on 25 Maret 2026, 11:38
  • #cerpen #igunwinarno #mamake

Sebuah cerpen

Hari kelima setelah lebaran, ketika sebagian orang perlahan beranjak dari riuh silaturahmi dan kembali menuju hiruk pikuk dunia nyata, pagi ini aku justru memilih sunyi.

Malam sebelumnya, aku duduk dalam tahajudku—lama, lebih lama dari biasanya. Sujud terasa berbeda. Ada getar yang tak biasa, seolah hati sedang disentuh oleh sesuatu yang tak kasat. Doa-doa mengalir, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan seperti yang ditarik pelan dari kedalaman jiwa yang paling sunyi.

Aku berdoa banyak malam itu. Tentang hidup. Tentang waktu. Tentang orang-orang yang diam-diam menjadi alasan aku tetap kuat. Entah kenapa, di antara sekian banyak yang ku sebut dalam doa, satu nama berulang kali muncul, seperti gema yang tak mau hilang, mamake.

Sejak kemarin, rindu itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras, tidak juga menghentak. Ia datang perlahan, tapi menetap. Mengisi ruang-ruang kosong yang sebelumnya tidak aku sadari ada. Rindu yang sederhana, tapi dalam. Rindu yang tidak bisa diwakilkan oleh pesan singkat atau sekadar panggilan telepon.

Seusai tahajud, aku lanjutkan dengan sholat subuh. Ada ketenangan yang aneh. Seperti hidup ini sedang diberi jeda untuk aku mengerti sesuatu. Wirid yang biasanya hanya menjadi rutinitas, pagi itu terasa seperti percakapan yang sangat pribadi dengan Tuhan. Dalam setiap tasbih, tahmid, dan takbir, ada rasa syukur yang perlahan tumbuh, tapi di saat yang sama, ada ruang rindu yang semakin melebar.

Dan lagi-lagi, mamake hadir di sana.

Ketika mentari mulai menampakkan dirinya dalam remang pagi, aku memutuskan sesuatu yang sebenarnya sederhana: aku ingin bertemu mamake.

Perjalanan itu aku tempuh dengan motor, menyusuri jalan kecil yang membelah persawahan. Udara pagi masih dingin, embun masih setia di ujung daun padi, dan suara alam terdengar begitu jujur. Tidak ada yang dibuat-buat. Semua apa adanya. Seperti perasaan yang sedang aku rasakan.

Hari kelima setelah lebaran. Aku membayangkan rumah mamake pasti sudah kembali sunyi. Tidak ada lagi tawa anak-anak dan cucu yang beberapa hari lalu memenuhi setiap sudut rumahnya. Tidak ada lagi suara riuh dapur yang sibuk menyiapkan hidangan. Semua telah kembali ke kehidupan masing-masing.

Dan mamake… mungkin kembali pada sunyinya.

Pikiran itu membuat langkahku terasa lebih cepat. Entah karena rindu, atau karena ada rasa takut—takut kehilangan waktu yang mungkin tanpa sadar terus berkurang.

Sesampainya di depan rumah, aku mematikan motor dan menyandarkannya pelan. Ada jeda sesaat sebelum aku melangkah. Seperti ingin memastikan bahwa momen ini benar-benar nyata.

Namun sebelum aku sempat mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka.

Mamake muncul dari baliknya.

Wajahnya sama seperti yang selalu aku ingat. Tenang. Teduh. Ada garis-garis usia yang semakin jelas, tapi justru di situlah letak keindahannya. Wajah yang telah melewati begitu banyak hal, tapi tetap menyimpan kelembutan yang sama.

“Assalamu’alaikum, Mak…”
Suaraku terasa sedikit tertahan.

“Wa’alaikumussalam… loh, kok pagi-pagi sudah ke sini… apa tidak kerja?”

Salam dan pertanyaan itu—yang hampir selalu sama—seolah menjadi pengingat halus tentang hidup yang harus tetap lurus, tetap tertib, tidak melanggar aturan. Begitulah beliau. Sederhana dalam kata, tapi dalam maknanya.

Senyumnya tidak pernah berubah. Hangat, tenang, dan menenangkan. Cukup untuk membuat semua rindu yang kubawa sepanjang jalan perlahan menemukan tempatnya, lalu diam… di hadapannya.

