on -, 00:00
  • #igunwinarno #religi #isromikroj

Makna Isra Mi’raj

Antara Logika dan Iman

Oleh: Igun Winarno

Tulisan ini saya tuliskan sebagai rangkuman dan renungan pribadi setelah mendengarkan kajian di channel YouTube pengajian Gus Baha, seorang ulama yang saya kagumi karena kedalaman ilmu dan kelapangan cara pandangnya. Dari kajian tersebut, saya kembali diingatkan bahwa banyak peristiwa besar dalam Islam—termasuk Isra Mi’raj—tidak cukup dipahami hanya dengan logika rasional, tetapi memerlukan hati yang beriman dan pikiran yang tunduk kepada kebesaran Allah. Semoga tulisan sederhana ini dapat menghadirkan manfaat, menambah keimanan, serta menjadi pengingat bagi diri saya pribadi dan pembaca sekalian. Tentu, apabila terdapat kekeliruan atau kekurangan dalam penulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Isra Mi’raj adalah sebuah perjalanan agung yang, apabila hanya didekati dengan logika rasional semata tanpa disertai iman, akan tampak sebagai peristiwa yang mustahil. Bagaimana mungkin seseorang melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hanya dalam satu malam? Namun ketika peristiwa ini dipahami dengan logika iman, semuanya menjadi terang dan masuk akal. Sebab, yang menggerakkan peristiwa ini bukan hukum fisika manusia, melainkan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala—Pemilik seluruh makhluk, Penguasa alam semesta, dan Pencipta ruang serta waktu itu sendiri. Bagi-Nya, tidak ada satu pun yang sulit atau mustahil.

Perjalanan Isra dan Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani yang sarat dengan pesan kehidupan. Peristiwa ini terjadi pada fase berat dalam dakwah Rasulullah SAW, setelah kehilangan orang-orang tercinta dan menghadapi penolakan yang menyakitkan. Seolah Allah sedang menguatkan hati hamba-Nya, bahwa setelah kesulitan selalu ada pertolongan, dan setelah ujian selalu ada kemuliaan.

Perintah utama yang kita terima dari peristiwa agung ini adalah shalat. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi fondasi kehidupan seorang mukmin. Shalat adalah tiang agama, penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya, yang harus tetap ditegakkan dalam kondisi apa pun—baik saat lapang maupun sempit, sehat maupun sakit, senang maupun gelisah. Tidak berlebihan jika shalat disebut sebagai hadiah langit bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Namun Isra Mi’raj tidak berhenti pada perintah shalat semata. Di dalamnya tersimpan banyak pelajaran kehidupan yang mendalam. Ketika Nabi SAW bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, diceritakan bahwa beliau merasakan kegembiraan dan kesedihan ketika melihat umatnya di sisi kanan dan kiri. Ini adalah simbol yang sangat kuat bahwa kehidupan manusia selalu diwarnai dua sisi: kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kelalaian. Keduanya adalah bagian dari sunnatullah yang harus kita sikapi dengan iman kepada qadha dan qadar, sambil terus berusaha memilih jalan yang diridhai Allah.

Pelajaran penting lainnya muncul ketika Nabi SAW bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam dialog tersebut, Nabi Musa berulang kali menyarankan agar Rasulullah SAW kembali memohon keringanan jumlah shalat. Sekilas, sikap ini tampak seperti perdebatan atau bahkan keras. Namun justru dari dialog inilah lahir rahmat besar bagi umat Islam: kewajiban shalat yang semula 50 waktu diringankan menjadi 5 waktu, namun dengan pahala setara 50 waktu. Sebuah bukti nyata bahwa kasih sayang Allah melampaui batas nalar manusia.

Dari sini kita belajar satu hikmah penting: jangan tergesa-gesa menilai orang lain secara negatif. Sikap yang tampak keras, berbeda, atau bahkan tidak sejalan dengan kita, belum tentu membawa keburukan. Bisa jadi, di baliknya tersimpan maslahat besar yang belum kita pahami. Kehidupan sering kali tidak langsung menampakkan maknanya.

Perbedaan sendiri adalah sunnatullah. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi pikiran dan kedalaman hati seseorang. Tidak semua yang tampak baik di hadapan kita memiliki niat yang baik di baliknya, dan tidak semua yang tampak keras berarti memiliki maksud buruk. Penilaian manusia sangat terbatas, sementara hikmah Allah selalu luas dan melampaui jangkauan akal.

Pelajaran serupa juga tergambar jelas dalam kisah perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khidir ‘alaihimas salam. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, Nabi Musa menegurnya karena menganggap perbuatan itu sebagai kesalahan. Namun di balik tindakan yang tampak merugikan tersebut, tersembunyi hikmah besar: perahu itu sengaja dirusak agar tidak dirampas oleh para perampok. Dan pada akhirnya, kebenaran pun terungkap—bahwa tidak semua yang terlihat buruk memang buruk adanya.

Dari seluruh rangkaian peristiwa Isra Mi’raj dan kisah para nabi tersebut, kita diajak untuk belajar bersikap rendah hati dalam menilai kehidupan. Tugas kita bukanlah menghakimi, melainkan meningkatkan keimanan, menjaga shalat, menghargai perbedaan, dan menahan diri dari prasangka buruk. Kita juga diajarkan untuk memperbanyak doa, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk teman, saudara, dan orang-orang di sekitar kita.

Semoga dengan kebaikan orang-orang di sekitar kita, Allah menghadirkan kebaikan pula bagi diri kita dan keluarga kita.
Allahumma aamiin.

Orang yang sedang berusaha jalan

By. Igun Winarno

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar