CERITA TIGA ANAK ICU TENTANG KEMATIAN
By Igun Winarno
Sore itu ICU terasa lebih tenang dari biasanya.
Lampu-lampu
monitor tetap menyala dengan warna hijau dan kuning yang berpendar lembut.
Garis-garis EKG bergerak naik turun seperti ombak kecil di laut yang tenang.
Tidak ada alarm yang berbunyi keras.
Tidak ada panggilan darurat.
Hari
itu bulan Ramadan. Waktu berbuka baru saja lewat. Aroma teh hangat dan gorengan
yang sempat masuk ke ruang belakang samping pelayanan masih tersisa tipis di udara.
Di
area pantry pengawasan, Fifi dan Tania duduk sambil memantau layar
monitor sentral. Sesekali mereka melirik ke arah pasien melalui kaca besar ICU.
“Bed
tiga tadi sempat turun saturasinya, tapi sudah stabil lagi,” kata Tania.
Fifi mengangguk sambil menulis catatan
kecil.
Sementara
itu, di ruang santai kecil di belakang ICU, tiga orang duduk disamping meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.
Mereka
sering bercanda menyebut diri mereka sendiri sebagai “Tiga Anak ICU.”
Udjo, Rois, dan Didik.
Udjo
adalah perawat yang hampir selalu membawa suasana hidup. Celetukannya sering
membuat orang tertawa, bahkan di saat-saat yang tegang.
Rois
berbeda. Ia lebih banyak diam. Tapi kalau sudah berbicara, kalimatnya sering
terasa seperti potongan kuliah filsafat.
Didik
adalah penyeimbang. Jika Udjo terlalu bercanda dan Rois terlalu serius, Didik
biasanya menengahi.
Di
meja mereka ada tiga gelas kopi. Udjo
mengambil satu tegukan panjang. Lalu ia berkata tiba-tiba. Dengan nada yang tidak biasa.
“Broo… kalian pernah mikir nggak…” Ia berhenti sebentar.
“Bagaimana kalian mendefinisikan
kematian?”
Didik langsung menoleh. Rois meletakkan sendok kopinya perlahan. Sejenak ruangan itu menjadi lebih sunyi.
Rois menarik napas kecil.
“Ya… tergantung konteksnya,” katanya
pelan.
Matanya menatap meja. Didik kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau aku,” katanya santai, “lebih
tertarik pada proses menuju kematian.”
Udjo
tersenyum kecil. Seperti seseorang yang baru saja
melempar batu ke kolam dan menikmati riaknya.
Rois mengangkat kepalanya.
“Tapi sebelum bicara tentang
kematian,” katanya pelan, “kita harus bicara tentang kehidupan dulu.”
Udjo mengangkat alis. Didik sedikit
tersenyum, didalam hatinya berkata “Asyik nih…”
“Dalam hidup ini,” lanjut Rois, “ada
dua nikmat yang sering dilupakan manusia.”
“Apa itu?” tanya Didik.
Rois menjawab tanpa ragu.
“Nikmat penciptaan… dan nikmat
pemenuhan kebutuhan.”
Udjo langsung melongo.
“Apaan maneh kue lah, Kang…”
Didik tertawa kecil. Rois ikut tersenyum tipis.
“Begini,” katanya.
“Kita
sebenarnya ada
dari ketiadaan” dengan mimik serius,
sambil Ia mengambil ponselnya, lalu membaca
sebuah ayat.
Udjo semakin melongo,
seandainya ada lalat terbang, bisa dipastikan masuk menyusuri bau aroma mulut
seorang sehabis puasa, bau yang harum nantinya di surga.
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu
waktu dari masa, ketika dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”
Ia lalu berkata,
“Itu
ada di Al-Qur'an, tepatnya Surah Al-Insan ayat pertama.”
Didik dan Udjo diam mendengarkan.
“Maknanya sederhana,” lanjut Rois.
“Dulu
manusia tidak ada sama sekali. Tidak punya nama. Tidak punya bentuk.”
“Lalu Allah menciptakan manusia dari
ketiadaan.”
“Itulah nikmat pertama.”
Udjo mulai mengangguk-angguk.
Rois melanjutkan.
“Setelah
manusia diciptakan… Allah tidak membiarkannya begitu saja.”
“Dia memberi manusia udara untuk
bernafas.”
“Memberi makanan.”
“Memberi keluarga.”
“Memberi kehidupan.”
“Itulah nikmat kedua.”
Didik menatap lantai.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“sebenarnya sebelum kita bicara tentang kematian… kita harus bertanya dulu.”
“Sudahkah kita mensyukuri dua nikmat
itu?”
Udjo mengelus dagunya.
“Yayayayay… iya juga ya.”
Suasana kembali sunyi.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar
bunyi monitor pendek.
Bip.
Bip.
Bip.
Tidak
keras. Tapi cukup untuk mengingatkan bahwa kehidupan di ICU selalu berjalan di
antara garis tipis.
