on 04 Februari 2022, 17:50
  • #elektrolitimbalance

GANGGUAN ELEKTROLIT NATRIUM

Igun Winarno / Nabila Sulistyawati,

Natrium ialah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, jumlahnya bisa mencapai 60 mmol/kgBB dan sebagian kecil (sekitar 10-14 mmol/L) berada dalam cairan intrasel. Tubuh manusia mempertahankan homeostasis natrium dan air dengan mengkonsentrasikan urin terhadap aksi hormon antidiuretik (ADH) dan meningkatkan asupan cairan melalui respons rasa haus yang kuat. Dalam keadaan normal, ekskresi natrium pada ginjal diatur sehingga keseimbangan dipertahankan antara asupan dan pengeluaran dengan volume cairan ekstrasel tetap stabil. Lebih dari 90% tekanan osmotik di cairan ekstrasel ditentukan oleh garam, khususnya dalam bentuk natrium klorida (NaCl) dan natrium bikarbonat (NaHCO3) sehingga perubahan tekanan osmotik pada cairan ekstrasel menggambarkan perubahan konsentrasi natrium. Perbedaan kadar natrium dalam cairan ekstrasel dan intrasel disebabkan oleh adanya transpor aktif dari natrium keluar sel yang bertukar dengan masuknya kalium ke dalam sel (pompa Na+ K+). Kadar natrium normal dalam tubuh ialah 135-145 mmol/L. Setiap hari natrium diekskresi yaitu sekitar 10-20 mmol lewat keringat dan feses, tetapi sebagian besar diekskresi lewat ginjal melalui peningkatan filtrasi, penurunan reabsorbsi natrium, atau kombinasi keduanya yang diatur oleh sistem saraf simpatik dan renin-angiotensin-aldosterone-system (RAAS).

Ketidakseimbangan kadar natrium serum dapat menyebabkan hiponatremia ataupun hipernatremia. Hipernatremia didefinisikan sebagai konsentrasi natrium serum lebih dari 145 meq/l. Hipernatremia akan bertahan bila terjadi gangguan respons haus atau kurangnya asupan cairan. Gangguan respons haus terutama diamati pada pasien dengan status fisik dan mental buruk, sehingga tidak dapat minum air cukup untuk mengimbangi kehilangan cairan, atau bayi yang tidak dapat meminta minum air sendiri. Selain itu, bertambahnya usia dikaitkan dengan berkurangnya stimulasi osmotik rasa haus, sehingga kejadian hipernatremia lebih banyak di kalangan lanjut usia.  Kebanyakan pasien hipernatremia datang dengan gejala yang menunjukkan kehilangan cairan dan tanda-tanda klinis dehidrasi. Gejala dan tanda hypernatremia terdiri dari gejala neurologis (misalnya lesu, lemas, mudah marah, kejang, bahkan koma), tanda ekspansi volume (misalnya edema perifer dan/ atau paru) dan penurunan volume (misalnya hipotensi postural, takikardia, penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, tekanan vena jugularis <5 cmH2O). Tujuan terapi adalah untuk mengoreksi baik natrium serum dan volume intravaskular. Cairan harus diberikan secara oral atau melalui selang makanan bila memungkinkan. Pada pasien dengan dehidrasi berat atau syok, langkah awal adalah resusitasi cairan dengan cairan isotonik sebelum koreksi air bebas. Hipernatremia dikoreksi dengan menghitung defisit air bebas menggunakan rumus berikut:

Total Body Water

[0.6 in men and 0.5 in women x body weight(kg)] x [(plasma sodium/140) -1]

Penurunan kadar natrium serum yang disarankan adalah <8–10 mEq/L/hari, karena koreksi yang lebih cepat meningkatkan risiko edema serebri. Khusus pada kasus hipernatremia akut yang simtomatik diperlukan koreksi lebih agresif, yaitu 1 mEq/L/jam untuk 6-8 jam pertama. Tujuannya untuk mencegah dehidrasi sel, perdarahan intraserebral atau subarachnoid atau sindrom demielinasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis cairan yang tepat. Apabila pasien hipervolemik atau euvolemik, maka cairan yang diberikan adalah cairan hipotonik seperti NaCl 0,45% atau Dekstrosa 5%.8  Khusus untuk pasien hipovolemik, cairan yang diberikan adalah cairan isotonik (NaCl 0,9%) terlebih dahulu hingga volume cairan tercukupi (dilihat dari tanda dehidrasi dan tekanan darah) kemudian diganti menjadi cairan hipotonik jika setelah pemeriksaan ulang masih didapati hypernatremia. Selain itu, terapi berupa penghentian faktor pencetus dan pemberian air saja. Dalam kasus intoksikasi natrium, memerlukan penggunaan diuretik loop dan, kadang-kadang, dialisis peritoneal untuk menghilangkan kelebihan natrium.

