghadapi tantangan yang sama.
Saat Dita kembali ke sisi pasien, kondisinya semakin
memburuk. Napas pasien tersengal-sengal, dan saturasinya turun drastis.
“Pasang O2, infus cairan segera!” perintah Dita, berusaha
terdengar tegas meski suaranya bergetar.
Prita dan seorang perawat lainnya segera bergerak untuk
melaksanakan instruksi, namun mereka kesulitan menemukan vena pasien.
“Dok, ini sulit sekali,” keluh perawat itu, wajahnya
menunjukkan keputusasaan setelah beberapa kali mencoba memasang IV catheter
tanpa hasil.
Dita menatap alat di tangannya, rasa frustrasi mulai
memuncak. “Kenapa nggak bisa sih? Coba yang benar!” bentaknya, namun saat alat
itu disodorkan kepadanya, ia terpaku, tangannya gemetar. Rasa takut dan ragu
menghantamnya, membuatnya ragu untuk melanjutkan.
Keadaan semakin genting. Saturasi oksigen yang terpasang
terus menurun, kini tampak di layar monitor saturasi oksigen hanya 70% dan
terus merosot hingga akhirnya tak terbaca. Pasien mulai menunjukkan tanda-tanda
henti napas. Dengan cepat, Prita mengambil bag-valve-mask
(BVM) dan mulai melakukan ventilasi.
Tangan dokter Dita gemetar saat melihat kondisi pasien.
Kenapa pasien ini bisa sampai henti napas? pikirnya panik, sambil mencoba
merumuskan langkah selanjutnya dalam kepanikan yang melanda.
“Dok, pasien butuh intubasi segera!” teriak Prita, memecah
kebisuan dan membangkitkan dokter Dita dari kegelisahannya.
“Panggil keluarganya dan berikan informasi dan persetujuan
tindakan” dokter Dita mencoba menenangkan dirinya.
Keluarga pasien terlihat panik, wajah mereka dipenuhi
kecemasan saat melihat kondisi pasien yang kritis. Mereka segera menyetujui
tindakan yang akan dilakukan oleh Tim IGD, berharap semua berjalan lancar.
Dokter Dita kembali mendekat ke pasien, hati dan pikirannya
bergejolak. “Persiapan intubasi, semua sudah siap?” teriaknya dengan suara
tegas namun bergetar.
“Sudah, Dok. Semua sudah ready,” jawab Prita, disusul
anggukan dari perawat lainnya.
Dengan napas yang tercekat, dokter Dita mengambil
laringoskop. Namun, tangannya mulai gemetar hebat, membuatnya kesulitan
mengarahkan alat itu. Usahanya tak membuahkan hasil. “Aduh, nggak bisa... Aku nggak bisa!” gumamnya penuh kekhawatiran,
tatapan matanya penuh kecemasan.
Di tengah kekacauan, dokter Adrian muncul dengan santai.
Tangannya memegang secangkir kopi yang hampir habis. “Ada apa ini? Kenapa
berisik banget?”
“Dok, pasien gagal
napas! Cepat bantu intubasi!” seru Prita.
Dengan tenang, Adrian meletakkan kopinya, mengenakan sarung
tangan, dan mengambil alih situasi. Dalam hitungan detik, ia mengatur
laringoskop, membuka mulut pasien, memasangkan dan memasukkan selang
endotrakeal dengan presisi, lalu memeriksa posisinya dengan stetoskop.
“Bagus. Posisi aman. Sambungkan ke ventilator,” ucapnya
singkat, jelas, dan penuh keyakinan.
Ruangan itu terdiam, semua mata tertuju pada Adrian,
terkesima oleh kecepatan dan ketenangannya. Dokter Adrian adalah sosok yang
memancarkan aura percaya diri setiap kali memasuki ruangan. Langkahnya mantap,
senyumannya lebar, dan nada bicaranya selalu santai, bahkan di tengah krisis
yang paling menegangkan sekalipun. Kehadirannya tak tertandingi, baik karena
keterampilannya yang luar biasa maupun sikapnya yang kadang-kadang tengil,
membuat orang kesal tapi juga kagum.