Didik kemudian berkata santai.
“Tapi tetap saja…”
Ia menatap kedua temannya.
“Setelah semua ini… kita pasti mati.”
Udjo langsung mengangkat kedua
tangannya.
“Nah itu dia.”
Rois mengangguk.
“Benar.”
“Kita semua akan mati, sebagaimana dari
ketiadaan tadi, kemuadian dibentuk dari tanah liat, lebih liat membentuk udjud,
setelah membentuk sempurna…ditiupkanlah roh untuk Dia bisa menjalani kehidupan”
Ia melanjutkan dengan suara yang lebih
pelan. “Kemudian..”
Diam sejenak semunya,”Ada
awal, akan ada akhir, disaat roh itu ditarik kembali, disitulah kematian itu
datang”
Semua terdiam sejenak,
Udjo dan Didik benar-benar tidak mempunyai kemampuan untuk menyela, karena
membayangkan diri masing-masing dikala ditarik rohnya.
“Dan
semoga kematian itu membawa bekal yang cukup untuk menghadap Tuhan kita. Semoga Kita Masuk
Surga”
Entah apa apa yang
masuk kedalam dirinya, Udjo tiba-tiba
duduk tegak.
“Tapi kalau masuk surga bukan cuma
jadi orang baik, loh.”
Didik menatapnya heran.
“Lho, maksudmu?”
Udjo
tersenyum seperti baru saja menemukan kartu kemenangan untuk dapat semangat
kembali.
“Kita harus pegang kuncinya juga.”
“Kunci apa?” tanya Didik.
Udjo menjawab dengan penuh semangat.
“Kalimat tauhid.”
Ia berkata,
“Barang
siapa yang akhir ucapannya La ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”
Didik mengangguk.
“Iya… itu hadis.”
Rois tersenyum.
“Tapi kamu tahu nggak, Djo…”
Udjo menatapnya.
“Ketika Nabi Muhammad SAW menjelang
wafat, beliau mengucapkan apa?”
Udjo langsung menggaruk kepala.
“Lha… aku ora ngerti, ya semestinya
kalimat tauhid itu.”
Rois tertawa kecil.
“Nah kan…”
Ia lalu berkata pelan.
“Beliau mengucapkan… Allahumma
ar-Rafiq al-A’la.”
Didik mengulang pelan.
“Ya Allah… aku memilih teman yang
paling tinggi.”
Rois mengangguk.
“Itu menunjukkan kerinduan Nabi kepada
Allah.”
Ia kemudian menambahkan.
“Para
ulama menjelaskan bahwa walau Nabi tidak mengucapkan kalimat tauhid, untuk
umat yang paling utama memang kalimat La
ilaha illallah.”
“Tapi selama hati kita mengingat
Allah… itu juga baik.”
“Subhanallah.”
“Astaghfirullah.”
“Atau bahkan hanya menyebut… Allah.”
Ia
sempat menyebut penjelasan dari Gus Baha,
yang sering menjelaskan makna tauhid dengan pendekatan yang luas.
Setelah itu…
Tidak ada yang berbicara lagi.
Udjo menatap sisa kopinya.
Didik melihat tangannya sendiri.
Rois menatap ke arah jendela kecil di
sudut ruangan.
Dalam
pekerjaan mereka… Kematian bukan hal asing. Mereka sudah melihat terlalu banyak.
Pasien yang datang dengan harapan. Pasien yang pulang dengan senyum.
Dan pasien yang pulang dengan kain
putih.
Dalam
keheningan itu, setiap orang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Selama umur ini berjalan…
Sudah
berapa banyak jalan kebaikan yang telah mereka lalui?
Dan…
Berapa
banyak dosa yang telah mereka kumpulkan?
Tiba-tiba pintu terbuka.
Fifi muncul.
“Mas Rois… pasien bed tiga sudah
sadar.”
Rois langsung berdiri.
Didik ikut bangkit.
Udjo meneguk sisa kopinya sampai
habis.
Ia berdiri sambil berkata ringan.
“Yuk… kembali ke dunia.”
Mereka berjalan keluar dari ruang
santai. Kembali ke ICU.
Kembali menjaga kehidupan.
Di antara suara monitor…
Dan napas mesin ventilator.
Sambil diam-diam menyadari satu hal.
Suatu hari nanti…
Mereka juga akan melewati pintu yang
sama.
Pintu yang selama ini mereka jaga.
Pintu yang bernama…
Kematian.
Sudah Siapkah Kiat?
“Setiap langkah kita sedang mendekati
kematian. Maka persiapkanlah diri bukan dengan ketakutan, tetapi dengan iman
yang kuat dan kebaikan yang terus mengalir.”
Taufiq on 2026-03-08 14:39:11
Hiks..masih jauh dari rolemodel.FaMa on 2026-03-08 14:56:01
Boleh neh besok..????Dwi ra on 2026-03-08 15:41:15
Mumet dok..