DIA YANG TELAH PERGI
“Sayang, sedang apa kamu”
Oh, ternyata sebuah bayangan, sebuah kerinduan, mimpi dia kembali yang tidak akan pernah terwujud, banyak penyesalan, masih banyak yang belum aku lakukan untukmu, tetapi hanya sebuah penyesalan, aku bersukur masih bisa tersenyum, bahagia karena aku pernah mengenalmu dan bisa bersamamu.
Kembali dia duduk, disebuah café ditemani secangkir kopi americano, kopi yang dulu menjadi kesukaan Aditya, dia memandang foto kenangan yang ada di handphone.
Diapun meneteskan air mata kembali, mengapa dulu bukan aku, mengapa dulu kita tidak bersama pergi, ternyata Tuhan lebih menyayangimu.
Tidak terasa malam telah larut, Dia masih memandangi handphonenya, kadang Diapun tersenyum sendiri.
“Maaf Mba, kita sudah mau tutup”
Diapun kaget, “Maaf ya Mba, dulu saya sering duduk disini dengan Dia, tetapi kini dia telah pergi, pandemic ini telah membawanya kembali” sambil mengusap bilur airmata di pipinya. Waiter di café itu hanya tersenyum, dia berdua memang pelanggan café setia. Itulah Elize yang kehilangan suaminya Aditya di masa pandemik ini.
Banyak cerita yang mengisi kisah tentang pandemi, termasuk dokter Wignyo.
Siang itu Dokter Wignyo tiba-tiba terdiam di saat bimbingan microteaching co ass dilakukan, semua karena pertanyaan Dika tentang ARDS.
“Dok, ARDS momok utama di dalam Covid-19, itu saya baca artikel di sebuah berita online, maksudnya apa ya dok ?” itu yang ditanyakan Dika, Dokter Wignyo mendengar pertanyaan ini tidak terlalu menanggapinya, tiba-tiba dia teringat beberapa bulan lalu saat pandemik ini sedang dalam masa puncaknya, di bulan Juli, begitu mengerikan, banyak yang harus dikorbankan.
Pemerintah sudah mulai kewalahan, berbagai strategi untuk mencegah penyebaran penyakit covid 19 telah dilakukan, mulai pembatasan penerbangan, dengan berbagai syarat dan ketentuan, yang sudah pasti akan mempersulit orang bepergian, memperlakukan travel warning untuk beberapa negara sampai pembatasan warga asing masuk dengan begitu kuat. Ya walaupun masih ada saja yang lolos, dan inilah oknum yang banyak berkeliaran disekitar kita, hanya mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi atau golongannya, menyebalkan bukan ?
Pembatasan di kalangan masyarakat juga sudah diterapkan dengan berbagai nama yang cukup membingungkan bagi masyarakat, diantaranya PSBB, merupakan pembatasan sosial berskala besar, penduduk dalam suatu wilayah dibatasi pergerakannya meliputi menghentikan orang-orang yang berkumpul ramai, termasuk perayaan beribadah, pembatasan fasilitas umum, meliburkan kegiatan sekolah, meliburkan tempat kerja.
Kegiatan PSBB ini merupakan kegiatan atas usulan dari daerah kepada pemerintah pusat, karena dalam pelaksanaannya tidak ada keseragaman dan dianggap kurang efektif, maka pelaksanaan dievaluasi dan kemudian diganti menjadi PPKM, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat.
PPKM ini kegiatannya dilaksanakan oleh pemerintah pusat, mulai dari PPKM jilid pertama, kedua, seperti buku, kemudian menjadi PPKM berbasis mikro, PPKM darurat, pemberlakukan PPKM ini karena kejadian saat itu sedang tinggi-tingginya mencapai limapuluh enam ribu lebih harian dipertengahan bulan Juli, dengan sistem ini pemerintah menargetkan menurunkan sampai angka dibawah sepuluh ribu perhari. Sistem ini begitu ketat dengan pembatasan disegala bidang serta ada pelevelan, seperti makan ayam geprek dengan tingkatan level satu sampai empat.
Kebingungan dan kegundahan dokter Wignyo dan masyarakat pada umumnya semakin kacau dengan berita maupun membaca berita online mengenai kenaikan angka kejadian covid 19 yang terus naik, meroket begitu tajam, bagaikan sebuah pesawat yang sedang melakukan akrobatik tiba-tiba terbang naik ke angkasa, ini bisa dilihat pada angka harian dipertengahan bulan Juli sampai diatas 56 ribu kasus, sungguh jumlah yang sangat besar. Jakarta sampai membuat beberapa area pemakaman baru, termasuk didaerah Rorotan.
Tidak kalah menegangkan suasana suara sirine mobil ambulance yang hilir mudik mengantar pasien-pasien ke rumah sakit maupun yang membawa jenazah meninggal dari rumah sakit menuju area pemakaman. Cukup membuat hati was-was terhadap diri kita sendiri dan orang-orang sekitar kita yang kita sayangi.
Malam itu sekitar jam delapan malam, pintu rumahnya di gedor orang, suara bel berbunyi yang kebetulan gerbang rumah belum terkunci sehingga orang masih bisa masuk.
"Assalamualaikum " demikian panggilan dari balik pintu.
Dokter Wignyo segera menuju pintu, hendak menemui orang diluar, tidak lupa memakai masker dua lapis dengan menutupi hidung dan mulutnya.
