on 16 Februari 2022, 18:56
  • #ceritaku #pandemimembawapergi

DIA YANG TELAH PERGI

Para dokter muda stase anestesi, kebingungan melihat dokter Wignyo yang tiba-tiba terdiam lumayan lama, mereka hanya menunggu.

“Maaf ya de, saya terbawa hati teirngat kejadian di bulan Juli, yang begitu krodit, melelahkan dan banyak orang-orang yang disekitar kita pergi di masa pandemik ini.”

Pertemuan diskusi untuk sementara dihentikan, Dokter Wignyo kemudian pergi mengambil air wudhu, dan segera sholat shunah dua rokaat, dilanjutkan dengan duduk tafakur mendoakan, orang-orang yang telah pergi, yang telah baik kepada dirinya, masih ada orang-orang yang telah memberikan arti dalam kehidupannya, ikutan pergi di bulan puncak pandemik itu.

Mamah, ikutan meninggalkan kita, beliau memberikan kesan tersendiri bagi dokter Wignyo. Dahulu saat memasuki kota Jakarta, dia bersama Damar, istri tercinta merupakan pasangan yang baru menikah, Wignyo muda merupakan orang dari keluarga yang tidak kaya, miskin juga tidak, saat pertama kali sebagai dokter di Jakarta, sudah dalam keadaan kolaps, uang benar-benar tidak punya, tabungan Damar pun sudah bersih, dengan perasaan galau, akhirnya Damar meminjam uang kepada Mamah atas permintaan Wignyo untuk memulai kehidupan baru mereka di Jakarta.

Inilah modal awal untuk hari itu, lumayanlah bisa untuk makan diluar dan modal naik mikrolet menuju tempat kerja, kami sudah berjanji waktu tiga hari akan kami kembalikan. Rezeki tidak jauh kemana, dalam waktu tiga hari itu, mereka berdua mendapatkan uang tiga kali lipat dari apa yang dipinjamkan oleh Mamah, dari bekerja di sebuah klinik 24 jam di Jakarta.

Sesuai dengan niat di awal, dikembalikanlah pinjaman itu kepada Mamah, tetapi dengan kebaikannya, uang itu diikrarkan untuk mereka berdua saja. Itu kebaikan cerita Mamah, disamping beliaulah yang menyayangi mereka berdua disaat-saat mengalami kesulitan sebagai keluarga kecil baru disaat kedatangan lelaki kecil mereka.

Sore itu, tiba-tiba Damar memberikan kabar kepada dokter Wignyo.

“Yah, Mamah dalam kondisi tidak baik, empat hari ini tidak mau makan, mengalami sesak dan saturasinya dibawah Sembilan puluh,”

Kaget dan cemas, jangan-jangan Covid-19, kami mendatangkan tenaga kesehatan kerumah, karena Mamah sebenarnya, sudah menggunakan kursi roda sejak lama setelah terkena stroke 5 tahun yang lalu, antigen ternyata negatif, tetapi kami tetap cemas, saat itu masih dalam pembatasan yang ketat untuk bepergian berbagai syarat yang menyulitkan. Malam itu di jam sepuluh,  mendapatkan telepon dari Damar istrinya, hatinya sudah mulai kacau dan membayangkan berita buruk.

“Yah, kita harus segera ke Jakarta” jelas terdengar suara isak tangis istrinya.

“Kenapa Bunda, apa yang terjadi dengan Mamah”

“Mamah telah pergi beberapa menit yang lalu”

“Innalillahi wa innailaihi roji”un” mereka berdua hanya diam tidak bisa berkata-kata.