Aku membawa sebungkus bubur ayam—makanan yang sederhana, tapi aku tahu itu salah satu kesukaan beliau. Tidak istimewa, tapi penuh niat.

Kami duduk berdua. Tidak ada suasana yang dibuat-buat. Hanya dua orang yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Toples-toples lebaran masih tersusun di meja. Isinya sudah tidak penuh lagi. Beberapa tinggal setengah, bahkan ada yang hampir kosong. Tapi justru di situlah cerita itu terasa.

Toples-toples itu seperti saksi bahwa rumah ini beberapa hari lalu penuh kehidupan.

Kami mulai mengobrol.

Tentang lebaran yang baru saja berlalu. Tentang siapa saja yang datang. Tentang cucu-cucu yang kemarin berlarian di ruang tamu. Mamake bercerita dengan pelan, sesekali tersenyum sendiri, seolah sedang memutar ulang potongan-potongan kebahagiaan itu di dalam ingatannya.

“Ramai kemarin… alhamdulillah… semua pada kumpul…”

Kalimat itu sederhana, tapi aku menangkap sesuatu di baliknya. Ada bahagia, tapi juga ada sepi yang diam-diam menyusul setelahnya.

Kami lalu terdiam sejenak. Bukan karena kehabisan bahan bicara, tapi karena ada kenyamanan dalam diam itu sendiri.

Aku memandang toples-toples itu lagi. Tiba-tiba aku teringat masa kecil.

Dulu, aku adalah bagian dari keramaian itu. Aku yang berlarian ke sana kemari. Aku yang membuka tutup toples tanpa izin. Aku yang tak pernah berhenti mengambil kue, seolah lebaran hanya tentang rasa manis yang tak boleh terlewat. Dan mamake… selalu ada di sana—mengawasi, menegur, tapi diam-diam tetap tersenyum.

“Mak… dulu aku sering dimarahin ya kalau kebanyakan makan kue…”

Mamake tertawa kecil, tawanya ringan tapi penuh kenangan.
“Iya… tapi tetap diambil lagi kan… gorengan aja bisa habis setoples…”

Kami tertawa bersama. Tawa yang sederhana, tapi terasa hangat, seperti menghidupkan kembali potongan masa lalu yang sempat tertinggal.

Dan di situlah obrolan perlahan berubah arah.

Kami mulai bicara tentang masa lalu. Tentang masa kecil yang dulu terasa biasa saja, bahkan mungkin tak sempat disyukuri, tapi kini menjelma menjadi kenangan yang begitu berharga. Kenangan yang tidak bisa diulang, hanya bisa dikenang… dan dirindukan.

Mamake bercerita tentang aku yang dulu. Nakal, katanya. Tidak bisa diam. Selalu saja ada ulah yang membuat repot. Tapi di balik cerita-cerita itu, aku tidak hanya mendengar kenakalan—aku mendengar cinta yang tidak pernah berkurang, bahkan mungkin tak pernah berubah sejak dulu.

Aku memilih diam. Tidak memotong, tidak menyela. Aku hanya ingin mendengarkan. Menyimpan setiap kata, setiap jeda, setiap nada suara beliau… seolah aku sedang mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan yang suatu hari nanti akan sangat aku rindukan.

Lalu obrolan kami bergeser pelan… menuju harapan.

“Yang penting sehat ya… Rafi, Apta sudah gede, dijaga… hidup itu sederhana… yang penting bisa menjalani… yang rukun, jangan pada ributan…”

Kalimat itu terdengar begitu biasa. Sederhana. Tanpa susunan kata yang rumit.
Namun ketika keluar dari bibir mamake, ia menjadi dalam… seolah membawa seluruh pengalaman hidup yang telah beliau lewati, lalu diserahkan pelan sebagai bekal untukku melangkah.

Aku memandang wajahnya. Tenang. Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Seolah hidup telah ia terima sepenuhnya—apa pun yang datang, dan apa pun yang perlahan pergi.

Dan di situlah aku sadar, usia bukanlah tentang angka. Bukan tentang tua atau muda. Tapi tentang bagaimana seseorang menjalani hidupnya—dengan lapang atau dengan keluh, dengan syukur atau dengan sesal.

