BELUM USAI
Ada yang Terlupa
Apa sih artinya lupa ? sejak lahir aku selalu menikmatinya, selalu ada tanpa aku minta, selalu kurasa disaat mata menyapa, selalu setia dikala bantal telah tertata, selalu hadir dikala duka, tapi aku tidak mengenal siapa dia.
Hadirmu bagaikan sulap yang seharusnya ada, tidak berpikir mengapa aku membutuhkan dia, semua akan terasa gelap pengap tanpa dia, tetapi kutetap belum menyadarinya siapa dia
Tuhan penuh rahmat dan bijaksana
Mencipta makhluk dengan kebutuhannya
Oksigen itu mungkin maksudnya
Barang tak terlihat, juga tak terasa
Kehadiranmu begitu nyata
Sayang selama ini aku melupakannya
Siapa yang telah memberikannya
Pandemi ini sebuah pembelajaran
Kala banyak orang tepar, karena hembusan
Hembusan yang selama ini kita lupakan
Oksigen yang langka di pasaran
Berebut cuan, barang pun disimpan
Hati keras, tak melihat insan
Korban pandemi terus berjatuhan
Mahalnya oksigen baru kita rasakan
Berapa hutang kita selalu mendapatkan gratisan
Tuhan Maha Pemurah yang selalu kita lupakan
Pandemi itu banyak memberikan pelajaran kisah, ketika korban berjatuhan, dengan ditumpuk kekosongan oksigen yang dibutuhkan, berebut untuk mendapatkan, dengan harga mahal siap berapun akan dibayarkan. Bos besar dalam kisah kematian, pengusaha oksigen meninggal karena kekosongan, barang yang seharusnya mudah untuk didapatkan, semua lupakan Tuhan, Dialah maha kuasa tak terkalahkan, walau kita telah berusaha kuat, merebut hak, menebar serakah, kalau takdir telah tertuliskan, siapapun tak akan bisa merubah, kecuali Tuhan berkehendak mengubah sesuai dengan harapan.
Dika terus merenungkan dirinya, mengapa selama ini, kita yang mengaku sebagai insan yang beriman, tetapi sejatinya kita sering melupakan Tuhan, mensyukuri nikmat melimpah yang telah diberikan, oksigen 20% standar manusia bisa hidup yang tersebar dialam raya, dengan mudah kita hirup gratis tanpa harus membayar dengan uang, hanya perlu bayarlah dengan mensyukuri siapa yang telah menciptakan, siapa yang telah menganugerahkan, hanya satu, ya Tuhan pencipta semesta alam.
STETOSCOPE
Dika berpikir kembali, salah satu atribut yang begitu khas bagi seorang dokter, bergelantungnya sebuah benda di leher dengan salah satu ujungnya bundar dan di salah satu ujungnya lagi bercabang dua, kadang yang bercabang dua ini ditaruhkan dikedua telinga dokter dan salah satu ujungnya yang bundar diletakkan di dada atau perut pasien, inilah yang disebut stetoskop. Alat bantu untuk memeriksa denyut jantung, paru maupun isi perut pasien. Stetoskop ini ditemukan René Laennec, seorang dokter Perancis pada tahun 1816, dengan alat ini, banyak manusia terbantukan kesembuhannya oleh dokter, seketika mengingat ini, Dika segera mengambil pena kebiasaannya, segera menulis dibuku yang telah kusut, yang dia bawa sejak SMA.
Stetoskope, sebuah bukti
Manusia tak bisa menyombongkan diri
Menyebut ahli dari segala ahli
Bukan perkara penyakit yang tersembunyi
Telah terdiagnosa untuk diterapi
Stetoskop, sebuah makna
Manusia tidak bisa terlalu berbangga
Itu semua karena saya
Kalau tidak, dia akan mati merana
Tetapi kalian lupa,
Sejatinya siapa yang tiada duanya
Tuhan maha bijaksana
Menyentil umat dari kekurangannya
Agar bersyukur dan mengenal Tuhannya
Tetapi ada-ada saja perilakunya
Mengaku hebat atau dia lupa
Siapa yang telah menunjukkannya.
Stetoskop telah memberikan kemudahan bagi dokter untuk mendiagnosa sebuah penyakit, mungkin kalian akan bertanya, sebenarnya apa sih yang terdengar dan bagaimana bunyinya. Itu bukanlah rahasia, karena itulah sekelompok co ass anestesi Dika bersama temannya ingin mengenal lebih jauh, dengan belajar-belajar, stetoscope ini menunjukkan manusia itu apa, ini sebuah jalan membuat sebuah keyakinan bahwa Tuhan Maha Besar dan Sempurna.
Belum usai
Perjuangan itu masih panjang, banyak cerita yang bisa kita lukis untuk bisa dikenang, segala lelah duka itu sebuah awal, perjalanan itu masih terjal, haruskah kita duduk menangis ?, boleh saja bila diperlukan tetapi bukan untuk membuat cerita ini menjadi berakhir.
Seperti biasanya sepulang kegiatan, sekelompok lima sekawan co ass ini sering melepas lelah, duduk berlima dikantin dan kadang memesan kopi di D’Bius Kosim cafe, yang berada di sebelah kantin.
“Dik, lama nih tidak meliat dia” Bowo berkeluh kesah, yang diajak bicara malah dengan santai seolah tidak mendengar, “Sudah cukup gulanya, Sar” dengan tersenyum, saat Sari menuangkan gula di gelas kopinya Dika, “Yah, nanti kalau kurang manis, kamu bisa lihat aku” Sari tersenyum memandang Dika.
Seketika Bowo ditepuk punggungnya, dengan segulungan kertas catatan pasien milik Phylia, “Kasihan dikacangin.....wakakakakakak, memang si Dia siapa, Tika yah....kejar dong jangan hanya menunggu dia nongol di kantin”,
Dika pun kaget dengan teriakan phylia barusan, “Sorry Wo, kamu tadi ngomong sama aku yah”, Bowo hanya menggaruk kepalanya yang sedang tidak gatal.
“Eh, lu Phyl.....gimana kabel telpon kostmu sudah bener belum?,” Bowo tidak menanggapi Dika malah memberikan teka-teki kepada Phylia,
“Maksudmu apa, emang aku tukang kabel telpon, lagian emang kabel telpon kostku sedang rusak?” dia kebingungan dengan apa yang dibicarakan Bowo.
“Ya elah, bukanya kamu sedang menunggu kabar dia yang belum nyampai-nyampai” dengan wajah menggoda Phylia, dan yang lain menjadi tertawa bersama. “Oh dasar dung-dung, kamu Wo”
“Wan, gimana ceritanya dia, masih buntu atau sudah ada jalan alternatif” Dika mencoba kembali , Wawan belum memberikan jawaban, tetapi Phylia sudah siap-siap,”Ini Dika pasti akan mengarahkan pembicaraanya ke arah aku nih”.
“Tahu ah, kayaknya makin berat”
“Kalau aku bilang sih, sudahlah.....hadepin yang ada saja” kata Bowo
“Eh dung-dung, maksudmu apaan hah !”
“Kalau aku sih, terserah, apa mau dia sama aku” Wawan menjawab sambil melirik Phylia, yang dilirik pura-pura nda melihat, “Apaan sih, orang kok nda ada ketegasan, kalau mau kejar dong” saat dia melamun, malah dikagetkan dengan suara ketawa Bowo dan Dika. “Lanjuuuuuut” kata mereka serempak saling berpandangan.
(sebuah esai cerita yang belum bisa masuk di RADAR JUANG).
Komentar(0)
Tinggalkan komentar