“Ya sudah Bunda siapin semuanya, kita berangkat, ayah pulang langsung berangkat”

Kondisi ini sebenarnya benar-benar sedang krodit, baik kota Jakarta dan wilayah pulau Jawa, juga keluarga Damar di Jakarta. Disaat Mamah meninggal, adik kesayangan istri dokter Wignyo,  Aditya dan istrinya saat itu juga sedang terkena infeksi Covid-19

Seminggu sebelum mamah meninggal, Elize istri Aditya positif PCR, setelah mendapatkan resep dari dokter Damar, Aditya begitu repot mencarikan obat-obatan ke berbagai apotek di Jakarta untuk istrinya, saat itu sedang terjadi kekosongan obat-obatan covid-19 di berbagai apotek. Elize isolasi mandiri, mungkin karena kecapaian sehingga imunitas menurun, dua hari kemudian Aditya pun mengalami kondisi yang sama, swab PCR positif juga, secara cepat kondisi Aditya memburuk, Elize begitu panik dengan kondisi ini, demikian juga Damar yang mencemaskan kondisi adik kesayangannya, malam itu mendapatkan kabar semua rumah sakit di Jakarta dalam kondisi penuh, antrian menumpuk di IGD dan lorong-lorong IGD itu yang ada di berita online, berbagai usaha telah dilakukan keluarga di Jakarta,

“Ayah, tolong kondisi Aditya memburuk, sepertinya harus mendapatkan perawatan rumah sakit, saturasi saat ini cuman 80, orang Jakarta sudah mencari rumah sakit belum mendapatkannya, Ayah tolong bantuin, siapa tahu ada teman anestesi yang bisa bantu” demikian kabar yang disampaikan oleh Damar istri kesayangannya.

Dokter Wignyo segera menghubungi beberapa teman dokter anestesi diwilayah Jakarta dan sekitarnya, mereka semua hanya bisa menjanjikan jika ada akan segera menghungi, dan merekapun mencarikan info ke berbagai tempat bila ada yang kosong.

“Wignyo, adikmu tinggalnya dimana” tiba-tiba mendapatkan telepon dari teman seangkatan di kedokteran yang kebetulan sekarang telah menjadi direktur rumah sakit, dia mengabarkan bahwa di rumah sakitnya ada satu kosong, mereka sangat bahagia, waktu pemesanan hanya tiga puluh menit, bila tidak datang akan dipakai orang lain, heboh dan segera membawa Aditya ke rumah sakit..

Mereka merasakan sebagian beban berat telah teratasi, Aditya beberapa hari dalam perawatan sudah mengalami perbaikan, disaat Mamah meninggal, Aditya sebagai anak yang paling disayang masih berada di rumah sakit, tetapi akhirnya mengetahui juga setelah salah seorang saudara jauh menanyakan kondisi Mamah kepadanya, diapun mulai cemas, gelisah ingin menemuinya, saat itulah kemungkinan besar kondisi imunitas dia menurun dratis, tidak beberapa lama kemudian Tuhan juga memanggilnya, area pemakaman Rorotan menjadi tempat terakhir dia.

Aditya seorang lelaki yang begitu baik kepada semua orang, lelaki yang selalu mengesampingkan dirinya demi untuk menolong orang lain telah pergi meninggalkan kita.

“Mba Damar, Aditya telah pergi meninggalkan Elize” dengan menangis sesenggukan menghubungi dokter Damar, dia sudah mengetahui kepergian Aditya sebelumnya, mereka berdua sama-sama sedih dan kehilangan.

“Iya Elize, Mba juga sangat kehilangan dia, menyesal seolah tidak bisa memberikan yang terbaik untuk dia, Maafkan Mba”

Sama dengan suara sesenggukan mereka berdua di dalam telepon.

“Ayah kita harus ke Jakarta lagi”

“Iya Bund, yang sabar yah, kita ke Jakarta sekarang”

Merekapun berangkat ke Jakarta untuk yang kedua dalam waktu duaminggu, Damar selalu memangis sepanjang perjalanan, duka ini begitu dalam, masih belum siap menerima kepergiannya, Aditya yang selalu ceria, Aditya yang selalu memberikan kejutan-kejutan, Aditya yang selalu di kucel-kucel rambutnya kalau pas ketemu di Jakarta. Kini telah pergi, tetapi hati dokter Damar masih selalu terbayang sampai detik ini, kadang kalua sedang bercerita, tiba-tiba menagis meneteskan air matanya. Dokter Damar juga belum siap menerima pertanyaan tentang dia, kini lebih menutup diri untuk bercerita kepada orang lain.

