on 19 Maret 2026, 05:47
  • #ramadhanyangdirindukan #igunwinarno #buku_buku_igun

SAHABAT DARI GENDANG MULYO

Pagi itu, selepas sholat Subuh, Fakhrudin, Hafid, Dokter Fadli, Agus, dan Dian duduk santai di teras rumah sakit sebelum memulai aktivitas mereka. Udara pagi masih terasa sejuk, sementara kicau burung menambah ketenangan suasana. Mereka menikmati momen langka ini—berbincang santai sebelum kesibukan kembali menyita waktu dan perhatian.

Obrolan mereka perlahan mengalir menuju kenangan masa kecil di kampung halaman: Gendang Mulyo.

“Kalian masih ingat nggak, dulu kita sering main bola di lapangan dekat masjid? Dian malah sering jadi wasitnya,” kata Agus sambil tersenyum mengenang masa lalu.

Hafid tertawa kecil. “Iya, dan kalau ada yang nggak setuju sama keputusan wasit, pasti langsung ribut. Tapi besoknya tetap saja kita main bareng lagi.”

Dokter Fadli mengangguk pelan. “Gendang Mulyo memang tempat yang membentuk kita seperti sekarang ini. Bukan cuma tentang permainan dan persahabatan, tapi juga pelajaran hidup yang kita dapatkan di sana—terutama dari guru kita, Bapak Darmadji.”

Masa kecil mereka di Gendang Mulyo dipenuhi kebersamaan. Sejak kecil mereka berada di kelas yang sama di sekolah dasar desa itu. Setiap pulang sekolah, mereka hampir selalu bermain bola di lapangan desa hingga matahari mulai condong ke barat.

Dian yang sering dipercaya menjadi wasit selalu berusaha adil memimpin permainan, meskipun tak jarang harus menghadapi protes dari teman-temannya.

Menjelang sore, mereka bergegas pulang untuk membersihkan diri, lalu bersiap menuju Masjid Al-Ikhlas untuk mengaji. Di masjid itulah mereka belajar banyak hal. Bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga berdiskusi tentang kehidupan dan nilai-nilai agama.

Bapak Darmadji, guru mengaji mereka, selalu membuka ruang diskusi yang hangat dan mendalam bagi murid-muridnya.

“Pak Darmadji selalu bilang, puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga hati dan pikiran,” ujar Dian mengenang salah satu nasihat gurunya.

“Aku masih ingat pertanyaan Agus waktu itu,” kata Fakhrudin sambil menoleh ke arah temannya.

“Pak, kalau sudah tua, seperti kakek saya, apakah masih harus puasa?”

Agus tertawa kecil. “Iya, dan jawaban Pak Darmadji waktu itu benar-benar membekas. Beliau bilang, selama masih mampu, puasa adalah latihan bagi hati. Semakin tua seseorang, semakin banyak godaan kehidupan yang dihadapi. Tetapi pada saat yang sama, semakin besar pula kesempatan untuk meraih ketakwaan.”

“Benar,” timpal Hafid. “Puasa itu melatih kita menahan diri, menjaga hati, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Makanya Pak Ahmad, orang tertua di kampung kita, tetap berpuasa meski sudah sepuh. Semangatnya luar biasa.”

Dokter Fadli mengangguk setuju.

“Aku juga ingat, Pak Darmadji selalu mengajarkan bahwa ibadah itu bukan sekadar kewajiban, tetapi juga jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, waktu kecil kita sering berdiskusi tentang hal-hal seperti ini.”

“Iya,” tambah Dian, “dan kita juga diajarkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Termasuk dalam puasa, sholat, dan ibadah lainnya. Mungkin itulah yang membuat kita tetap berpegang pada nilai-nilai agama sampai sekarang.”

Obrolan mereka semakin hangat. Kenangan masa kecil di Gendang Mulyo kembali hadir dalam ingatan mereka—mengingatkan tentang kebersamaan, pelajaran hidup, dan nilai-nilai yang telah membentuk diri mereka hingga menjadi seperti sekarang.

Pagi itu, sebelum memulai rutinitas di rumah sakit, mereka seakan kembali mengingat akar kehidupan mereka: sebuah desa sederhana yang penuh dengan nilai persahabatan, kehangatan, dan ajaran agama yang kuat.

Seiring waktu berlalu, perjalanan Fakhrudin, Agus, Hafid, Dian, dan Fadli berlanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Gendang Mulyo telah membentuk karakter mereka—desa kecil yang menanamkan mimpi, semangat, dan keyakinan untuk meraih masa depan.

Ketika memasuki masa SMA, mereka mulai menghadapi berbagai pilihan hidup. Persahabatan mereka tetap erat, meskipun masing-masing mulai memiliki mimpi dan jalan yang berbeda.

