DVT PROPILAKSIS SEBUAH KENANGAN
DVT profilaksis, kita kenal sebagai usaha untuk mencegah proses pembentukan tormbosis di dalam vena. Kita tahu DVT mempunyai resiko yang besar apabila lepas dan mengakibatkan terjadinya emboli pada arteri pulmonalis ataupun cabang-cabangnya, kondisi ini pun bisa mengancam jiwa penderitanya.
Faktor pemicu banyak disebutkan karena serangkaian trias Virchow, stasis vena yang dipicu faktor immobilisasi, faktor cendera endotel, dan hiperkoagulasi mempunyai peranan yang penting dalam proses terjadinya DVT.
Bisa dicegah ? Inilah beliau, guru kita, orang tua kita,
dr. Jati Listiyanto Pujo, Sp.An, KIC, KAP,
melalui perjalanan yang tidak mudah, terus berjuang, mengajarkan kepada kami, bagaimana DVT Profilaksis dilakukan.
Proses di awal banyak sejawat yang menyangsikan heparin, beliau selalu tabah dan gigih terus berjuang, “Ingat yah....salah satu musuh kita ada di emboli” iyu yang beliau katakan di suatu waktu, sekarang .....dimasa pandemi heparin mempunyai arti !!!
Seorang Murid Sang Guru begitu terkesan :
Kisah balik cerita, suatu waktu di dalam kamar operasi, terasa begitu tegang, kata orang sih, itu memang sudah sewajarnya terjadi dalam keseharian diri seorang residen merasakan ini, tetapi ini memang bukan kondisi biasa, saat itu empati dia juga bermain. Sudah wajar dong, pasien sepsis akan dilakukan laparotomi, komorbid begitu banyak.
Sang Guru dengan perasaan dan pengalamannya mengatakan, “Mas menjadi seorang dokter anestesi itu modalitas utama harus tenang, yakin tetapi jangan lupakan doa.” Sang Guru pun tersenyum. Senyuman ini membuat hati Dia sedikit tenang.
Operasi pun terus berjalan, dengan kewaspadaan Dasa Netra, terus memonitor pasiennya, semua bekerja, melihat, mendengar, merasakan. Sang Guru hanya tersenyum yang menjadi ciri khas nya. Kondisi yang membuat si Residen cemas mulai terasa, ketika mulai terdengar bunyi dut—dut—dut—yang melambat, terlihat dimonitor tampak mengalami desaturasi, kondisi bahaya mengancam, itu menurut Dia dan memang benar adanya. Segala langkah dilakukan, dimulai dengan pengecekan alat, koneksi dan hemodinamik yang tidak ditemukan masalah, manipulasi ventilasi manual pun dilakukan, kondisi tetap sama. Sang Guru datang, “Kenapa Mas” dengan ketenangannya menanyakan kondisi pasien. “Desaturasi dokter, semua sudah dilakukan pengecekan tidak ada masalah” dengan wajah cemas melaporkan kondisi pasien. “Coba kamu berikan heparin Mas” masih dengan wajah tenang nya. Sesuatu perubahan terjadi, si residen begitu terkesan, perbaikan pasien telah membuat dia tersenyum mendapatkan pelajaran berharga, itulah kesan Dia, lelaki Sang Pembius Pulau Borneo.
Lain cerita, Sang Pembius pulau Borneo lain cerita Dia.
Cerita ini mengenai ketabahan Sang Guru, akan keteguhan ilmu dan niat mulia untuk menyelamatkan pasien nya. Begitu banyak murid Sang Guru, yang pasti teringat bagaimana beliau di ICU. Dia pun mendengar sayup berita yang dibawa angin, karena tembok pun kadang bisa berbicara. Underestimate program heparinisasi pasien ICU, kadang kami miris selaku murid Sang Guru, tetapi apa, beliapun berkata, “Tidak apa-apa, kita hanya berusaha memberikan yang terbaik buat pasien kita” , tetap sabar mengajarkan keteguhan, dan kerendahan hatinya. Beliapun menambahkan “Kalian itu harus yakin bahwa kesembuhan pasien itu Allah yang menentukan, sehinggakalau pasien kamu kenapa-kenapa tidak merasa gagal dalam merawat pasien mu, yang bisa kita lakukan hanya berusaha sebaik mungkin, makanya jadi dokter itu ya terus belajar...” sungguh petuah yang yang begitu mendalam.
Lain cerita lagi mengenai Sang Guru,
Cerita ini datang dari seorang pembius wanita yang terkenal dengan keceriannya dari ujung perbatasan tengah dan timur jawa. Kata dia, “Beliau ini begitu khas, wajah cerianya dan ketawanya beliau, selalu akan aku kenang” itu yang dikatakannya. Cuman itu ? tidak !! Ternyata masih ada kisah yang cukup menggelitik dan membungkus keceriaan dia.
Kesederhanaan Sang Guru membawa sebuah cerita dan pelita. "Dik.... bisa minta tolong pindahin mobil saya", dengan wajah mantap hanya satu kalimat yang sudah pasti terucap, "Siap Dokter,", begitu akan bergerak menjalankan tugasnya, dengan sedikit nakal bertanya, "Mobil yang mana ya dok", dengan tersenyum karena tahu digoda, beliupun menjawab, "Kamu sudah tahulah..." dengan sambil sambil tersenyum. Eh dia masih iseng saja bertanya...."Dok, kok mobilnya tidak ganti-ganti sih dok?",
Beliau kaget dengan pertanyaan itu ? Atau marah ? Tidak ! Beliau masih tersenyum. "Asal kamu tahu ya dik, kalau mobil saya terlalu bagus, maka tetangga saya tidak akan berani pinjam" seketika kenakalan dia langsung hilang, Dia hanya bisa mematung, terbengong dan hilang segala seribu keceriaan nya, kemudian berjalan menuju parkiran mobil, yang sudah mulai sepi di sore menjelang maghrib.
Dan waktu terus berjalan membawa kisah.
Sinar mentari pagi terasa tidak indah lagi,
kala mendengar kabar Sang Guru salah satu korban pandemi,
berita berantai dengan awalan innalillahi,
Sebuah pengakuan Qalam illahi
Yang berlanjut kepada Mu lah kami kembali.
Pandemi itu telah membawa kisah Sang Guru
Kesederhanaan, kelembutan, ketabahan yang layak untuk di tiru
Kami ini hanya murid Sang Guru
Yang tak akan lelah untuk mendoakan mu.
Selamat jalan tersenyumlah untuk menghadap Tuan Mu.
Kisah seperti ini pasti banyak tertanam di sanubari mu dan kita. Marilah tulis dengan indah yang berujung doa untuk beliau, Sang Guru Kita.
Mohon ijinkan saya yang rendah ini untuk membacakan doa untuk beliau.
Rabu, 13 Januari 2021 pukul 02.55 WIB di ruang ICU RSUP dr. Kariadi.
By Goens’GN’
Komentar(0)
Tinggalkan komentar