Sebagai dokter paling senior, Adrian sudah lama akrab dengan
asam garam dunia medis. Tangannya cekatan, pikirannya tajam, dan nalurinya
seperti kompas yang selalu mengarah pada keputusan yang tepat. Ketika orang
lain mulai panik, Adrian tetap tenang, seakan-akan ia adalah dirigen yang
memimpin orkestra di tengah badai. Bagi banyak juniornya, Adrian adalah legenda
hidup, meski legenda itu sering muncul dengan gaya yang membuat gemas.
Tengil adalah sisi Adrian yang sulit diabaikan. Ia sering
melontarkan komentar tajam dengan senyum miring, seolah sengaja ingin menguji
kesabaran orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik semua itu, Adrian adalah
komunikator ulung. Kata-katanya mampu mengubah kekacauan menjadi keteraturan,
meredakan amarah keluarga pasien, atau mengubah suasana ruang jaga yang tegang
menjadi penuh tawa.
Adrian tidak pernah ragu untuk menunjukkan keahliannya di
depan orang lain, terkadang dengan gaya yang sedikit berlebihan. Ketika
melakukan tindakan medis yang sulit, ia kerap membuatnya terlihat seperti hal
paling mudah di dunia. Seolah, dengan satu tangan memasang infus, sementara
tangan lainnya masih memegang cangkir kopi, Adrian memancarkan karisma seorang
dokter yang sudah sangat menguasai bidangnya.
Namun, di balik semua sifatnya yang terkesan arogan, Adrian
adalah mentor yang tanpa disadari sangat peduli. Ia tahu kapan harus mendorong
juniornya hingga ke batas kemampuan, dan kapan harus turun tangan untuk
menghindari bencana. Sering kali, caranya mengajarkan sesuatu terkesan keras,
tapi sebenarnya itulah caranya melindungi.
Adrian adalah paradoks hidup—dokter yang terlihat santai,
tapi selalu membawa beban tanggung jawab yang berat. Ia adalah pemimpin tanpa
mahkota, seseorang yang mungkin membuat orang-orang di sekitarnya kesal, tapi
di saat yang sama menjadi tempat mereka bersandar. Bagi Adrian, tengil adalah
cara bertahan di dunia yang keras, sementara keahliannya adalah senjata yang ia
gunakan untuk memastikan bahwa semua orang tetap hidup, meski badai sekalipun.
“Dokter Dita, pasien ini harus dirawat di ICU. Kamu urus
administrasinya,” kata Adrian, suaranya tenang, tanpa nada mengejek, meski
tatapannya memberikan kesan mendidik.
Dita mengangguk, tubuhnya terasa lemas. Perasaan gagal
menghantui pikirannya.
“Perlu analisa gas adarah nda ya, Mas”
“Wuah, seharusnya diawal tadi, itu syarat klaim BPJS..heheh
tetapi tidak apa, isi saja rekam medis henti nafas yang jelas dan sekarang
saranku ya periksa AGD” Adrian mengingatkan tentang sayarat pasien untuk
mendapatkan klaim asuransi BPJS sesuai dengan peruntukannya.
Setelah pasien dikirim ke ICU dan kondisinya stabil, Dita
duduk sendirian di pantry IGD.
Wajahnya muram, matanya sembab. Ia merasa tak berguna. “Kenapa aku begini? Apa aku
salah memilih jadi dokter?” pikiran dan renungan yang muncul di saat
perasaan galau dirinya.
Prita, yang sejak tadi memperhatikan dari jauh, mendekat
dengan langkah hati-hati. “Dok, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kami
semua pernah salah. Yang penting adalah mau belajar,” ujarnya lembut.