Kadang kami hanya saling diam. Tidak ada kata, tapi penuh makna. Masing-masing larut dalam bayangan dan cerita yang mungkin tidak pernah sepenuhnya terucap. Di dalam diam itu, hadir satu sosok yang kini hanya tinggal kenangan—Bapak. Namanya tak banyak disebut, tapi terasa begitu dekat… hadir dalam doa-doa yang tak pernah putus.

Pelan, mamake berpesan, “Jangan lupakan doa untuk Bapak… karena hidupmu juga ada bagian darinya.”

Kalimat itu sederhana, tapi menancap dalam. Mengingatkanku bahwa hidup ini bukan hanya tentang yang masih ada di hadapan mata, tapi juga tentang mereka yang telah lebih dulu pergi—yang tetap hidup, dalam doa dan dalam jejak yang kita jalani.

Waktu terasa berjalan begitu cepat.

Tanpa terasa, pagi perlahan beranjak siang. Cahaya yang tadi lembut kini mulai terang, seolah mengingatkanku bahwa ada kehidupan lain yang menunggu untuk dijalani, ada tanggung jawab yang tak bisa ditunda.

Aku berdiri, sedikit enggan, tapi harus.

“Mak… aku pamit ya…”

Mamake hanya mengangguk. Tidak menahan. Tidak meminta lebih. Seperti biasa—membiarkan, tapi tetap mendoakan dalam diam.

Aku menyalami tangannya. Hangatnya masih sama. Hangat yang tidak hanya terasa di kulit, tapi meresap sampai ke dalam hati.
Sebenarnya… ada cerita lain di sini. Cerita yang mungkin tak sempat terucap. Tapi biarlah, semoga yang tersisa dan yang akan datang hanyalah kabar-kabar baik.

Dan lagi-lagi, ada rasa yang sulit dijelaskan saat aku berbalik melangkah keluar. Seperti ada yang tertinggal… tapi tak bisa aku bawa.

Aku menaiki motor, lalu perlahan meninggalkan rumah itu.

Perjalanan kembali menyusuri jalan di tengah sawah terasa berbeda. Pemandangannya masih sama—hamparan hijau yang tenang, jalan kecil yang akrab, udara pagi yang jujur—namun perasaanku tidak lagi sama. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di belakang, sesuatu yang tak kasat, tapi terasa begitu nyata.

Wajah mamake terus terbayang. Wajah seorang wanita tua yang tenang. Wajah yang menyimpan begitu banyak cerita, begitu banyak luka yang mungkin tak pernah diceritakan, dan cinta yang selalu hadir tanpa banyak kata.

Aku berpikir… hidup ini memang tidak bergantung pada usia. Bukan tentang tua atau muda. Tapi tentang bagaimana kita menghargai setiap pertemuan yang Allah titipkan. Tentang bagaimana kita hadir sepenuhnya, sebelum waktu diam-diam mengambil kesempatan itu kembali.

Karena pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan…
tetapi kesempatan yang tidak kita gunakan dengan baik.

Angin pagi masih terasa sejuk. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, hanya seberkas cahaya yang perlahan menyibak langit, seperti harapan yang muncul pelan-pelan dari balik doa.

Dan di dalam hati, ada satu ruang yang tetap terisi—sebuah doa yang sederhana, tapi penuh harap.

Ya Allah…
jika Engkau masih memberi waktu…

Pertemukan kami kembali di lebaran tahun depan.
Dalam keadaan yang lebih baik.
Dalam kebahagiaan yang lebih utuh.

Dan dalam kesempatan untuk kembali duduk berdua…
bersama mamake, dan keluarga.

=gn=

 

Komentar(3)

Mbayumu on 2026-03-25 13:07:22

Berikan kesehan dan usia yg berkah un Mamake

Penulis on 2026-03-25 13:19:51

@mbakyumu... aamiin

Wiji Astuti on 2026-03-25 13:07:24

Goresan yang penuh makna,penuh kenangan, pesan moral dari Mbah Mama ...hidup rukun, saling bersilaturahmi, saling menyayangi, doakan sll kedua orang tua. Kereen om igun.

Tinggalkan komentar