Dokter Wignyo tersenyum setelah menceritakan dia yang telah pergi, satu hal yang dia ingini dari anak didiknya para co ass, hanya sekedar jadilah orang yang bisa menghargai perjuangan dan orang-orang disekitarnya.

“Ayo kita lanjutkan kembali, mengenai ARDS pada pasien Covid-19, ini pertanyaanmu tadi khan Dita ?”,  Dita mengangguk, Mereka siap mendengarkan kembali bimbingan mengenai ARDS yang sempat tertunda.

“Jadi penyakit ARDS pada covid ini lebih banyak karena faktor diffusinya yang terganggu, sehingga mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan hipoksia. ARDS ini juga bisa dilihat dari ratio tekanan oksigen pada artei atau PaO2 dan Fraksi Oksigen yang diberikan, dimana bila hasilnya lebih dari 300 maka dikatan normal, antara 300 dan 200, dikatakan ringan, 200-100 dikatakan sedang, dan kurang dari 100 itu berat dan biasanya mempunyai prognosis kematian yang tinggi. Oh ya untuk kalian mengerti salah satu sarat untuk mendiagnosis ARDS adalah disingkirkannya jantung sebagai faktor pemicu.”

Bowo tampak menguap, dokter Wignyo hanya tersenyum melihatnya. Bowo habis jaga malam, ada operasi laparotomi jam dua malam sampai empat pagi, sesorang yang mengalami kecelakaan dan perdarahan intraabdominal, perutnya semakin membesar dan tensinya semakin menurun, pasien sudah mulai mengalami kompartemen abdomen.

“Bowo yang jaga semalam, kan”

“Saya dokter,!” Bowo langsung membelalakan matanya seperti lampu neon LED 40 watt, langsung terang dan menyilaukan.

“Oh, kamu Wo, ya sudah, bagaimana pasiennnya biar yang lain tahu”

“Semalam dibius dengan GETA, ditemukan ruptur lien dokter, saat ini pasien di ICU dengan terpasang ventilator.”

Lumayanlah, Bowo bisa melaporkan pasiennya dengan baik.

Mengingat kasus ini, mengingat pula yang disampaikan Ibn ‘Athailah didalam Al Hikam bahwa sehebat apapun kepintaran dan usaha yang telah kita lakukan, tidak akan berguna apa-apa selama kehendak Allah berbeda dengan kehendak kita, janganlah segala sesuatu hanya menggantungkan kepada dirinya sendiri, sebuah kegagalan atau musibah, janganlah bersedih terlalu dalam sedangkan sebuah keberhasilan dan kesuksesan janganlah menjadikan sombong dan besar kepala, karena sejatinya semua dari Allah semata, berdoa dan bersyukur itu jalan terbaik.

(catatan yang terpinggirkan : RJ)

by goens GN

Komentar(5)

Lilia on 2023-11-24 19:29:07

This post is actually a fastidious one it helps new net people, who are wishing in favor of blogging.

Cortez on 2023-11-25 05:07:45

Wow, this post is good, my younger sister is analyzing these kinds of things, therefore I am going to tell her.

Tabitha on 2023-11-25 12:32:46

Article writing is also a fun, if you know then you can write or else it is complicated to write.

Tiffiny on 2023-11-26 17:20:52

Appreciation to my father who shared with me on the topic of this weblog, this website is actually remarkable.

Christoper on 2023-11-30 23:22:43

Hurrah! After all I got a webpage from where I can really obtain useful facts concerning my study and knowledge.

Tinggalkan komentar