Dita tersenyum kecil, meski hatinya tetap terasa berat.
Tak lama, Adrian masuk ke pantry,
melangkah dengan santai dan duduk di depan Dita. “Dita,” katanya, suara penuh
keyakinan. “Kamu tahu nggak kenapa aku bisa tetap santai?”
Dita menggeleng, penasaran.
“Karena aku sudah gagal berkali-kali. Intubasi pertama, aku
gemetar seperti daun tertiup angin. Infus pertama, pasien malah biru. Itu semua
bagian dari proses, dan kamu baru melewatinya.”
“Tapi aku terlalu sering gagal…” suara Dita nyaris tak
terdengar, penuh keraguan.
Adrian tersenyum, mata penuh pengertian. “Gagal bukan akhir,
Dita. Itu hanya langkah-langkah menuju keberhasilan. Yang penting, kamu terus
maju.”
“Kamu gagal, tapi pasiennya masih hidup. Itu artinya kamu
punya waktu buat jadi lebih baik. Kalau nggak percaya diri, belajar lagi. Kalau
nggak bisa, panggil bantuan. Jangan pernah ragu buat minta tolong.”
Call for help!
“Call for help!”
itu penting loh bagi seorang dokter. Adrian mencoba menenangan dokter Dita.
Ucapan Adrian seperti tamparan lembut. Dita tersenyum, merasa sedikit lebih
baik.
Di dunia medis, "Call
for help" bukan sekadar sebuah langkah prosedural, ia adalah napas
kedua di tengah krisis, sebuah pengakuan jujur bahwa seorang dokter, sehebat apapun,
tetaplah manusia dengan batas kemampuan. Dalam kerumunan kabel monitor yang
berdenting, suara alat ventilator yang berderu, dan tatapan panik dari keluarga
pasien, kalimat sederhana itu bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.
Bagi seorang dokter, meminta bantuan bukanlah tanda
kelemahan, tetapi lambang keberanian. Keberanian untuk menerima bahwa tidak
semua jawaban ada di tangan sendiri.
Dunia ini tidak dirancang untuk dikuasai sendirian. Bahkan
dalam ruang operasi yang sunyi namun penuh ketegangan, ada kekuatan luar biasa
dalam kehadiran orang lain, tim yang berdiri bersama, saling menambal celah,
saling menguatkan.
"Call for help"
adalah pelajaran penting tentang kerendahan hati.
Sebuah pengingat bahwa gelar dan pengalaman tidak pernah
membuat seseorang kebal dari kebutuhan untuk belajar dari orang lain. Bentuk
penghormatan pada hidup itu sendiri, pada nyawa yang menjadi tanggung jawab
dokter, pada janji luhur yang telah diikrarkan sejak awal perjalanan profesi.
“Dalam balutan seragam putih itu, semua ego dan keangkuhan
luruh oleh satu tujuan bersama: menyelamatkan nyawa."
Perlu diingat juga bahwa dokter bukanlah pahlawan yang
berdiri sendiri di atas bukit, melainkan bagian dari rantai besar yang bekerja
bersama, saling menopang untuk satu tujuan yang lebih besar dari sekadar
kebanggaan diri. "Call for help"
adalah suara kecil yang sederhana, tapi membawa kekuatan luar biasa untuk
menyelamatkan dunia, satu pasien dalam satu waktu.
Pembelajaran Hidup!
Malam itu, Dita mulai membuka buku-buku lama yang sudah
berdebu di laci meja kerjanya. Ia tahu, jika ingin menjadi dokter yang lebih
baik, ia harus berusaha lebih keras.
Adrian, yang melintas di lorong, kadang hanya menggelengkan
kepala melihat tingkah junior-juniornya. Ia tersenyum kecil. “Rumah sakit ini memang penuh drama,”
gumamnya sambil menyeruput kopi terakhirnya itu.
=gn=
Komentar(0)
Tinggalkan komentar