"Maaf mengganggu Om" ternyata salah seorang anak perempuan sepupu dari Ibu. Dia ditemani oleh seorang lelaki, dokter Wignyo tidak mengenalinya, keduanya mengenakan masker dan sudah mengerti prokes berjaga jarak, hanya berada dihalaman depan rumah, berjarak lebih dari dua meter.
"Kamu Rina, malam-malam begini ada apa ?"
Melihat kecemasan diwajahnya, dokter Wignyo sudah menebak, mengenai kemungkinan Ibunya dalam kondisi buruk, soalnya dokter Damar, istri dokter Wignyo sudah menceritakan melalui berita whatsapp sebelumnya, kemungkinan Ibunya dia terkena Covid-19, sebelumnya dia periksa di praktek pribadi dokter Damar.
"Mamah Om dokter, sejak pagi sesak, sebenarnya tadi pagi sudah berobat ke dokter Damar, sama tante disuruh ke puskesmas saja atau kerumah sakit, Mamah minta ke puskesmas dulu, tadi di puskesmas di cek antigen positif dok, saat ini Mamah sesak sekali, saturasinya hanya 60"
Dokter Wignyo pun sangat bingung harus bagaimana saya, baru lima menit yang lalu, telah memberikan persetujuan pasien untuk masuk ICU. Hati kecilnya bertentangan, tidak mungkin membatalkan pasien yang sudah pesan ICU duluan demi saudaranya. Saat itu ICU full, rumah sakit full dan IGD juga mengalami overload pasien.
"De, mohon maaf saya baru saja menyetujui pasien masuk ICU, padahal itu hanya tinggal satu-satunya yang tersedia, tetapi Mamahmu itu harus segera dibawa ke rumah sakit, coba bawa saja ke IGD"
"Iya dok, tadi sudah menghubungi rumah sakit dan saat ini IGD juga penuh sampai ke halaman IGD"
Mendesah dan menarik nafas dalam karena sebenarnya diapun sudah mengetahuinya, karena di group whatsapp pelayanan selalu disampaikan update pasien setiap empat jam.
"Sudah segera bawa saja ke IGD"
Malam itupun dibawa ke IGD dimana dokter Wignyo bekerja. Disana memang sedang penuh dan diapun tidak bisa apa-apa membantu saudaranya. Dari IGD dia mendapatkan laporan dokter jaga bahwa sudah mendapatkan perawatan dan saat ini sudah didaftarkan atrian di ICU. Pagi itu 6 jam setelah perawatan di IGD, mendapatkan telepon.
"Om dokter, bagaimana ini Mamah, memanggil-manggil terus om dokter, bagaimana baiknya ya dok"
"Dokter, untuk sementara dokter jangan ke IGD dulu, disana saat ini sedang dalam keadaan krodit, sangat berbahaya, dan kitapun disana juga tidak bisa berbuat apa-apa" Salah seorang perawat ICU memberikan saran. Dokter Wignyo menimbang.
Tidak beberapa lama setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien di ICU, teleponnya kembali bergetar dari nomer telepon dokter jaga IGD, ternyata mengabarkan bahwa saudaranya telah dinyatakan meninggal. Lemas rasanya dan langsung duduk di pantry nurse station. Kabar buruk terus berlanjut, tidak beberapa lama ada telepon masuk juga dari nomer keluarga diseberang pulau, mengabarkan berita adik dari Ibunya sedang sakit, saat ini berada dirumah sakit dengan antigen positif. Sudah tiga hari mengalami batuk, sesak dan badan panas, sudah dua hari dan kondisi memburuk, keadaannya sama yang terjadi, dibutuhkan ICU tetapi dalam kondisi penuh, Pak Lik akhirnya pun tercatat sebagai salah satu korban pandemi. Kejadian terus beruntun kehilangan saudara, teman dekat dan orang-orang yang disayang.
Pagi setelah pemakaman ibunya, Rina kembali panik, sejak semalam setelah pemakaman Ibunya, Bapaknya panas, batuk dan sesak, karena masih trauma, di bawa ke rumah sakit kota, disana juga penuh, tidak bisa masuk ruangan.
"Om dokter" terdengar suara isak tangisan diseberang telepon.
"Kenapa Rin" agak cemas menunggu jawaban.
"Bapak, sejak semalam setelah pemakaman Ibu terus batuk, sesak dan panas, sekarang dirumah sakit kota, tetapi tidak bisa masuk dan sekarang saturasinya 80"
Hati dokter Wignyo semakin kacau, pasien sudah dirumah sakit lain, kebetulan ICU saat dia menerima telepon bed ICU masih kosong satu, pasien bed 2 meninggal 30 menit yang lalu dan belum ada antrian.
Melalui proses yang rumit, akhirnya bisa dipindahkan dan masuk ICU bed 2. Pasien tampak dalam kondisi yang buruk, gelisah, dipasang NIV alat bantu nafas yang terkoneksi ke mesin ventilator, tidak mau, dipasang peralatan lainnya tidak mau, seperti inilah kadang pasien kalau sudah berada dalam kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen yang dalam pada otaknya. Ini salah satu efek yang ditimbulkan oleh covid-19. Setelah hari kelima perawatan diapun tidak kuat dan menyusul istri tercinta memenuhi panggilan Tuhannya.
to be....
by goens GN
Komentar(0)
Tinggalkan komentar