Hiponatremia didefinisikan sebagai konsentrasi natrium serum kurang dari 135 mEq/L yang disebabkan oleh kelebihan air tubuh total jika dibandingkan dengan kandungan natrium tubuh total. Hiponatremia diklasifikasikan menurut status volume, hiponatremia hipovolemik: penurunan total air tubuh dengan penurunan yang lebih besar dalam natrium tubuh total, hiponatremia euvolemik: natrium tubuh normal dengan peningkatan total air tubuh, hiponatremia hipervolemik: peningkatan natrium tubuh total dengan peningkatan air tubuh total yang lebih besar. Gejala pada pasien hiponatremia mulai dari mual dan malaise, dengan sedikit penurunan natrium serum, hingga kelesuan, penurunan tingkat kesadaran, sakit kepala, dan (jika parah) kejang dan koma. Gejala neurologis yang jelas paling sering disebabkan oleh kadar natrium serum yang sangat rendah (biasanya <115 mEq/L), yang mengakibatkan perpindahan cairan osmotik intraserebral dan edema otak. Ada tiga tes laboratorium penting dalam evaluasi pasien dengan hiponatremia: osmolalitas urin, osmolalitas serum, dan konsentrasi natrium urin.

Pengobatan hiponatremia tergantung pada derajat hiponatremia, durasi hiponatremia, keparahan gejala, dan status volume. Hiponatremia dengan gejala berat: Berikan 3% natrium klorida; 100 mL intravena (IV) bolus (ulangi hingga dua kali jika gejalanya menetap). Hiponatremia simtomatik ringan sampai sedang: Natrium klorida 3%, infus lambat (gunakan rumus defisit natrium untuk menghitung laju infus tetapi hitung ulang laju dengan pemantauan natrium yang sering). Hiponatremia hipovolemik: Pemberian cairan isotonik dan pemberian diuretik apa pun. Hiponatremia hipervolemik: Obati kondisi yang mendasarinya, batasi garam dan cairan, dan berikan diuretik loop. Hiponatremia euvolemik: Pembatasan cairan kurang dari 1 liter per hari. Koreksi natrium tidak lebih dari 10 mEq/L sampai 12 mEq/L dalam periode 24 jam. Koreksi hiponatremia kronis yang cepat (lebih dari 10 mEq/L sampai 12 mEq/L natrium dalam 24 jam) dapat menyebabkan sindrom demielinasi osmotik. Jika tidak diobati atau diobati secara tidak memadai, pasien dengan hiponatremia dapat mengalami rhabdomyolysis, perubahan status mental, kejang, dan bahkan koma.

DAFTAR PUSTAKA

Johan, M. 2021. Evaluasi dan Tatalaksana Hipernatremia. CDK-295. Vol. 48 (6).

Rambert,G.I. 2014. Gangguan Keseimbangan Air Dan Natrium Serta Pemeriksaan Osmolalitas. Jurnal Biomedik. Vol. 6 (3).

Rondon, H., Badireddy, M. 2021. Hyponatremia. Statpearls. Access: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470386/

Simon, E. 2021. Hyponatremia. Medscape. Access: https://emedicine.medscape.com/article/242166-overview

Sonani, B., Naganathan, S., Al-Dhahir, M. 2021. Hypernatremia. Statpearls. Access: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441960/

Tambajong, R.Y., Rambert, G.I., Wowor, M. F. 2016. Gambaran Kadar Natrium dan Klorida pada Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik Stadium 5 Non-Dialisis. Jurnal e-Biomedik (eBm). Vol.4 (1).

Yusri, F.Y., Amalia, L., Lisni, I. 2018. Studi Penggunaan Obat Untuk Menangani Gangguan Natrium Dan Kalium Pasien Penyakit Ginjal Terminal di RS Muhammadiyah Bandung. Jurnal Sains Farmasi & Klinis. Vol. 5 (3).

Komentar(5)

Dillon on 2023-11-18 00:20:38

Appreciate the recommendation. Will try it out.

Eusebia on 2023-11-19 03:57:37

Pretty! This has been an incredibly wonderful post. Thanks for supplying this information.

Josette on 2023-11-23 12:16:13

My family members all the time say that I am killing my time here at net, except I know I am getting knowledge everyday by reading such nice posts.

Gena on 2023-11-24 15:31:31

Howdy! I simply would like to give you a huge thumbs up for your great info you have right here on this post. I will be returning to your web site for more soon.

Cedric on 2023-11-26 21:09:40

Your way of telling all in this piece of writing is in fact fastidious, all be able to without difficulty understand it, Thanks a lot.

Tinggalkan komentar