Suatu sore, di sebuah warung kecil dekat sekolah, mereka berkumpul seperti biasa setelah pulang sekolah.

“Aku ingin jadi perawat,” ujar Fakhrudin dengan mantap.

“Aku ingin membantu orang yang sakit dan membutuhkan pertolongan.”

Agus mengangguk setuju. “Aku juga. Rasanya ada kepuasan tersendiri kalau bisa merawat pasien dan melihat mereka sembuh.”

Hafid tersenyum. “Kebetulan aku juga ingin masuk sekolah keperawatan. Aku ingin bekerja di rumah sakit suatu hari nanti.”

Dian yang sejak kecil dikenal penuh empati ikut menimpali, “Aku ingin masuk sekolah kebidanan. Rasanya pasti membahagiakan kalau bisa membantu seorang ibu melahirkan bayi dengan selamat.”

Mereka kemudian menoleh ke Fadli, yang sejak dulu dikenal paling tekun belajar.

Fadli tersenyum pelan. “Aku ingin masuk fakultas kedokteran. Sejak kecil aku bermimpi menjadi dokter dan menolong banyak orang. Jalannya memang tidak mudah, tapi aku ingin mencobanya.”

Percakapan sore itu menjadi momen yang berharga. Mereka saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Meskipun jalan yang akan mereka tempuh berbeda, tujuan mereka tetap sama: mengabdikan diri di dunia kesehatan untuk membantu sesama.

Tahun-tahun pun berlalu. Fakhrudin, Agus, dan Hafid akhirnya diterima di sekolah keperawatan. Dian berhasil masuk sekolah kebidanan, sementara Fadli dengan tekad kuatnya diterima di fakultas kedokteran.

Meskipun terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing, mereka tetap menjaga komunikasi. Setiap kali pulang ke Gendang Mulyo, mereka hampir selalu berkumpul di Masjid Al-Ikhlas—tempat mereka dulu mengaji bersama Bapak Darmadji.

Di tempat itu mereka sering mengenang masa kecil dengan tawa dan rasa syukur. Gendang Mulyo bukan sekadar desa kelahiran bagi mereka. Desa itu adalah saksi perjalanan panjang persahabatan, mimpi, dan perjuangan mereka.

Kini, setelah bertahun-tahun belajar dan berjuang, satu per satu mimpi mereka mulai terwujud. Mereka menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berusaha menjaga keikhlasan dalam membantu sesama.

Setelah lulus dari pendidikan masing-masing, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Fakhrudin, Agus, dan Hafid bekerja sebagai perawat di berbagai rumah sakit sebelum akhirnya kembali ke daerah asal mereka. Dian yang menempuh pendidikan kebidanan sempat bertugas di kota lain, sementara Fadli yang menjalani pendidikan kedokteran harus melewati perjalanan panjang di perantauan sebelum akhirnya menjadi dokter.

Namun takdir rupanya memiliki rencana lain. Beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan di tempat yang sama—Rumah Sakit Daerah Banjaran, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa Gendang Mulyo.

Suatu hari, di ruang istirahat tenaga medis, mereka berkumpul setelah menyelesaikan tugas pagi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, hanya saja kini mereka bukan lagi anak-anak yang bermain bola di lapangan desa atau mengaji di masjid.

Kini mereka adalah tenaga kesehatan yang berjuang bersama di dunia pelayanan medis. “Siapa sangka kita bakal kerja bareng di rumah sakit yang dekat dengan kampung sendiri?” ujar Hafid sambil menyandarkan punggung di kursi.

Agus tertawa kecil. “Dulu kita cuma anak desa yang main layangan di sawah. Sekarang malah jadi bagian dari tim medis di sini.”

Fakhrudin mengangguk pelan. “Kadang aku merasa seperti mimpi. Dulu kita sering mendiskusikan masa depan di serambi masjid, sekarang kita benar-benar menjalani peran kita di masyarakat.”

Dian yang duduk di sebelahnya ikut menimpali. “Bahkan Pak Darmadji dulu sering berkata, ‘Jangan pernah takut bercita-cita tinggi. Kalau niatnya baik dan usahanya sungguh-sungguh, pasti ada jalannya.’ Dan lihat sekarang, kita semua kembali ke daerah ini dengan membawa ilmu dan pengalaman.”

Fadli tersenyum sambil melipat tangan di dada. “Aku rasa ini memang takdir. Kita tumbuh di tempat yang sama, menimba ilmu di tempat yang berbeda, lalu kembali untuk mengabdi di tanah sendiri.”

“Iya,” tambah Hafid dengan nada lebih serius. “Sekarang tanggung jawab kita jauh lebih besar. Pasien yang kita rawat bukan lagi orang-orang asing. Bisa saja mereka tetangga kita, saudara kita, bahkan guru-guru kita dulu.”

Dian menghela napas pelan. “Benar. Ada perasaan yang berbeda saat kita merawat pasien yang kita kenal. Rasanya lebih personal, lebih dari sekadar pekerjaan. Kita benar-benar ingin membantu mereka.”

Percakapan mereka mengalir dalam suasana hangat, dipenuhi nostalgia dan refleksi perjalanan hidup. Masa kecil di Gendang Mulyo telah membentuk karakter dan semangat mereka. Kini mereka kembali, bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar mereka.

Gendang Mulyo adalah kampung yang syahdu. Kehidupan di sana selalu berjalan dalam kerukunan dan semangat silaturahmi. Di setiap sudut kampung, wajah-wajah ramah saling menyapa dengan senyuman.

Kehangatan itu tak lepas dari bimbingan Guru Darmadji—sosok yang tak pernah lelah mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik, baik dengan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta.

Di Rumah Sakit Daerah Banjaran, tempat mereka kini bekerja, suasana tentu berbeda dengan kampung halaman mereka. Namun nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil tetap melekat kuat dalam diri mereka.

Suatu pagi, setelah menyelesaikan tugas, Fadli, Hafid, dan Agus duduk di kantin rumah sakit. Mereka menikmati secangkir kopi hangat sambil berbincang santai.

“Kadang aku rindu suasana kampung,” ujar Hafid sambil menyeruput kopinya.

“Dulu setiap pagi kita duduk di serambi masjid setelah Subuh, mendengarkan Guru Darmadji memberi nasihat.”

Agus mengangguk. “Iya. Beliau selalu mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi. Katanya, umur dan rezeki seseorang bisa bertambah jika rajin menyambung tali persaudaraan.”

Tiba-tiba Dian datang ke kantin dengan senyum khasnya. “Eh, kalian asyik ngobrol apa?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di antara mereka.

“Kami sedang nostalgia tentang kampung dan pesan-pesan Guru Darmadji,” jawab Fadli. “Kebetulan tadi kami membahas tentang silaturahmi.”

Dian tertawa kecil. “Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan wejangan beliau. Aku masih ingat, beliau sering mengingatkan kita untuk tidak memutus silaturahmi, meskipun kesibukan semakin banyak.”

Fadli mengangguk. “Benar. Silaturahmi punya banyak faedah. Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.’”

“Makanya kita harus tetap menjaga hubungan baik ini,” sambung Agus. “Alhamdulillah, meskipun jalan hidup kita berbeda, kita masih bisa berkumpul seperti ini.”

Percakapan mereka terus berlanjut dengan canda dan nostalgia. Mereka sadar bahwa nilai-nilai yang diajarkan Guru Darmadji bukan sekadar teori, melainkan fondasi yang membentuk pribadi mereka hingga hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja, mereka tetap berpegang pada ajaran silaturahmi, karena mereka percaya bahwa persaudaraan sejati adalah anugerah yang harus dijaga.

Obrolan semakin hangat. Sesekali terdengar tawa yang memecah suasana kantin. Hafid yang sejak tadi tampak berpikir tiba-tiba menepuk meja dengan senyum jahil.

“Eh, sebentar! Aku punya pantun nih buat kita semua.”

Semua langsung menoleh kepadanya dengan rasa penasaran. Hafid berdeham sejenak, lalu melantunkan pantunnya dengan penuh percaya diri.

Dulu kecil sering bermain seru, Sekarang bertemu di tempat yang baru, Siapa tahu nanti bertemu kembali,

Mungkin dalam ikatan yang lebih sakral lagi?

Seketika kantin dipenuhi gelak tawa.

Agus dan Fakhrudin tertawa keras, sementara Fadli hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah Dian yang langsung tersipu dan menunduk. Wajahnya memerah karena godaan halus dari pantun Hafid.

“Ah, kamu bisa saja, Hafid,” ujarnya pelan, meskipun senyumnya tak bisa disembunyikan.

Suasana yang semula penuh refleksi kini berubah menjadi ringan dan penuh canda. Tak lama kemudian mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan.

Namun momen singkat di kantin itu menjadi pengikat persahabatan mereka—mengingatkan bahwa di tengah kesibukan sebagai tenaga kesehatan, mereka tetaplah sahabat lama yang dipertemukan oleh takdir.

Dan jauh di dalam hati mereka, masing-masing tahu bahwa perjalanan ini masih panjang—penuh cerita baru yang akan mereka jalani bersama.

 =gn=

Komentar(0)

Tinggalkan komentar